“Prometheus”, Manusia Ingin Taklukkan Tuhan tapi tak Mampu

MENGUSUNG nama besar sutradara spesialis sound effect dan animasi serba gede sekelas Ridley Scott tak selamanya bisa  membuat decak kagum penonton film teranyarnya: Prometheus.  Selain alur ceritanya muskil alias gak jelas runtutannya, ending film dengan jualan utama sound effect and animasi gambar ini juga tak berhasil membuat penonton lega. Terutama ketika dari “rahim” seorang alien, lahirlah mahkluk alien lain berwujud gurita raksasa haus darah. Bahkan sebelumnya, alien sama juga lahir dari rahim seorang perempuan.

Lalu pertanyaannya, Promotheus ini film tentang apa?

Sudah pastilah, Scott mencoba bernalar dengan gagasan imaginatif tentang masa depan dimana teknologi modern ruang angkasa telah menjadikan manusia berdiri di atas segala-galanya. Termasuk ketika spirit manusia sudah  kemasukan semangat ingin mengetahui semua misteri kehidupan, termasuk yang paling “rahasia” sekalipun: asal mula kehidupan dan “mahkluk” pencipta kehidupan itu sendiri.

Untuk memuaskan  nafsu ingin menguak misteri kehidupan itulah, pesawat ruang angkasa Prometheus lalu dirancang dan kemudian diluncurkan ke orbit di bawah komando dua mahkluk setengah robot yakni si cantik Meredith Vickers (Charlize Teron) dan asistennya yang misterius David (Michael Fassbander).  Namun, dalam perut  Prometheus ini juga ada sejumlah ilmuwan yang punya keahlian sekaligus ambisi yang sama.

Terutama tentu saja sejoli kekasih Dr. Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Dr. Charlie Holloway (Logan Marshall Green), dua antropolog yang keranjingan mau mencari jawab atas pertanyaan klasik: mengapa manusia selalu melakukan tindakan “menyembah” ke atas (angkasa)?  Di luar kedua tokoh ini, para penumpang lainnya sepertinya hanya main numpang lewat (cameo) saja.

Sindrom ketuhanan

Ternyata  di balik misi Prometheus membelah orbit menuju sebuah planet di ruang angkasa itu bersembunyilah Peter Weyland (Guy Pearce). Dia adalah sang taipan besar pemilik Weyland Corp, yang sejak lama mengalami sindrom ketuhanan. Kaya raya tak berhasil menjadikan  Weyland puas diri. Justru karena kaya raya, dia ingin meraih Tuhan dan –kalau bisa—juga mau  menjinakkan-Nya.

Terutama, kata film Prometheus ini — ingin menguak rahasia kehidupan tentang asal-usul kehidupan, kematian, dan hidup pasca kematian. Nah, agar tema futuristik dan after-life ini menjadi menarik, Ridley Scott pun lalu mengemas Prometheus  pada  tahun 2090-an. Itulah kurun waktu dalam sejarah peradaban manusia,  ketika ruang angkasa sudah bisa “diacak-acak” oleh manusia.

Prometheus rasanya punya misi penting yakni kehidupan ingin dibebaskan dari “kekuasaan” Tuhan.  Itulah mimpi besar Peter Weyland yang kemudian menugaskan putrinya Vicker dan ajudannya David merancang perjalanan Prometheus menembus orbit dengan kendali  pilot Kapten Janek (Idris Elba).

“Tuhan telah mati”

Ridley Scott rupanya ingin bermain dengan tema besar –seperti kata filosof Friedric Nietzsche—Gott ist tot  alias “Tuhan telah mati”. Inilah mashab dalam sejarah manusia, kata Nietzshe dalam  Die fröhliche Wissenschaft,  ketika umat manusia sengaja “melenyapkan” peran Tuhan dari kisah hidup umat manusia.

Tentu saja, ungkapan tenar ini hanya semacam ilustrasi dimana manusia sudah meninggalkan Tuhan sebagaimana tampak dalam fenomena sekularisme di abad modern ini dimana semua hal ingin “dibebaskan” dari kontaminasi Tuhan yang oleh para teolog sering disebut theothanatology.

Barangkali, menyaksikan Prometheus hasil besutan Ridley Scott ini menjadi menarik kalau dilihat dari perspektif theothanatology ini. Manusia ingin menguasai Tuhan dan salah satu caranya adalah mencoba menguak misteri asal mula kehidupan dan pencipta kehidupan itu sendiri.

Tapi apa lacur? Di planet antah berantah, taipan Weyhan dan semua kru Prometheus justru menemukan mahkluk alien yang asal usulnya juga dari planet bumi. Alih-alih mau menguasai dunia alien ini, para ilmuwan ambisius ini malah jadi korban keganasan alien.

Nah, film dengan cerita amburadul ini menjadi sedikit menghibur ketika logika saya mencoba mau memahami gagasan Ridley Scott yang –siapa tahu?— sengaja ingin bermain dengan tema besar seperti Gott ist tot tersebut.

Tanpa perspektif ini, Prometheus tak ubahnya mirip sebuah film hantu namun hantunya ternyata jadi-jadian saja.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: