Pondasi Keluarga menurut Amsal 3:3 (4)

(sambungan)

3. Takut akan Tuhan merupakan sumber utama

Kita tentu sudah tahu bahwa hikmat bermula dari takut akan Tuhan (Amsal 9:10, Mazmur 111:10). Tapi kita harus ingat bahwa kasih dan kesetiaan pun bermula dari sumber yang sama. Itu bisa kita ketahui dari ayat berikut ini: “Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.” (Amsal 16:6). Jika kita buka 1 Yohanes 4:8 maka kita akan mendapatkan ayat yang berbunyi: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.”
Gabungan dari kedua ayat ini sangatlah sederhana. Takut akan Tuhan akan membawa kita menjauhi kejahatan, dan ketika kebencian, kemarahan, kekecewaan, dendam dan kepahitan yang mendominasi hati kita, maka dikatakan kita tidak mengenal Allah.

Apa yang dimaksud takut akan Tuhan sama sekali tidak sama dengan bentuk ketakutan-ketakutan negatif seperti rasa takut dibunuh, takut hantu, takut dimarahi atau berbagai bentuk phobia. Takut akan Tuhan berbicara mengenai pengenalan dan hormat kita akan kekuatan, kebesaran, kemuliaan, ororitas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan itu positif, menggambarkan sebuah bentuk ketakutan yang sehat. Menerapkan takut akan Tuhan berarti kita menghormati Tuhan, patuh dan taat kepada perintahNya, tunduk secara total, berpegang kepadaNya dan percaya penuh kepadaNya. Takut akan Tuhan adalah sebuah sumber atau modal utama untuk bisa memiliki dan menjadikan kasih dan kesetiaan hidup dalam diri kita, dan itu juga merupakan sumber untuk mendapatkan hikmat. Karena itu tepatlah apabila Pengkotbah menyimpulkan demikian: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” (Pengkotbah 12:13).

Hari-hari ini perceraian bukan saja menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan orang dunia, tetapi banyak keluarga Kristen pun mulai terjangkit penyakit yang sama. Ini terjadi akibat banyak hal, dan kita mungkin bisa mencari pembenaran. Tapi secara umum semuanya berakar pada satu hal: yaitu hilangnya kasih dan kesetiaan di dalam keluarga, atau ketika sejak semula keluarga dibangun tanpa memakai kasih dan kesetiaan sebagai pondasinya. Kasih dan kesetiaan ditinggalkan, lalu digantikan oleh ego, rasa ingin menang sendiri, rasa pamrih dan kesombongan. Selagi anda masih punya kesempatan, benahilah segera. Kasih dan kesetiaan akan membuka keran pengampunan, perbaikan, pemulihan. Sebaliknya jika itu hilang, yang akan timbul adalah perselisihan, perpecahan hingga saling balas dendam. Jika ada diantara teman-teman yang tengah mengalami keretakan keluarga atau bahkan berpikir untuk berpisah, mari renungkan kembali kasih dan kesetiaan Tuhan kepada kita. Itu akan memberi anda akses merasakan mata air kasih Tuhan yang mampu memberi kesegaran, kekuatan, ketabahan dan kemampuan untuk saling mengampuni dan saling memperbaiki, sehingga anda bisa menjaga keutuhan keluarga anda.

Kalungkan kasih dan kesetiaan pada leher, tuliskan pada loh hati dan alami indahnya keluarga yang berjalan bersama-sama dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: