Pasangan calon suami istri katolik tengah menjalin ikatan pernikahan katolik. (Ist)

SEORANG suami yang kaya raya punya tigaa orang istri. Ketika ia sekarat di ranjangnya, ia memanggil isteri ketiga yang masih muda dan cantik.

Ia bertanya, “istriku yang cantik, apakah engkau mau menemaniku sampai mati?”Isterinya menjawab, “maaf sayang aku tak bisa menemanimu”

Isteri yang cantik itu meninggalkannya. Suami itu sedih. Ia memanggil isteri keduanya. Hal yang sama ia tanyakan. Istri kedua menjawab, “maaf sayangku, aku hanya bisa mengantarmu sampai ke liang kubur saja, setelah itu pergilah sendiri”.

Suami itu pilu hatinya. Akhirnya ia memanggil isteri pertama yang tak pernah dipedulikannya.

Ia bertanya, “Isteriku apakah engkau mau menemaniku sampai mati?”Isetri tua yang tak pernah diperhatikan itu menjawab, “sayangku aku akan setia menemanimu sampai mati”.

Isteri pertama adalah kecantikan dunia. Ia meninggalkan kita saat kita menua sebelum kita mati.

Isteri kedua adalah harta kekayaan dunia. Ia menjauh dari kita saat kita mati. Kita tidak bawa apa-apa. Isteri pertama adalah kebaikan. Ia akan menemani kita bahkan setelah kita mati. Ia akan tetap dikenang.

Apakah kita tak boleh kaya? Boleh saja. Tetapi itu bukan tujuan utama kita. Itu hanya sarana. Bahkan jika tangan dan mata menyesatkan,lepaskan itu. Yang penting kita sampai keselamatan kekal. Selamat merenung.

Romo A. Joko Purwanto Pr Imam diosesan KAS yang pernah berkarya di Keuskupan Ketapang, Kalbar.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.