Prioritas bagi Keluarga

Ayat bacaan: 1 Samuel 2:12
====================
“Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,”

prioritas bagi keluarga

Sebagai seorang pria, ada kalanya saya merasa kehabisan nafas untuk bisa berbuat yang terbaik. Selain harus bekerja, saya juga harus mengurus begitu banyak hal karena saya hanya tinggal berdua dengan istri saya dan belum dikaruniai anak. Pekerjaan ada beberapa, belum lagi pelayanan, dan berbagai hal yang mau tidak mau harus saya atasi sesuai fungsi saya sebagai kepala rumah tangga. Belum punya anak saja sudah berat, saya membayangkan bagaimana para pria yang sudah punya anak harus membagi waktunya. Kalau sudah begini, memilah-milah prioritas menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar. Para pria seringkali menganggap bahwa tugas utama mereka adalah bekerja, mencari nafkah dan secukupnya saja meluangkan waktu untuk anak. Dalam pikiran banyak pria, yang penting kebutuhan istri dan anak-anak tercukupi, lebih baik lagi kalau berlimpah. Sebuah hasil survey yang pernah saya baca mengungkapkan bahwa orang tua terutama pria memang berpikir seperti itu. Mereka berpikir bahwa anak-anak akan bahagia apabila kebutuhan mereka tercukupi dan mereka bisa mendapatkan segala yang mereka inginkan. Tetapi hasil survey dari sisi anak justru berbeda. Anak-anak ternyata tidak berpikir dari segi kelimpahan materi, tetapi hasil survey terbesar justru menunjuk pada satu titik, yaitu waktu. Apa yang paling membahagiakan bagi mereka adalah waktu yang cukup untuk bermain bersama orang tuanya. Ketika para ayah berpikir dari segi pemenuhan kebutuhan bagi anak-anak mereka, anak-anak menganggap kebersamaan adalah yang paling mereka butuhkan. Ada begitu banyak anak-anak yang kurang mendapat kasih sayang atau bimbingan di saat mereka bertumbuh sementara mereka terus dimanjakan dari sisi materi. Akibatnya kita sering melihat meski mereka berasal dari keluarga berada, tetapi perilaku atau gaya hidup mereka banyak yang buruk. Retaknya keluarga kebanyakan berasal dari kurangnya kebersamaan antar sesama anggotanya. Dan yang memprihatinkan, kita sering melihat anak-anak yang sama sekali tidak mencerminkan orang tuanya. Ayahnya bekerja banting tulang sepanjang hari, atau dihormati banyak orang, namun anak-anaknya justru menunjukkan perilaku yang tercela. Kurang perhatian, kurangnya kebersamaan dan terlalu dimanja seringkali menjadi awal datangnya bencana seperti ini.

Salah satu keluarga seperti ini bisa kita lihat dalam Alkitab, yaitu keluarga imam Eli. Imam Eli merupakan imam yang terpandang. Tinggal di bait Allah. Tetapi lihatlah kelakuan anaknya justru tidak mencerminkan anak seorang imam besar sama sekali. Ketika imam Eli bisa mendidik umat dengan baik, dan juga mendidik Samuel dengan sukses, Hofni dan Pinehas justru lebih mirip preman ketimbang anak seorang imam. Alkitab sampai menyebutkannya seperti ini: “Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,” (1 Samuel 2:12). Betapa ironisnya. Mengapa ini bisa terjadi? Sepertinya imam Eli salah meletakkan prioritas. Ia sibuk bekerja dan aktif melayani, tetapi kemudian lupa akan tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga yang memiliki anak-anak untuk dibina, dibentuk, diasuh dan dibesarkan dalam takut akan Tuhan. Ia terlalu lembek dan tidak tegas. Kita bisa melihatnya dari ayat berikut: “Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, berkatalah ia kepada mereka: “Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran.” (ay 22-24). Ia mengingatkan, tetapi tidak tegas memberi teguran. Tuhan pun tahu kesalahan Eli tersebut. “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” (3:13). Dia tidak mendisiplinkan anak-anaknya dengan benar, bahkan hingga dikatakan lebih menghormati anaknya ketimbang Tuhan, “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?” (2:29) Tidak mendisplinkan, terlalu lemah, terlalu memanjakan, bahkan dia terus membiarkan anak-anaknya menggemukkan diri dengan bagian terbaik dari korban yang disajikan di dalam Kemah Suci dan membiarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak sopan, mengancam bahkan dosa percabulan. Dan akibatnya hukuman keras pun jatuh. Bacalah bagaimana kerasnya hukuman Tuhan itu dalam 1 Samuel 2:30-36. Ironis dan tragis, itu yang muncul di benak saya melihat kisah dari keluarga imam Eli ini. 

Salah prioritas adalah satu lagi yang bisa kita lihat dari keluarga ini. Imam Eli terlalu sibuk bekerja dalam pelayanan sehingga sudah tidak cukup waktu dan tenaga lagi untuk mengasuh anak-anaknya. Jika kita perhatikan dalam kehidupan kita, bukankah banyak dari kita yang juga berbuat sama? Kita sibuk bekerja untuk mencari nafkah, kita terjun dalam pelayanan, lalu mengabaikan atau menomor duakan anak-anak, istri dan keluarga. Membagi waktu itu memang tidaklah mudah. Namun skala prioritas yang benar harus kita perhatikan baik-baik. Jika kebanyakan pria meletakkan keluarga tidak dalam posisi teratas dan harus selalu siap untuk dikorbankan demi tugas-tugas atau pekerjaan, Alkitab sama sekali tidak menyebutkan demikian. Salah satunya bisa kita lihat dari apa yang dikatakan Yesus berikut: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Lihatlah ada sebuah urutan disana. Di Yerusalem, itu berbicara mengenai keluarga, lalu meningkat ke Yudea, menggambarkan lingkup regional, lalu ke Samaria yang mengacu kepada negara/nasional dan baru mencapai dunia. Artinya kita tidak akan bisa bermimpi untuk bisa menjadi berkat bagi dunia atau kota sekalipun jika kita tidak memulainya dari keluarga. Tidakkah ironis jika kita berhasil melayani orang lain tetapi justru gagal dalam keluarga sendiri, pintar mengajari orang tetapi tidak bisa mengajar anak sendiri? Keluarga harus menjadi prioritas utama di atas pekerjaan atau pelayanan sekalipun. Idealnya rumah tangga orang percaya seharusnya bisa menjadi rumah yang sejuk, nyaman dan damai, dan bisa menjadi teladan bahkan kesaksian tersendiri bagi orang lain. Terhadap anak kita para pria diminta untuk bisa meluangkan waktu bersama mereka dan mendidik mereka berulang-ulang. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7) Bagaimana kita bisa mengajarkan berulang-ulang apabila kita jarang bersama mereka? Tetapi itupun belum cukup, sebab ayat selanjutnya berkata: “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9). Ini menggambarkan pentingnya kita untuk menjadi teladan. Bagaimana anak-anak bisa menerima apa yang kita ajarkan jika kita tidak menjadi teladan, dan bagaimana orang bisa percaya kepada apa yang kita katakan jika anak-anak kita tidak mencerminkan pribadi yang takut akan Tuhan?

Menetapkan skala prioritas adalah hal yang tidak boleh diabaikan, dan mulailah dari keluarga terlebih dahulu sebelum menjangkau sesuatu yang lebih luas. Jangan sampai pekerjaan atau pelayanan membuat keluarga justru terbengkalai atau berantakan, karena sesungguhnya keteladanan justru dimulai dari keluarga. Dari keluarga imam Eli kita bisa melihat konsekuensi dari ketidaktegasan, memanjakan hingga kesalahan dalam menetapkan skala prioritas. Para pria, mari kita lihat istri dan anak-anak kita, apakah mereka sudah mendapat cukup perhatian dari kita? Menjadi pria memang tidak mudah. It’s never easy. Tetapi sadarilah bahwa keluarga membutuhkan figur ayah teladan yang mengasihi mereka dan rindu untuk meluangkan waktu bersama dengan mereka.

Ayah teladan adalah ayah yang tahu prioritas untuk menempatkan keluarga

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply