Proses

Ayat bacaan: Matius 20:28
===================
“sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

proses

Semakin tinggi teknologi bukan membuat orang semakin sabar, tetapi malah semakin sibuk bekejar-kejaran dengan waktu. Segala sesuatu yang dibuat serba instan bisa menjadi bukti nyata bagaimana fenomena ini semakin bertambah subur di dalam kehidupan manusia modern. Kopi instan, mi instan, makanan-makanan cepat saji dan sebagainya, itu membuktikan bahwa manusia semakin tidak peduli terhadap proses dalam menghasilkan sesuatu melainkan hanya ingin hasil akhirnya. Semuanya ingin serba instan, dalam hal kerohanian pun sama. Memang dalam beberapa hal itu akan sangat membantu kita. Misalnya dengan kemudahan mengakses Alkitab lewat telepon genggam atau secara online di laptop atau netbook, tentu hal seperti itu bisa mempermudah kita dalam membaca Firman Tuhan. Tetapi tidak selamanya sesuatu yang instan itu baik. Tuhan berbicara mengenai proses dalam begitu banyak ayat baik dalam Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, itu menunjukkan betapa pentingnya sebuah proses dalam pertumbuhan dan pendewasaan diri di mata Tuhan. Kita pun mengalami hal seperti itu bukan? Tidak ada bayi instan yang langsung menjadi dewasa secara instan pula. Bayi bertumbuh dari janin di dalam kandungan selama 9 bulan, lalu masa pertumbuhan pun berjalan tahunan. Balita, remaja, dewasa, itu makan waktu yang sangat lama. Begitu pula kedewasaan spiritual atau rohani kita. Meski Tuhan mengatakan bahwa dengan menerima Kristus kita menjadi ciptaan baru, tetapi kita tetap harus berproses setiap hari untuk bisa menjadi orang-orang dengan tingkat kerohanian dewasa. Ibrani 5:11-14 menggambarkan proses pertumbuhan secara spiritual ini, yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang percaya termasuk saya dan anda. Tetapi keenganan manusia untuk berproses dan lebih mementingkan hasil akhir bisa merusak segalanya.

Mengapa saya mengangkat ilustrasi di atas? Itu karena saya mendapat sebuah sms dari teman di kota lain yang isinya sangat baik untuk kita renungkan. Demikian isi sms tersebut:

“Banyak yang ingin sekuat baja tetapi enggan di TEMPA. Banyak yang ingin secemerlan emas tapi enggan DILEBUR. Banyak yang ingin berguna di dunia tapi enggan BERBAGI. Banyak yang ingin mengasihi tapi enggan MENGAMPUNI. Banyak yang ingin menjadi baik tetapi enggan BERBUAT BENAR. Banyak yang ingin jadi pahlawan tapi enggan BERKORBAN. Banyak yang ingin menuai tapi enggan MENABUR. Yesus adalah TELADAN sempurna bagi kita.” 

Itu bunyi smsnya, dan itu sungguh benar. Kita cenderung menginginkan sesuatu yang instan dan jika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita, maka kita pun dengan cepat menyalahkan Tuhan. Rangkaian sms di atas kalau kita telaah satu persatu berdasarkan Firman Tuhan, maka kita mungkin harus berhadapan dengan ratusan ayat yang saling berhubungan. Sedemikian banyaknya Firman Tuhan yang berbicara akan hal ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah proses bagi kita, meski kita sudah menjadi orang percaya sekalipun.

Yesus mengajarkan banyak hal soal itu, dan Dia tidak berhenti sampai disitu saja. Tidak saja sekedar mengajarkan, tetapi Yesus pun telah mencontohkan, membuktikan secara langsung semua yang Dia ajarkan. Yesus sudah menjadi teladan yang sempurna bagi kita semua. Saya pun ingat akan sebuah kisah ketika ibu dari anak-anak Zebedeus mendatangi Yesus untuk memberikan kedua anaknya posisi tinggi secara instan. Ini bisa kita baca dalam Matius 20:20-28. Lihat apa kata si ibu kepada Yesus: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (ay 21). Si ibu menginginkan sebuah hasil instan tanpa proses. Mau cari gampangnya, mau cari mudahnya, sama seperti pola pikir kita hari ini juga. Tapi Yesus kemudian mengajarkan pola pikir yang berbeda dengan apa yang dipercaya oleh dunia. Yesus berkata: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” (ay 26-27). Apakah Yesus cukup hanya bertitah saja? Tidak. Dia kemudian berkata: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28). Dan itu semua digenapi Yesus. Artinya, Yesus sudah memberi keteladanan bagi kita mengenai segala sesuatu yang Dia ajarkan. Dan dalam hal proses pertumbuhan kita dalam detail-detail di sms tadi, kita bisa melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya yang sempurna dalam memberi keteladanan itu.

Karena itulah kita seharusnya mau bersabar dan tetap bersyukur ketika berada dalam sebuah proses. Mungkin proses itu tidaklah terasa nyaman malah sakit, mungkin tidak mudah malah begitu berat dan sulit, tetapi itulah masa-masa kita ditempa, dibentuk untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Yakobus mengatakan “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.” (Yakobus 1:21). Hati yang lembut dan mau dibentuk, hati yang subur sehingga firman bisa tertanam dan bertumbuh disana, itulah yang seharusnya kita miliki. Dari masa tanam, dipupuk, tumbuh dan pada suatu ketika berbuah, itu butuh proses yang semuanya terlalu berharga untuk dilewati. Apakah proses itu lembut atau keras, semua itu bertujuan baik untuk melatih kita agar berhasil menjadi pribadi-pribadi yang dewasa secara rohani. Itu akan membuat kita mampu menapak lebih tinggi lagi sehingga tidak lagi mudah goyah ketika masalah datang menerpa kita. Apapun itu butuh proses. Untuk bisa menuju sempurna butuh proses. Untuk bisa menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas seperti sms di atas butuh proses. Bersyukurlah jika anda sedang berada dalam proses itu. Belajarlah taat, belajarlah mengampuni, belajarlah legawa, dan belajarlah untuk terus bersyukur dalam kondisi apapun. Pada suatu ketika nanti anda akan tersenyum melihat transformasi diri anda berjalan baik menuju proses kesempurnaan.

Hidup adalah proses, termasuk pertumbuhan rohani pun butuh proses

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: