Puji-Pujian Mendatangkan Kemenangan (1)

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:21=======================”Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang be…

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:21
=======================
“Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

Seorang penyanyi senior pernah bercerita kepada saya mengapa ia tidak pernah bosan dalam menekuni karir sampai sebegitu lamanya. Ia berkata bahwa selain ia sadar bahwa menyanyi merupakan panggilan hidupnya, ia juga tidak pernah kehilangan gairah karena baginya menyanyi itu lebih dari sekedar mencari nafkah. Menyanyi, menurutnya merupakan sebuah media dimana ia bisa menumpahkan curahan hatinya, unek-uneknya atau sekedar berbagi inspirasi dengan orang lain. Lirik yang ia tulis kebanyakan bersumber dari pengalaman hidupnya, baik apa yang ia alami sehari-hari maupun beberapa pengalaman penting yang pernah ia alami. Singkatnya, ia mengatakan bahwa sebuah lagu punya peran dan makna yang jauh lebih banyak dari sekedar sebuah hiburan. “Kalau saya bosan bernyanyi, artinya saya bosan hidup,” katanya.

Musik, lagu dan suara untuk bernyanyi bagi saya merupakan salah satu anugerah yang luar biasa indahnya dari Tuhan. Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup tanpa adanya alunan musik dan suara indah para biduan dari masa ke masa. Sebuah lagu bisa membuat rileks, melepas kepenatan dari bekerja dan pelipur lara. Lagu atau musik bisa meningkatkan semangat, menjadi teman dalam bekerja dan mewakili berbagai perasaan hati. Musik bisa menjadi jembatan antar dua negara untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Begitu banyaknya makna penting dibalik musik, sampai-sampai musik pun hari ini menjadi salah satu sarana terpenting si jahat untuk merusak moral generasi muda dengan berbagai pengajaran-pengajaran yang sesat, baik yang disampaikan secara terang-terangan maupun yang tidak terlalu kasat mata.

Dalam beribadah kita pun bernyanyi untuk Tuhan. Kita menyembah Dia lewat lagu, kita memuji Dia lewat lagu. Saya yakin Tuhan merupakan pribadi yang juga sangat menyukai musik. Lihatlah betapa seringnya Pemazmur menggugah kita untuk selalu menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan seperti dalam pasal 96:1, 98:1, 144:9, 149:1 dan sebagainya. Dalam Yesaya 42:10 pesan yang sama pun disampaikan. Jika musik itu dikatakan dinamis dan progresif, Tuhan pun tampaknya memandang musik seperti itu. Lebih dari sekedar menyenangkan hatiNya, lagu-lagu pujian yang kita nyanyikan kepadaNya bermakna sangat besar. Lagu pujian kita kepada Tuhan bisa membawa perubahan besar dalam hidup kita, bahkan saya berani berkata bahwa lagu pujian itu mendahului atau bisa mendatangkan kemenangan.

Sebuah contoh bisa kita lihat pada akhir pemerintahan raja Yosafat yang bisa dibaca dalam kitab 2 Tawarikh 20. Alkitab mencatat bahwa pada masa itu ada laskar yang besar datang dari berbagai penjuru untuk menyerang Israel. Pada saat itu pasukan Israel sangat sedikit jumlahnya, tidak sebanding dengan jumlah besar kekuatan yang hendak menghancurkan mereka. Melihat kekuatan yang tidak berimbang, tidak mengherankan apabila Yosafat kemudian sempat takut. Kita pun tentu takut jika mengalami hal yang sama. Tetapi meski rasa takut sempat ia rasakan, Yosafat mengambil sebuah keputusan yang benar dalam merespon rasa takutnya. “Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” (2 Tawarikh 20:3). Yosafat tidak hanya melakukan itu sendirian, tapi ia juga mengajak serta rakyatnya untuk berserah kepada Tuhan dengan berpuasa. Ia memimpin bangsanya untuk mengambil keputusan yang benar. Rakyatnya menurut dan mereka pun melakukan itu bersama-sama. “Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.” (ay 4). Saat itu terjadilah doa dan berpuasa secara nasional, dimana isi doanya pun tertulis dalam perikop ini.

Tuhan kemudian menjawab doa mereka lewat Yahaziel. Yahaziel dikatakan dihinggapi Roh Tuhan (ay 14) dan menyampaikan pesan dari Tuhan kepada Yosafat dan bangsa Yehuda. “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.” (ay 15). Lewat Yahaziel Tuhan berkata dengan jelas berkata bahwa mereka tidak perlu takut, karena bukan jumlah tentara mereka yang penting melainkan Tuhan sendirilah yang akan maju berperang melawan laskar musuh untuk mereka. Kuasa Tuhan tidak terbatas dan tidak tertandingi oleh apapun ternyata berjanji untuk berada di pihak mereka. Jika demikian, apa lagi yang harus ditakutkan? Tuhan bahkan berkata: “Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.” (ay 17). Ini jelas merupakan seruan Tuhan yang sangat melegakan dan sungguh luar biasa.

Apa yang kemudian dilakukan Yosafat dan bangsa Yehuda dalam merespon pesan Tuhan ini? Diluar dugaan mereka membentuk kelompok paduan suara untuk memuji Tuhan! Mereka mengangkat para penyanyi dan pemuji lalu mengutus mereka untuk ditempatkan di barisan depan. “Setelah ia berunding dengan rakyat, ia mengangkat orang-orang yang akan menyanyi nyanyian untuk TUHAN dan memuji TUHAN dalam pakaian kudus yang semarak pada waktu mereka keluar di muka orang-orang bersenjata, sambil berkata: “Nyanyikanlah nyanyian syukur bagi TUHAN, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!” (ay 21). Secara logika keputusan Yosafat mungkin terlihat aneh. Betapa tidak, dalam menghadapi perang bukannya mempersiapkan kekuatan bala tentara dengan persenjataan terbaik yang mereka punya, tapi justru membentuk kelompok penyanyi puji-pujian. Aneh bagi dunia, tetapi tidak bagi mereka, karena iman mereka percaya sepenuhnya kepada janji Tuhan sehingga mereka tahu bahwa apa yang terpenting bagi mereka adalah menyatakan ucapan syukur mereka dan memuliakan kebesaran Allah. Jika mereka sibuk menyiapkan kekuatan prajurit perang, bukankah itu berarti bahwa mereka masih ragu terhadap ucapan Tuhan yang berjanji akan berperang secara langsung atas nama mereka?

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply