[PUISI] Menikam Malam

malam

MENIKAM MALAM

Dengan menikam malam

Urat sarafnya berubah menjadi daging

Dan melebur dalam mata pisau

(Halifehan, 2015)

 

HATI-HATI MASIH ADA I

Setiap lipatan dedaunan yang dijatuhkannya dari

Langit, tak membuat-Nya nyenyak. Ia malah diteriaki

Maling kelas teri

 

I pun tahu. Dia pun tahu. Tuhan dan tuhannya belum nyenyak. Dibangunkannya dengan sehelai

Tepung tapoika bekas adonan. Dikuliti bagian luarnya juga diolesi

Margarine penyesalan yang barusan dibeli di

Pasar loak ketika ia ingin mencermati

“tuhanku berpesan, jangan dekati dia. Nanti kau digigiti”

(Halifehan, 2015)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: