Ayat bacaan: Markus 7:21-23
======================
“sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Kualitas produk jadi tergantung dari seberapa serius sebuah perusahaan itu memproduksinya. Hasil bisa asal-asalan, bisa bagus. Bisa inovatif, bisa hanya meniru. Bisa bebas dari bahan baku yang beresiko bagi kesehatan, bisa hanya mementingkan tampilan dan rasa tapi kandungannya berbahaya. Kalau lihat di iklan, maka semua akan menyebutkan bahwa produk mereka jelas yang terbaik. Dan seringkali konsumen terpedaya oleh manisnya iklan. Ada produk yang kualitasnya secara langsung bisa dibuktikan oleh konsumen, ada yang harus melalui uji laboratorium terlebih dahulu. Satu hal yang pasti, baik tidaknya kualitas akan tergantung dari produsen masing-masing, tidak peduli brand atau merek terkenal atau tidak.

Seperti apa sikap kita hidup pun demikian. Kita bisa bersikap ramah, bisa sombong. Bisa baik, bisa jahat. Bisa jujur dan berintegritas, bisa curang dan manipulatif. Bisa tampil apa adanya dan tulus, bisa penuh kepura-puraan. Semua ini merupakan ‘produk’ sikap yang juga punya tempat produksinya. Dimana? Tempatnya di hati. Seringkali kita tidak sadar bahwa hati merupakan pusat dari cara kita hidup, atau dalam firman Tuhan dikatakan sebagai sumber tempat terpancarnya kehidupan (Amsal 4:23). Dengan kata lain, seperti apa sikap kita, cara kita memandang, menyikapi dan memutuskan sesuatu, sikap kita dalam bermasyarakat, reaksi kita menghadapi situasi, semua itu tergantung dari bagaimana kondisi hati kita saat ini. Hati yang terjaga baik, yang berpusat pada Kristus, dipimpin oleh Roh Allah dan menjadikan Yesus sebagai Pribadi yang bertahta disana akan menghasilkan produk-produk berkualitas baik dalam kehidupan. Sebaliknya hati yang tidak terjaga, yang berisi banyak kepahitan, luka dan berbagai bentuk pengajaran dunia yang menyesatkan akan menghasilkan kualitas kehidupan yang buruk pula.

Seandainya stetoskop dokter bisa mendeteksi kondisi hati, bagaimana hati kita saat ini? Apakah hati kita dalam kondisi baik atau berisi kepedihan, kekecewaan, kemarahan dan hal lainnya yang jauh dari Tuhan? Penulis Amsal sudah mengingatkan kita pentingnya untuk terus menjaga hati, karena seperti yang sudah saya sebut tadi, dari sanalah sebenarnya sebuah kehidupan itu terpancar. Ayatnya berbunyi demikian: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Artinya, apapun yang terpancar keluar, yang terlihat dari diri kita adalah merupakan cerminan dari bagaimana keadaan hati kita.

Akan hal ini, pada suatu kali Yesus Yesus mengingatkan banyak orang akan hal najis atau tidak menurut pandangan adat istiadat Yahudi dan Kerajaan Allah. Dalam konteks ini Yesus menegaskan bahwa “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Markus 7:15). Dalam pandangan Tuhan, apa yang menajiskan manusia bukanlah apa yang ‘dimasukkan ke dalam’ melainkan apa yang keluar dari diri kita. Those are the things that will pollute us, making us unhallowed and unclean. Produk hati akan menentukan najis tidaknya kita di mata Tuhan. Mengapa Yesus berkata bahwa apa yang keluar ini yang menajiskan? Yesus menerangkan, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (ay 21-23). Lihatlah daftar kenajisan yang merupakan produk hati yang tidak terjaga ini. Mungkin kita tidak membunuh, mungkin kita bisa menjaga diri agar tidak mencuri. Tapi sikap sombong, keras kepala atau bebal, iri hati, hawa nafsu, pikiran-pikiran jahat atau negatif, bukankah ini menjadi sesuatu yang semakin hari semakin dianggap biasa oleh manusia? Padahal firman Tuhan jelas berkata bahwa hal-hal yang muncul dari hati ini menjadikan kita najis di hadapan Tuhan.

Karenanya, sangatlah penting bagi kita untuk menjaga hati. Hati yang tidak terkontrol atau terjaga itu sangatlah berbahaya karena dapat menghasilkan produk-produk yang menajiskan kita. Dalam Perjanjian Lama di kitab Yeremia bahkan disebutkan: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9). Bukan saja hati yang licik bisa menipu orang, tapi seringkali kita tidak sadar atau tidak mengetahui seperti apa hati kita hari ini. Kalau tubuh butuh check up berkala, hati yang letaknya tersembunyi itupun harus mendapat perhatian serius juga.

Benar, seringkali sulit bagi kita untuk memeriksa hati kita. Kita bisa secara subyektif mengira kita baik-baik saja padahal ada banyak hal disana yang siap mengotori kita. Tapi Tuhan tahu itu. Kalau kita tidak sanggup jujur terhadap diri sendiri memeriksa dan memastikan hati kita berada dalam kondisi fit dan bersih dari segala kotoran, Tuhan bersedia untuk itu. Lihatlah ayat selanjutnya dalam Yeremia di atas. “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin.” (ay 10). Tuhan telah mengatakan bahwa Dia mau memeriksa hati kita, menyembuhkan yang terluka, membersihkan yang kotor dan mengembalikan hati kita ke dalam keadaan yang baik. Akan hal ini kita juga bisa belajar dari Daud yang terus bertekun memeriksa hatinya agar tetap dalam keadaan bersih atau tahir. Dalam Mazmur 26 dan 139 misalnya, Daud berulang kali meminta Tuhan untuk menyelidiki hati dan batinnya. Daud juga berseru: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12). Kita bisa meniru cara Daud, dan Tuhan bersedia untuk membantu anda jika disertai niat yang sungguh-sungguh ingin membenahi atau memperbaiki hati. Mungkin sulit bagi kita untuk melakukannya sendirian, tetapi kita harus ingat bahwa kita punya Tuhan yang sungguh peduli dan akan segera turun tangan jika kita memiliki niat sepenuhnya untuk menjaga kondisi hati kita.

Kita harus menyediakan diri kita untuk siap dikoreksi dan dibentuk, serta diperbaharui oleh Tuhan. Isilah terus hati kita dengan firman Tuhan, ijinkan hati kita dipimpin oleh Roh Allah dimana Yesus yang bertahta di dalamnya. Dari hati yang seperti itu kualitas hidup terbaik sesuai keinginan Tuhan bisa terpancar.

Pastikan agar kita senantiasa menjalani hidup dengan sebentuk hati yang bersih

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.