Rabu, 6 Agustus 2014: Inilah AnakKu yang Terkasih, Dengarkanlah Dia, Mat 17:1-9

Mount-Tabor by the Catholic FaithMENURUT semua agama atau aliran kepercayaan gunung adalah tempat suci, tempat para dewa, tempat turunnya wahyu, tempat ajaran para guru dsb. Awan adalah tanda bahwa ada sesuatu yang misterius. Sinar adalah tanda ilahi. Ini adalah gambaran yang lazim: Yesus menampakkan kemuliaanNya kepada para murid Nya. Namun para murid pun masih belum sadar apa yang dihadapi: […]

Mount-Tabor by the Catholic Faith

MENURUT semua agama atau aliran kepercayaan gunung adalah tempat suci, tempat para dewa, tempat turunnya wahyu, tempat ajaran para guru dsb. Awan adalah tanda bahwa ada sesuatu yang misterius. Sinar adalah tanda ilahi. Ini adalah gambaran yang lazim: Yesus menampakkan kemuliaanNya kepada para murid Nya.

Namun para murid pun masih belum sadar apa yang dihadapi: Petrus mereaksi Yesus dengan mengatakan: “Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah: satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu Elia.”

Namun tiba-tiba datanglah awan. Mereka diselimuti perasaan gaib dan mistrius. Lalu terdengar suara: Inilah AnakKu yang terkasih, dengarkanlah Dia”

Melalui tanda ajaib ini Yesus menegur para murid, agar memahami arti pnderitaan yang akan dialami oleh Yesus. Kemuliaan kebangkitan seperti yang dilihat para murid ini akan terjadi sesudah kebangkitanNya. Tetapi sekarang belum: para murid masih harus percaya dulu, bahwa melalui sengsara dan wafat itulah Yesus akan mulia.

Banyak pengikut Yesus, tetapi tidak mau mendengarkan Yesus, tetapi ikut pikiran sendiri, ikut kelompok sesat, dan ikut pemikiran yang menyenang-kan saja, menolak semua yang berbau pengorbanan atau “rekoso”, penganut teologi sukses mengajarkan: kekayaan itu berkat Tuhan. Karena orang ingin cari yang mudah, maka penderitaan ditolak, salib ditolak.

Ada banyak pengikut Kristus, tetapi pendapatnya amat sangat bertolak-belakang: Ada yang menrima Yesus tetapi tanpa tanda salib, dan Ada yang menerima Yesus tetapi tanpa Gereja. Ini merupakan gambaran bahwa mereka menolak penderitaan, pengorbanan, bahkan Ekaristi ditolak, dan dianggap tahyul, karena mereka berpendapat bahwa umat manusia toh sudah ditebus dan diselamatkan oleh Yesus satu kali untuk selama-lamanya: mengapa masih harus ada korban.

Karena mereka menolak korban, maka dalam kehidupan sehari-hari mereka pun juga menolak untuk berkorban. Mereka bependapat bahwa sengsara dan penderitaan itu adalah kutuk. Sedangkan kekayaan, kesehatan, sukses hidup itu berkat dan rahmat Tuhan. Maka dari kelompok ini ada yang berpendapat bahwa Tuhan memberkati  umatNya kalau orang itu kaya.

Namun ada satu kelompok lain, yaitu orang-orang yang secara ekplisit belum termasuk Gereja Katolik tetapi religiositas mereka amat tinggi. Mereka ini selalu mencoba mengalami kehadiran Tuhan melalui alam semesta ini dan mencoba melaksanakan laku tapa, doa dan laku silih atas dosa dari ajaran yang mereka terima dari leluhur mereka, sehingga mereka dengan mudah juga menerima ajaran Yesus.

Kelompok ini disebut “penghayat” karena mereka tidak menamakan diri dengan kelompok agama yang sudah ada, mereka menyebut diri kelompok “Kejawen”. Mereka setia mengadakan adorasi, berdoa dan bertapa untuk menghadap Tuhan, sumber kehidupan, mencari berkah dan perlindungan-Nya, dan mereka setia mengamalkan kasih sesama dengan hidup memasyarakat yang baik dan bakti sosial.

Namun karena kelompok ini belum dipahami oleh banyak umat, seringkali mereka ini dianggap kelompok tahyul, kelompok mistik atau penganut “gugon tuhon”, karena simbol-simbol yang digunakan semua dari pewayangan. Namun kalau kita telusuri kita dapat menambah kekayaan hidup rohani dari mereka.

Mereka percaya kepada Semar, bukan figur wayang, tetapi “Kasengsem kang sumamar (terpesona akan misteri), yaitu Tuhan Allah sendiri. Mereka bersemboyan “Memangku Hayuning Buwono” atau menuju kepada keselamatan dunia.

Mereka ini tidak melawan ajaran Katolik, bahkan mau menerima dengan senang hati, khususnya menyangkut pada penyembahan kepada Tuhan, kebaktian dalam doa-doa, kurban dan kerjasama sesama warga dalam membina kesatuan dan kerukunan.

Kredit foto: Yesus naik ke Gunung Tabor dan mengalami transfigurasi. (The Catholic Faith)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply