Prioritas yang Keliru

Ayat bacaan: Hagai 1:9b===================”Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”Baru saja saya bertemu dengan seorang penyanyi senior yang bercerita tentang sahabat dekatnya…

Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”

prioritas keliru

Baru saja saya bertemu dengan seorang penyanyi senior yang bercerita tentang sahabat dekatnya yang tengah dirundung masalah. Temannya membuka cafe, tapi serentetan masalah menimpanya. Ia cukup kaya, termasuk orang yang terus bekerja tanpa henti. Tapi ada banyak masalah datang kepadanya, mulai dari kesehatan sampai berbagai masalah dalam usaha. Meski pindah tempat sekalipun ternyata masalahnya tidak juga selesai. Teman saya itu pun berkata, “Sayang sekali itu semua harus terjadi… ia itu orang percaya, tetapi jauh dari Tuhan. Saya sudah mengingatkannya tapi ia terus saja bertindak menurut pikirannya sendiri. Ia harus sadar bahwa semua kesuksesan itu datangnya dari Tuhan, dan bukan atas kekuatan sendiri saja..” Hal seperti ini banyak dialami orang. Mereka sudah berusaha mati-matian, bekerja siang dan malam tanpa berhenti, bahkan sudah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya. Tetapi hasil yang diperoleh masih saja belum sesuai dengan usaha yang dikeluarkan. Kalau sudah begini, ada baiknya orang yang mengalami meninjau ulang skala prioritasnya. Jika hanya terus bekerja,berkejar-kejaran dengan waktu hingga lupa kepada hal-hal lainnya, keluarga diabaikan, dan yang paling mengenaskan, waktu-waktu bersama Tuhan pun dinomor duakan atau bahkan diabaikan, maka artinya ada kesalahan prioritas dalam hidup yang harus ditinjau ulang. Benar, kita harus bekerja dengan keras dan sungguh-sungguh, tapi itu bukanlah segalanya. Banyak orang yang melakukan kekeliruan seperti ini. Tuhan hanya dijumpai jika ada waktu, kalau lagi sibuk nanti saja kapan-kapan. Tuhan bukan lagi yang utama melainkan melorot ke posisi kesekian dalam daftar prioritas manusia. Beribadah ke gereja adalah membuang-buang waktu karena 2 jam itu seharusnya bisa dipergunakan untuk menambah pundi-pundi uang. Lucunya, ketika masalah melanda, Tuhan pula yang kemudian disalahkan.

Kita bisa melihat situasi yang sama di Alkitab dalam banyak kesempatan. Salah satunya adalah pada zaman Hagai. Pada masa itu bangsa Israel dikatakan terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka hanya sibuk untuk terus mempercantik rumah sendiri sampai-sampai rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Maka Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela sikap mereka ini secara langsung. Tidaklah heran apabila mereka terus menerus memperoleh hasil yang sedikit dan hidup dalam kekeringan, mengalami kegagalan atas segala yang mereka usahakan, dan itu terjadi “Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (ay 9b). Tuhan tersinggung dan kecewa dengan sikap seperti ini. Semua itu tertulis jelas di dalam kitab Hagai yang mencatat langsung suara Tuhan yang menegur keras sikap bangsa ini. “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya.” (ay 6,9a). Tentu saja wajar Tuhan menegur sikap buruk seperti ini. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan, kesabaranNya dan kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka. Alangkah keterlaluannya jika mereka hanya mau berkat turun atas mereka tapi melupakan Sang Pemberinya. Dan yang terjadi adalah segala sesuatu yang sia-sia. Kesia-siaan akibat mengambil prioritas yang salah ini pun nyata tertulis sepanjang kitab Pengkotbah yang notabene ditulis oleh orang yang terkaya yang pernah hidup di dunia ini.

Kita begitu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi Tuhan dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani dan mengira bahwa itu tandanya mereka sudah dekat dengan Tuhan, padahal bisa jadi mereka hanya terus melakukan tapi melupakan saat-saat untuk duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Lewat Yesus kita bisa mengetahui kekeliruan seperti ini, yaitu ketika Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Kunjungan seistimewa ini ternyata disikapi berbeda oleh keduanya. Marta sibuk melayani, sedang Maria memilih untuk terus duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Marta kemudian mengeluh karena ia melayani sendirian dan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42). Hal ini tentu saja bukan berarti bahwa kita hanya perlu terus berdoa saja dan boleh malas-malasan atau tidak perlu bekerja, tetapi ada skala prioritas atau keseimbangan yang sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan. Terlalu sibuk bekerja, bahkan terlalu sibuk melayani bisa membuat kita lupa untuk memilih yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, merasakan hadiratNya dan mendengar suaraNya. Lewat Hagai Tuhan menegur agar kita tidak hidup untuk diri sendiri saja, mementingkan diri kita saja, tetapi harus pula memperhatikan rumah Tuhan juga sebagai tanda kasih dan hormat kita kepadaNya. Dalam kisah Yesus bersama Marta dan Maria kita pun bisa melihat bahwa terlalu sibuk bekerja dan melayani meski tujuannya baik pun tidaklah benar jika itu membuat kita jauh dari Tuhan, melupakan dan menomorduakan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus sudah memberikan kuncinya dengan sangat jelas. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Atau dalam versi Lukas dikatakan: “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” (Lukas 12:31). Sadarilah bahwa di atas segala kekuatan dan kemampuan kita, berkat sesungguhnya berasal dari Tuhan. Jika demikian, adalah penting bagi kita untuk menarik rem sejenak dari kesibukan kita, pekerjaan atau bahkan pelayanan. Kita harus memperhatikan betul agar jangan sampai kesibukan kita membuat hal-hal penting lainnya dalam keseharian kita. Mengurus keluarga, membagi waktu buat istri/suami dan anak-anak serta keluarga lainnya, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman, kesehatan kita terutama hubungan kita dengan Tuhan. Tidaklah salah jika kita bekerja dengan keras dan serius karena itu memang merupakan keinginan Tuhan atas diri kita, tetapi perhatikan baik-baik agar jangan semua itu merebut hubungan kita dengan sesama terutama dengan Tuhan. Jika anda termasuk orang yang super sibuk, ini saatnya untuk menelaah kembali sejauh mana kita sudah mengendalikan kesibukan tanpa harus mengorbankan hal-hal penting lainnya. Lihatlah ke sekitar anda, ada keluarga yang tetap butuh perhatian dan kasih sayang, dan ada Tuhan yang tengah menanti anda untuk datang kepadaNya untuk menyatakan kasih kepadaNya.

Jangan korbankan keluarga dan Tuhan demi kesibukan bekerja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply