Pribadi pun Bisa Mangkrak

hidup stagnan by nanda berezza“Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Luk 14, 29-10) ‘Mangkrak’ merupakan istilah yang tidak asing bagi kita. Istilah ini artinya sama dengan terbengkelai dan tidak terurus. Istilah ini banyak dikaitkan dengan pembangunan berbagai […]

hidup stagnan by nanda berezza

“Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.” (Luk 14, 29-10)

‘Mangkrak’ merupakan istilah yang tidak asing bagi kita. Istilah ini artinya sama dengan terbengkelai dan tidak terurus. Istilah ini banyak dikaitkan dengan pembangunan berbagai macam proyek, seperti gedung, pasar, terminal, jembatan, dsb.

Proses pembangunan sudah dimulai dan berjalan. Namun, proses pembangunan tersebut akhirnya berhenti dalam waktu lama atau berhenti sama sekali, sebelum seluruh bangunan selesai dengan tuntas.

Banyak alasan bisa muncul, seperti soal perizinan, keuangan, penolakan sekelompok masyarakat, ditinggal lari pemborong, dsb. Sebuah proses pembangunan bisa mangkrak karena kurang direncanakan dan dipertimbangkan dengan matang dari berbagai segi.

‘Mangkrak’ rupanya tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung atau proyek lain, tetapi juga bisa terjadi dalam diri para murid. Proses ‘pemuridan’ pun suatu saat bisa ‘mangkrak’, dalam arti berhenti di tengah jalan dan tidak selesai dengan tuntas.

Proses bisa berhenti sebelum seseorang menerima pembatisan. Beberapa katekumen sering batal dibaptis karena keputusan sendiri atau tidak memenuhi syarat yang dituntut. Setelah pembaptisan pun, banyak murid yang akhirnya ‘mangkrak’, artinya tidak menghidupi dengan sungguh-sungguh imannya.

Iman akan Yesus Kristus tidak pernah diungkapkan dalam doa, ibadat atau kegiatan liturgi lain. Hidup bersama dalam paguyuban juga tidak pernah dipedulikan. Bahkan banyak murid yang berhenti, meninggalkan Yesus Kristus dan berpaling ke arah lain. Proses pemuridan pun ‘mangkrak’ dengan berbagai macam alasan.

Dalam hal inilah, Yesus mengajak para murid-Nya untuk merencanakan dan mempertimbangkan dengan matang pilihan dan keputusan mereka untuk mengikuti-Nya. Siap gak mereka mengikuti-Nya dengan memanggul salib? Jangan sampai mereka memulai sesuatu, tetapi tidak mampu menyelesaikannya dengan tuntas; memilih sesuatu, tetapi tidak konsisten. Jadi murid, tetapi tidak happy dan commited. Ya, mangkrak.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Nanda Berezza)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply