Prajurit

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3
======================
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

prajurit Kristus

Seperti apa sikap prajurit yang baik? Dalam dunia ketentaraan kita dikenal Sumpah Prajurit yang berisi 5 butir janji. Setia kepada negara, tunduk pada hukum dan memegang teguh disiplin, taat penuh kepada atasan dan tidak membantah perintah atau putusan, menjalankan segala kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan memegang rahasia ketentaraan sekeras-kerasnya. Pada kenyataannya ada oknum-oknum prajurit yang ternyata perilakunya menyimpang dari janji mereka sendiri, namun itu semua adalah perbuatan orang perorang dan bukan secara kelembagaan. Oknum-oknum yang menyimpang memang ada dan akan selalu ada, tapi jangan lupa bahwa ada banyak pula prajurit yang memegang teguh prinsipnya dan rela berkorban jiwa dan raga demi Ibu Pertiwi. Dari sudut kelembagaan, prajurit yang baik haruslah memegang teguh Sumpah Prajurit ini, termasuk juga Sapta Marga dan Delapan Wajib TNI.

Sosok kehidupan kita sebagai orang Kristen pun digambarkan Paulus seperti seorang prajurit. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menggambarkan bahwa kehidupan pengikut Kristus haruslah seperti seorang prajurit (2 Timotius 2:3-4), olahragawan (ay 5) dan petani (ay 6). Selama tiga hari ke depan kita akan membahas ketiga gambaran ini, dan hari ini kita akan mulai dari sosok prajurit. Dalam surat Paulus dikatakan demikian: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:3-4). Seorang prajurit yang terlatih baik wajib tunduk sepenuhnya kepada komandannya, meski membahayakan nyawanya sekalipun. Prajurit yang baik haruslah mampu mengabaikan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar. Dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan total kepada komandannya dan kesiapan untuk berkorban. Yesus sendiri telah memberikan keteladanan bagaimana sosok prajurit yang ideal. “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:7-8). Ini gambaran ketaatan penuh yang langsung diperagakan secara nyata oleh Kristus sendiri.

Hidup prajurit tergantung penuh kepada komandannya, dan sang komandan lah yang memikirkan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Dalam kehidupan Kekristenan kita diminta untuk senantiasa siap menjadi prajurit Kristus yang baik. Dalam hal ini, Kristus bertindak sebagai sosok “Komandan” yang akan selalu mencukupi kebutuhan kita, sangat memperhatikan kita pribadi demi pribadi bahkan telah menjanjikan kita sebuah keselamatan yang sifatnya kekal. Seorang prajurit Roma pernah menemui Yesus dan menyadari sepenuhnya otoritas Kristus sebagai atasannya ketika ia minta agar bawahannya disembuhkan. “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” (Matius 8:9). Maka jika Yesus mengatakan sepatah kata saja, bawahannya pun akan sembuh, tanpa perlu repot-repot untuk pergi langsung ke rumahnya. Sang prajurit Roma ini menunjukkan ketaatan penuh kepada Kristus yang berada di atasnya. Dari kisah ini kita mendapatkan gambaran yang baik mengenai hubungan yang baik antar tingkat kepemimpinan. Yang di atas memperhatikan bawahan, sedang yang dibawah patuh kepada atasannya.

Mengapa kita harus dibentuk menjadi prajurit Kristus? Apakah kita diharuskan untuk berperang dan membumihanguskan orang-orang yang tidak seiman? Sama sekali tidak. Kita tidak diminta untuk menyerang siapa-siapa. Bahkan memusuhi saja pun kita tidak diperbolehkan. Kita harus bisa mengasihi sesama kita, siapapun mereka dan apapun latar belakang mereka. Apa yang harus kita perangi bukanlah manusia, melainkan kuasa-kuasa atau roh-roh jahat di udara. “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12). Kita harus tahu bahwa hidup di dunia ini seperti berada di medan perang. Kita harus menghadapi terus peperangan menghadapi iblis dan siasat-siasat gelapnya. Kita senantiasa harus berjuang mempertahankan iman kita. Karena itulah kita harus selalu siap untuk menderita dan tetap patuh kepada Komandan kita yaitu Yesus Kristus sendiri. Dan untuk itulah kita diminta agar terus mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” (ay 11). Perlengkapan senjata Allah itu adalah “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” (ay 14-17).

Kehidupan Kekristenan bukanlah bentuk kehidupan yang berleha-leha, santai dan tanpa masalah, melainkan bentuk kehidupan yang membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kerja keras tanpa henti dari kita. Untuk bisa menjadi prajurit yang baik tentu dibutuhkan ketekunan dan keseriusan untuk terus melatih diri kita. Seperti apa yang diingatkan Paulus pula, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:7-8). Seperti halnya prajurit di tiap negara terus dilatih dan dipersiapkan agar bisa menjadi prajurit yang baik, secara keimanan kita pun kita harus terus melatih diri kita dari hari ke hari agar bisa menjadi lebih baik lagi sebagai prajurit Kristus yang kuat dan loyal. Ijinkan Roh Kudus untuk terus membimbing setiap langkah anda agar siap dibentuk menjadi prajurit Kristus yang baik.

Jadilah prajurit Kristus yang memegang teguh iman menghadapi peperangan dengan kuasa kegelapan dan segala tipu muslihatnya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply