Ilustrasi: Pastor Sepo CP bersama OMK yang kadang ikut menyertai perjalanan pastor ke pedalaman untuk ‘uji nyali’ sekaligus pengalaman personal mengikuti pastor turne masuk hutan dan kawasan hulu sungai. (Ist)

PAULUS dan rasul-rasul yang lain pergi ke mana-mana mewartakan Injil. Bahkan juga ke tempat-tempat pemujaan dewa-dewa Yunani. Paulus mengabarkan bahwa Yesus-lah Putera Allah yang diutus menjadi penyelamat dan penebus dunia.


Pewartaan itu kadang diterima namun sering juga mengalami penolakan bahkan kekerasan. Di Athena, Paulus memberitakan Yesus Kristus yang bangkit dari mati.


Reaksi orang-orang di situ negatif. Ada yang mengejek, mencemooh bahkan menolaknya. “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu”.


Yesus dulu pernah bersabda kepada para murid, “Kamu akan Kujadikan penjala manusia”.


Yang namanya menebarkan jala, pasti ada yang kena dan ada yang lepas. Paulus kemana-mana menebarkan jala. Ada yang lepas, tetapi ada juga yang masuk di dalam jala. Dionisius, anggota majelis Aeropagus dan seorang perempuan bernama Damaris menjadi percaya.


Seorang teman romo pernah mengalami putus asa, karena turne jauh-jauh ke stasi dan yang datang hanya ketua umat saja. Mereka berdua saja merayakan misa di kapel yang kosong melompong.


Romo itu merasa sia-sia saja melayani. Namun Bapak Uskup menghiburnya bahwa yang membutuhkan pelayanan itu Yesus.


Yesus meminta supaya Ekaristi selalu dibuat oleh imam-Nya untuk mengenangkan Dia. Romo itu merasa terhibur dan kembali bersemangat.


Yesus juga berkata, “Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul atas nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka”.


Romo itu berpikir, sudah cukup ada dua orang yakni dirinya dan ketua umat, pastilah Yesus juga hadir di situ. Maka, mereka tetap merayakan Ekaristi.


Pengalaman dicuekin, ditolak, dicemooh dalam mewartakan Yesus sering kita terima. Namun seperti Paulus, nama Yesus harus tetap disampaikan. Kabar Gembira Injil harus diwartakan. Yang membutuhkan adalah Yesus, bukan kita. Maka jangan takut menjadi penjala.


Di antara sekian banyak ikan pasti ada yang masuk jala. Selamat merenungkan. Jangan lupa esok pagi ke perjamuan-Nya.

Imam diosesan KAS yang pernah berkarya di Keuskupan Ketapang, Kalbar.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.