Rabu 17 September 2014: Tak Ikut Berpartisipasi, Luk 7:31-35

halo-halo sesorah by“Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak ikut menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis. Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, dan kini kalian berkata: Lihatlah seorang pelahap dan peminum sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. […]

halo-halo sesorah by

“Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak ikut menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis. Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, dan kini kalian berkata: Lihatlah seorang pelahap dan peminum sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.”

BIASANYA kalau orang mendengar musik dangdut, secara spontan akan menggerakkan badannya dan ikut menari, lebih-lebih orang muda. Maka aneh sekali orang-orang muda yang nongkrong di pasar ini tidak mau ikut menari. Rupanya mereka itu preman yang sedang mencari kesempatan. Namun kalau mereka itu diwari untuk menjadi kawanan “gang” mereka langsung mau ikut.

Banyak kaum muda sekarang ini lebih dibelokkan arah untuk menjadi kelompok teroris, karena dibayar tinggi. Ada yang juga yang mau ditawari untuk menjadi pengedar atau pengguna narkoba. Ada juga yang mau ditawari untuk menjadi kelompok garis keras, gang pengebut di jalan raya dsb.

Tidak tahu apa sebabnya, tetapi yang jelas mereka belum menangkap arti kehidupan ini. Meskipun dibeberapa tempat OMK dapat berkembang sebagai kelompok, tetapi kehadiran mereka dalam kegiatan rohani Gereja sudah mulai merosot. Mereka sukar untuk diajak untuk mengikuti pendalaman iman, membaca buku rohani,dengan alasan macam-macam.

Berapa banyak yang mau mengikuti ekaristi lingkungan atau misa harian? Dapat dihitung. Inilah keprihatinan Tuhan Yesus dan keprihatinan Gereja jaman sekarang.

Kalau ditanya tentang alasannya mengapa mereka tidak tertarik lagi akan hal rohani dan hal-hal gerejani, biasanya jawabannya sibuk. Ada yang mengatakan tidak cocok dengan pastor parokinya. Ada yang mengatakan tidak pernah diperhatikan orangtuanya.

Dan kebanyakan yang sudah berubah adalah nilai-nilai hidup yang mau diraihnya: sukses, cepat populer, banyak teman bergaul dan bebas. Dengan lain kata kebanyakan dari mereka menganggap bahwa Gereja sudah terlalu kolot, kurang memberi tantangan dan para pemimpin Gereja kurang memberi keteladanan.

Memang selama yang dipenting oleh Gereja hanyalah gerakan organisasi atau pendidikan formalitas, bukan tanggap atas persoalan-persoalan pribadi, maka kiranya partisipasi orang muda sukar diharapkan. Maka makna hidup menggere-ja perlu diaktualkan dikonkritkan, bukan untuk menjangkau sebanyak-banyaknya tetapi agar satu persatu oarng mulai tergerak oleh sentuhan Tuhan.

Kredit foto: Ilustrasi (Alternate Path)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply