Proses Panjang Sajian Makanan

Ayat bacaan: Kejadian 39:5
==========================
“Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.”

proses panjang sajian makanan, saling memberkati

Hari ini beberapa makanan lezat terhidang di meja. Istri saya sudah repot-repot memasak, dan hal itu membuat saya sangat senang apalagi setelah hari yang melelahkan dengan pekerjaan. Di meja makan saya berpikir, pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa agar makanan-makanan lezat itu bisa sampai ke atas meja harus melewati sebuah proses panjang? Peternak ayam telah bersusah payah membiakkan ayam untuk dijual, para nelayan yang menentang badai dan menghadapi berbagai resiko ketika melaut untuk mendapatkan ikan, petani yang dibawah terik matahari bekerja menanam padi dan sayur mayur, kemudian para supir yang mengantarkan produk-produk tersebut ke pasar, para penjual di pasar, atau jika anda membeli di supermarket, ada karyawan/karyawati yang akan membantu anda. Setelah semua ini, istri saya tercinta pun memasak dan akhirnya makanan bisa dihidangkan. Ini baru uraian singkat, karena saya yakin proses jejaring makanan ini pasti melewati jalan yang lebih rumit lagi.

Ketika kita berdoa sebelum makan, kita berdoa agar makanan kita diberkati Tuhan, dan menjadi sumber tenaga dan kekuatan yang menjauhkan penyakit dari tengah-tengah kita. (Keluaran 23:25). Kita mendoakan orang yang memasak dan menghidangkan, tapi banyak yang lupa bahwa sebenarnya butuh proses panjang agar makanan bisa terhidang dan melibatkan banyak pihak. Mereka-mereka ini pun layak untuk kita doakan, karena jika satu saja mata rantai itu terputus, makananpun tidak akan sampai ke atas meja kita. Dalam ayat bacaan hari ini kita melihat Yusuf menjadi saluran berkat Tuhan atas Potifar. Artinya lewat kita anak-anakNya yang percaya, Tuhan bisa memberkati orang lain. Kita bisa menjadi saluran berkat bagi banyak orang.

Seringkali cacian, prasangka dan tuduhan yang lebih sering keluar dari lidah kita ketimbang berkat bagi orang lain. Kita sering lupa bahwa untuk menjadi diri kita sekarang ada banyak orang yang memiliki peran penting di sepanjang perjalanan hidup kita. Adalah jauh lebih mudah untuk mengingat sesuatu yang buruk daripada mengingat jasa dan kebaikan orang lain. Petrus pun mengingatkan kita untuk terus memberkati, karena kita dipanggil untuk memperoleh berkat pula. “Dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab:Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” (1 Petrus 3:9-10) Kita harus saling memberkati. Jika kita lihat di sekeliling kita ada banyak orang yang bisa kita berkati, dan itu jauh lebih baik untuk keluar dari lidah kita daripada segala hal yang buruk.

Jika anda melihat hamparan makanan lezat dihidangkan di depan anda, ingatlah bahwa semua itu butuh proses perjalanan yang panjang. Doakan dan berkatilah mereka yang terlibat karena tanpa mereka makanan itu tidak akan tampil di meja anda.

Seperti Tuhan selalu memberkati kita, kita pun harus memberkati lebih banyak lagi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment