Rabu, 20 Agustus 2014: Aku tidak Berlaku tak Adil Terhadapmu, Mat 20:1-6a

justice2perumpamaan tentang tuan yang empunya panenan berkata, Yesus berkata: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku memberikan kepada orang masuk terakhir ini sama seperti ke padamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah kamu, karena aku murah hati?” Pernah pada […]

justice2

iri hati perumpamaan tentang tuan yang empunya panenan berkata, Yesus berkata: “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku memberikan kepada orang masuk terakhir ini sama seperti ke padamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah kamu, karena aku murah hati?”

Pernah pada salah satu hari ulang tahun paroki, Dewan Paroki dan pastor kepala mengadakan satu acara syukuran dan memberikan kenangan pada tokoh-tokoh yang pernah berjasa untuk pengembangan paroki. Daftar semua orang yang telah menyumbangkan jasa bagi paroki dibacakan oleh sekretaris, dimulai dari yang paling lama berjasa sampai pada periode yang terakhir. Mereka semua di persilakan maju satu persatu untuk menerima hadiah dari pastor paroki.

Ternyata semua hadiahnya sama, dan tidak seorang pun yang menerima bingkisan berupa uang. Setelah acara syukuran selesai semua bubaran dan pulang. Namun ada beberapa yang yang masih berdiri bergerombol, sepertinya ada yang secara serius dibicarakan.

Salah seorang dari berkomentar:”Kami ini telah berjasa bertahun-tahun tetapi hadiahnya cuma begini disamakan dengan orang yang baru saja aktif.”

Lalu ada yang menanggapi: ”Lalu bapak menghendaki penghargaan macam apa.”

Bapak yang pertama ini menjawab: “Ya paling tidak kami ini diberi apalah sebagai ganti jerih lelah, karena saya dulu kan membuka stasi dan mengajar kesana-kemari, kena hujan dan panas matahari.”

“Lho kita ini bekerja untuk Tuhan bukan sebagai pegawai. Nanti yang memberi hadiah Tuhan sendiri.

Hadiah dari Tuhan bagi bapak jelas sekali: Bapak diberi umur panjang, diberi kesehatan sampai sekarang dan keluarga yang tetap rukun. Inilah yang perlu disyukuri.”

Dalam bacaan Injil juga terlukis gejala yang serupa, bahwa para pekerja lupa dengan upah yang telah disepakati, karena pekerja yang datang paling dahulu menggerutu dan menganggap upahnya tidak adil.

Dan ini kerap terjadi seperti contoh tadi.

Hal ini tidak benar. Karena sebenarnya bekerja di ladang Tuhan itu bukan hak kita, tetapi Tuhan memberi kesempatan untuk merasul dan menabur-kan benih kebaikan. Maka imbalan dari Tuhan tidak bisa dihitung dengan materi.

Sebenarnya secara tidak kita sadari hadiah dari Tuhan bagi orang yang telah berjasa bagi pengem-bangan iman dan bagi Gereja banyak, antara lain ahwa orang itu punya relasi hubungan baik dengan Umat yang tak pernah telupakan, banyak kenalan dan banyak diterima oleh umat yang lain.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply