Punakawan, Sang Penjaga Nurani

punakawan by pitoyoDALAM Kitab Mahabarata dan Ramayana tidak dikenal Pandherek (Togog dan Bilung), serta Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong). Namun, dunia pewayangan di Indonesia yang mengambil sumber kitab Mahabarata dan Ramayana, Pandherek dan Punakawan sangat terkenal bahkan terinternalisasi dalam kehidupan keseharian masyarakat berbasis budaya Jawa. Jika ada laki-laki bertubuh tinggi-setengah kurus, ia akan diberi nama panggilan […]

punakawan by pitoyo

DALAM Kitab Mahabarata dan Ramayana tidak dikenal Pandherek (Togog dan Bilung), serta Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong). Namun, dunia pewayangan di Indonesia yang mengambil sumber kitab Mahabarata dan Ramayana, Pandherek dan Punakawan sangat terkenal bahkan terinternalisasi dalam kehidupan keseharian masyarakat berbasis budaya Jawa.

Jika ada laki-laki bertubuh tinggi-setengah kurus, ia akan diberi nama panggilan Petruk; yang gemuk- pendek, Bagong; yang bermulut lebar tak proporsional, Togog; pada orang yang sosoknya pendek kecil, dan suka menginnterupsi pembicaraan orang lain dijuluki Bilung.

Pandherek, Togog dan Bilung, mengemban panggilan hidup sebagai pemberi deskripsi kekuatan musuh, pemberi nasihat kepada tuannya, namun jika nasehatnya tidak dipakai Togog dan Bilung angkat tangan. Tugas sebagai penolong yang ikut terjun ke lapangan apalagi mengambil alih masalah tidak ada pada Togog dan Bilung.

Berbeda dengan Punakawan. Sosok yang sering disebut sebagai pamomong Pandawa itu menjalani hidup total sebagai pamomong (pengasuh). Mereka memberikan informasi dan pertimbangan atas dasar bisikan roh kebenaran, penolong manusia dalam perjalanan hidup manakala menghadapi kesulitan, ikut terjun langsung di lapangan menumpas laku jahat, dan bilamana perlu, – misalnya kesatria Pandawa tidak mampu mengatasi masalah-, Punakawan mengambil alih penyelesaian masalah yang dihadapi para ksatria Pandawa.

Pendek kata, Punakawan adalah jilmaan nurani yang selalu membisikkan keutamaan berkehidupan kepada tuannya, manusia. Dimana ada tarik-menarik atau benturan antara Hyang Baik dan Si Jahat, Punakawan pasti hadir untuk mengingatkan, terlibat, bahkan kadang mengambil alih pembongkaran kejahatan untuk berseminya kembali keutamaan.

Keberadaan dan kehadiran abadi Pandherek dan Punakawan dalam semua “lakon” (episod) wayang persis penggambaran kehadiran Allah yang abadi menyertai umatnya dalam perang abadi antara angkara murka dan keutamaan.

Bagi para ksatria Pandawa yang gemar olah batin itu peran Panakawan seperti terwujudnya janji Kristus, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dia-lah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh 14:16.26).

Kredit foto: Ilustrasi (Pitoyo)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply