Puisi-puisi Alexander Aur

puisiPerempuan-perempuan di Sepanjang Jalan ke Bukit Kematian daun-daun palma yang kemarin segar melambai-lambai saat engkau memasuki kota abadi hari ini layu di sepanjang jalan ke bukit kematian itu keledai yang kemarin gagah memikul tubuhmu kini tersungkur ketakutan gemetar mencium aroma kematianmu yang akan tiba di jalan menuju bukit kematian itu tak satupun sahabat-sahabatmu laki-laki menemanimu […]

puisi

Perempuan-perempuan di Sepanjang Jalan ke Bukit Kematian

daun-daun palma yang kemarin segar melambai-lambai
saat engkau memasuki kota abadi
hari ini layu di sepanjang jalan ke bukit kematian itu
keledai yang kemarin gagah memikul tubuhmu
kini tersungkur ketakutan
gemetar mencium aroma kematianmu yang akan tiba

di jalan menuju bukit kematian itu
tak satupun sahabat-sahabatmu laki-laki menemanimu
para perempuan selalu paling peka pada keletihan yang merundungmu
cinta perempuan-perempuan itu padamu
sebening air mata mereka yang turun di jalan kelok ini
selembar kain lukisan darah wajahmu
yang engkau hadiahkan kepada seorang perempuan
menjadi kerudungnya ketika menemanimu di tanjakan-tanjakan jalan ini

di puncak bukit kematian
ibu yang selalu menghidupimu dengan hangat tubuh dan nafasnya
memintamu untuk meruntuhkan bait tuhan
setelah kematian memelukmu erat-erat

kepada perempuan-perempuan itu
engkau menyingkapkan kekalahan maut
saat sahabat-sahabatmu laki-laki masih mabuk dengan kematianmu

Maret, 2012

 

Di Jalan ke Kampung Emaus

hanya aku dan dia
mencium bau pekat kematianmu
membekas di jalan ini
persahabatan kita yang dulu amat kental
berganti ketakutan yang sangat pedih

jalan ini tak lelah memabukkan kami
dengan bau kematianmu
sampai tibalah undangan darimu tiba

di kampung emaus
kita akan makan bersama
janjimu dalam undangan

di kampung emaus
aku menunggu engkau sahabat-sahabatku
seraya meramu bumbu-bumbu
yang akan kutaburkan pada ikan bakar
kabarmu dalam undangan

bau kematianku
akan berganti wangi campuran bumbu-bumbu
ketakutanmu akan lenyap
dengan gurih daging ikan bakar
persahabatan kita akan pulih kembali
engkau meyakinkan kami
dalam undanganmu

April, 2013

 

Warung Tegal

di sini
engkau pernah mengundangku makan bersama
saat iga-igamu belum remuk

di sini
aku mengunyah tubuhmu
air dan darah dari lambungmu
menyapu sedak yang mencekikku

kematianmu yang membuatku lapar
hilang oleh penantianmu

di sini
kita makan bersama lagi
saat iga-igamu sudah menjadi debu

April, 2013

 

Tulang Rusuk

dikau
temanku ke emaus
gairahmu
gelora hidup kaum miskin

April, 2013

Taman Edan

tuhan berjalan-jalan
di taman itu saat angin mencium dedaunan
mata sinis tuhan menikam
sepasang kupu-kupu yang sedang mabuk kebebasan
bunga yang tak ingin dicumbu kumbang tertawa
melihat tuhan menimang kepompong yang lahir prematur
cemburu sepasang kupu-kupu menetaskan puting beliung
di taman itu
burung gagak mencabik-cabik bangkai
tuhan pun tak sanggup lagi mengumandangkan sabda-sabdanya

April, 2013

Tentang Penulis:
Alexander Aur, lahir di Wailolong, Lembata, Nusa Tenggara Timur. Saat ini mengajar filsafat di Universitas Pelita Harapan, Karawaci dan mengajar Religiositas dan Pancasila di Universitas Multimedia Nusantara. Buku karya sastra yang sudah dipublikasikan adalah Kumpulan Cerpen Perjalanan Mengelilingi Kamar (Kandil Semesta, 2005), Kumpulan Cerpen Ilahi Menangis di Dua Perbatasan (Native Indonesia, 2012), dan Kumpulan Puisi Air Mata di Pucuk Daun (Penerbit Lembata, 2012). Bisa dihubungi di surel: savana.aur@gmail.com.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply