Pro Ecclesia et Patria

Agats Papua Pelabuhan Yan SmithMinggu, 17 Agustus 2014.  Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia Sirakh 10:1-8; Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; 1Petrus 2:13-17; Matius 22:15-21 LALU  kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21) Hari ini, kita bersyukur bersama seluruh warga bangsa dan masyarakat Indonesia […]

Agats Papua Pelabuhan Yan Smith

Minggu, 17 Agustus 2014.  Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia
Sirakh 10:1-8; Mzm 101:1ac.2ac.3a.6-7; 1Petrus 2:13-17; Matius 22:15-21

LALU  kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21)

Hari ini, kita bersyukur bersama seluruh warga bangsa dan masyarakat Indonesia yang mengenang Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. Sebagai tanda bangsa Gereja Katolik Indonesia sungguh-sungguh mengasihi bangsa ini, maka, pada hari ini Hari Minggu Biasa XX seturut penanggalan liturgi universal diisi dengan penanggalan liturgi lokal-nasional oleh Konferensi Waligereja Indonesia sebaia Hari Raya Kemerdekaan Repbulik Indonesia.

Bacaan-bacaan yang dipilih dan diwartakan untuk Liturgi Sabda pun disesuaikan dengan roh Hari Raya Kemerdekaan RI. Saya kutip satu ayat yang terus relevan untuk kita renungkan dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI.

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21). Apa yang bisa kita renungkan dengan ayat ini?

Kita sudah sangat hafal dengan slogan yang diserukan oleh Uskup Agung Semarang yang pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata SJ: “100% Katolik, 100% Patriotik”.

Di kemudian hari, setelah bangsa ini merdeka dan menyebut diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bangsa Indonesia, lalu slogan itu dikenal dengan semangat “100% Katolik, 100% Indonesia”.

Tampaknya, slogan ini terinspirasi oleh pepatah dalam bahasa Latin: “pro ecclesia et patria” (untuk Gereja dan untuk Negara).

Para murid Kristus adalah orang-orang yang hidup dalam konteks sosial-politik-kemasyarakatan yang menjadi tempat tinggal dan kodrat kewarganegaraannya. Karenanya, umat Kristiani tidak bisa dan tidak boleh menutup mata terhadap segala persoalan hidup berbangsa dan bernegara.

Maka muncul istilah: hidup menggereja dan memasyarakat. Ya beriman ya berkemasyarakatan. Iman tak hanya diungkapkan dalam tata ibadat, tetapi juga harus diwujudkan dalam dataran kemasyarakatan. Keduanya mesti berjalan seimbang.

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Matius 22:21) lalu bisa dimaknai dalam konteks itu. Kaisar adalah gambaran hidup duniawi. Allah jelas arah dan sumber hidup surgawi. Yang satu bersifat amat insani. Yang bersifat amat rohani.

Akan tetapi, yang terutama dan utama adalah hak Allah! Maka, bila kaisar berlaku lalim, tidak adil, korup, dan sewenang-wenang, itu melanggar hak Allah. Umat beriman harus berani melawan, bukan dengan kekerasan tetapi dengan kelembutan.

Hak Allah adalah keadilan, kasih, kesejahteraan dan kerukunan serta perdamaian. Umat beriman harus berjuang untuk mewujudkannya dalam kehidupan bersama.

Adorasi Ekaristi Abadi memang sebuah ungkapan iman. Namun, ungkapan itu sekaligus menjadi perwujudan sebab setiap doa yang dipersembahkan dalam Adorasi Ekaristi Abadi berujung pada kasih, kesejahteraan, keadilan, ketertiban dan kerukunan.

Tuhan Yesus Kristus, berkatilah bangsa kami agar tetap rukun bersatu dalam kasih, keadilan, kesejahteraan dan keadamaian hidup bersama. Jauhkanlah bangsa kami dari segala mara bahaya dan kehancuran agar kami tetap merdeka sebagai bangsa yang Kau berkati, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem

SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman

Kredit foto: Patung alm. Pastor Yan Smit OSC yang menjadi korban pembunuhan karena alasan sektarianisme di Kabupaten Agats, pedalaman Papua. Kini patung Yan Smit berdiri tegak di ujung dermaga pelabuhan utama Kabupaten Agats, Papua. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply