Pondasi Kuat

Ayat bacaan: Lukas 6:47-48
==========================
“Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya..ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.”

pondasi kuat, dasar kuat, dasar rohani, batu karang

Dalam usaha mencari rumah beberapa bulan yang lalu saya menjadi lebih banyak belajar mengenai pentingnya pondasi rumah sebelum membeli. Ada beberapa perumahan yang terlihat menarik dari luar, harganya pun relatif murah, namun ternyata jika diamati lebih jauh ternyata rumah yang dibangun disana tidak cukup kokoh untuk ditinggali buat jangka waktu lama. Malah ada rumah yang belum ditempati tapi bagian depannya sudah roboh. Saya jadi tahu bahwa tidak cukup keindahan tampak luarnya saja yang penting, bukan cuma luas tanah, bangunan dan harganya yang harus menjadi pertimbangan, tapi ternyata kekokohan pondasi pun sangat penting, bahkan paling penting karena menyangkut ketahanan rumah dalam melintasi waktu. Apa yang tampak indah belum tentu kuat. Karena itulah titik berat saya dalam mencari rumah berubah dengan mementingkan kokoh tidaknya pondasi yang dibuat sebelum rumah didirikan.

Jika pondasi rumah saja begitu penting, apalagi pondasi kehidupan kita. Kehidupan ini tidaklah mudah untuk dijalani. Selalu ada badai masalah, tekanan, problema dan berbagai rintangan yang akan terus menerjang kita dari segala sisi. Bagaimana kita bisa bertahan dan tetap tegar ditengah badai jika kita tidak memiliki pondasi yang cukup kuat? Bisa-bisa terkena masalah kecil yang jika dibandingkan dengan badai hanya berupa angin sepoi saja kita sudah runtuh. Tuhan Yesus sudah mengingatkan pentingnya membangun pondasi yang kuat sebagai dasar untuk hidup. FirmanNya: “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” (Lukas 6:47-48). Seperti halnya rumah yang dibangun dengan membuat pondasi jauh menembus permukaan, rumah itu tidak akan gampang goyah ketika air bah, banjir, atau badai dan gempa melanda rumah itu. Betapa besar peran pondasi yang kokoh dalam menjaga rumah agar tetap tegak berdiri di tengah badai. Seperti itu pula yang akan terjadi dengan kita jika kita peduli untuk meletakkan dasar yang kuat bagi kerohanian kita. Masalah yang silih berganti niscaya tidak akan mudah meruntuhkan kita. Bagaimana sebaliknya? Yesus melanjutkan: “Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.” (ay 49). Orang yang tidak peduli dengan dasar yang kuat akan menjadi seperti rumah yang dibangun di atas tanah tanpa dasar. Sedikit saja digoyang, rumah akan rubuh dan hancur lebur.

Lihatlah bahwa bangunan boleh saja tampak sama indah dari luar. Namun kualitas sesungguhnya baru akan terlihat apabila ada goncangan menerpanya. Bangunan yang punya pondasi kuat tidak akan gampang rusak meski dilanda berbagai bencana, tapi sebaliknya bangunan yang dibangun ala kadarnya akan porak poranda, hancur berkeping-keping ketika badai, banjir atau air bah datang menghantamnya. Seperti halnya bangunan, demikian pula kerohanian kita. Agar kuat, kita perlu memperhatikan atau bahkan menitikberatkan pertumbuhannya dalam sebuah dasar yang kuat.

Bagaimana caranya? Sama seperti kemarin, Yesus pun ternyata mengajarkan hal yang sejalan dengan renungan kemarin. Rumah yang dibangun dengan dasar yang kuat akan berlaku kepada “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya”. (ay 47). Ini syaratnya untuk membuat sebuah pondasi kokoh kerohanian yang berpengaruh pada kekuatan hidup. Datang kepadaNya, mendengarkan perkataanNya dan melakukan firmanNya. Berhenti pada percaya kepadaNya dan mengetahui firmanNya saja tidaklah cukup untuk membangun pondasi kuat. Kita harus pula melanjutkan dengan melakukan apa yang Dia ajarkan. Kita harus melandaskan hidup kita sepenuhnya pada batu karang yang tidak lain adalah Kristus sendiri. (1 Korintus 10:4).

Dasar kekristenan bukanlah sekedar rajin berseru kepada Tuhan saja. Itu tidak cukup. Yang akan mendapat tempat ke dalam Kerajaan hanyalah orang yang tidak berhenti hanya sampai disana, tapi melanjutkan pula kepada melakukan firman. Yesus berkata “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21) Tuhan tidak berkenan kepada orang yang rajin berseru, tapi hanya sebatas teoritis saja tanpa disertai praktek atau aplikasi secara nyata dalam kehidupan. “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Karenanya janganlah berpuas diri hanya ketika kita sudah rajin berdoa, atau ketika kita sudah rajin membaca firman Tuhan. Itu baik adanya, namun tanpa disertai perbuatan nyata sesuai kehendak Tuhan, semua itu tidak akan bermanfaat.

Orang saleh bukanlah orang yang hanya rajin berdoa dan tampak suci di mata masyarakat, tapi sebenarnya adalah orang yang melanjutkan langkahnya dengan melakukan segala sesuatu dalam ketaatan penuh sesuai firman Tuhan. Bagi orang-orang yang saleh Tuhan menjanjikan begitu banyak kebahagiaan seperti yang tertulis dalam Mazmur 16:1-11. Apa yang Tuhan janjikan seindah ini: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa” (Mazmur 16:11), dan itu semua akan hadir kepada orang-orang yang peduli untuk membangun kehidupannya di atas dasar rohani yang kuat. Oleh karena itu, hendaklah kita tidak berhenti hanya kepada percaya dan membaca saja, namun melanjutkan itu pula dengan menjadi para pelaku firman yang mampu menjadi terang dan garam di manapun kita berada. Perhatikan baik-baik kehidupan kita apakah sudah dibangun dengan pondasi kuat atau belum. Jika belum, benahilah segera sebelum terlambat.

Tingkatkan kepada melakukan firman agar kita memiliki pondasi yang kuat

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: