Raja Bau Kecut

November 24, 2017Raja Bau Kecut Tano Shirani Catholic Spirituality 0

“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan kuat akan Kulindungi” (Yehezkiel 34:16). Ini kata-kata Tuhan yang menggambarkan Diri sebagai Gembala. Uniknya, ini juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana Yesus Kristus itu adalah juga Raja Semesta Alam. Artinya, Yesus adalah raja yang bahagia sebagai seorang gembala yang bau kecut!

Mengapa Sang Raja Berbau Kecut?

Mengapa bau kecut? Yesus sungguh menghayati bahwa seorang raja punya tugas untuk menggembalakan domba-dombanya. Ia tidak hanya duduk di kursi empuk dalam ruangan ber-AC. Ia tidak hanya perintah sana, perintah sini, biar orang lain yang kerja, biar orang lain yang tangannya kotor. Ia biasa berkeringat di bawah terik matahari, dan tidak butuh asisten untuk membawakan handuk untuk menyapu keringat. Ia tidak memanfaatkan tahtanya untuk membengkakkan dompetnya, karena ia terlalu sibuk menolong orang. Ia tidak perlu repot menuntut anggaran besar, karena ia sendiri yang turun ke lapangan. Ia tidak perlu sengaja menciptakan konflik agar bisa pura-pura jadi pahlawan yang mendamaikan orang yang berkonflik, karena ia siap terjun langsung ke tengah konflik dengan risiko ikut terluka.


Mengapa bau kecut? Ia terus sibuk mencari yang hilang. Ia berlelah-lelah untuk membawa pulang yang tersesat. Ia membalut yang terluka dengan cinta. Ia sekaligus juga berperan sebagai dokter bagi yang sakit. Ia bahkan juga sekuat tenaga melindungi yang gemuk dan kuat, karena mereka inilah yang selalu jadi incaran untuk disembelih. Buku agenda-Nya selalu penuh. Mau tidak mau, raja yang secara tulus memainkan peran kepemimpinannya sebagai gembala, pasti akan selalu bau kecut.


Mengapa bau kecut? Ia tahu, servant leadership, kepemimpinan yang menghamba, bukanlah teori yang dicetak di buku-buku mahal yang laris dijual di setiap seminar dengan anggaran yang ajaib. Ini adalah soal berkeringat, berdebu, berlumpur. Ini adalah soal ikut menangis bersama yang berduka, dan tertawa bersama yang bersuka. Ini adalah soal kulit yang terkelupas, terluka, tersayat. Jangankan menyetrika, menjahitkan pakaian seragam di bengkel ahli ternama pun tak ada waktu. Lebih baik sibuk membagi-bagi agar yang miskin sedikit dilegakan. Ini adalah soal pasang badan untuk domba yang sedang punya masalah dan terancam.

Kenyataan dalam Hidup Kita Saat Ini

Sayangnya, dalam kadar berbeda-beda, masing-masing dari kita punya alergi batin. Kita punya penolakan, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak perlu berkeringat berbau kecut sibuk melayani banyak orang. Ada benih kerinduan untuk menjadi pemimpin yang selalu minta dilayani, karena memang itu terasa enak, nyaman, menentramkan hati, perut, dan kantong. Kekuatan jahat akan bisa menumpang menginap dalam diri kita dan memorak-porandakan kehendak kita. Akibatnya, kalau tidak hati-hati, kita akan terpeleset dan dengan bangga berprinsip sederhana:


Aku adalah pemimpin, dan tugasku adalah bermimpi.
Aku adalah pemimpin, dan kepentingan bawahan cukuplah disambi.
Aku adalah pemimpin, dan aku harus terjamin.


Kristus Raja Semesta Alam sungguh bau kecut. Ia bahkan dinobatkan di tahta kayu salib dengan tubuh yang bau anyir darah segar bercampur debu dan ludah banyak orang. Dan gilanya, tiap tahun kita merayakan ini, dan kita bahkan bangga punya raja segala raja yang bau kecut! Pemimpin yang bersedia bau kecut dan justru bahagia adalah barang langka. Lalu, kamu sendiri seperti apa?


Sumber: Inspire.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply