Pondasi Keluarga menurut Amsal 3:3 (3)

(sambungan)

2. Jangan lupakan kasih anda mula-mula

Anda memakai cincin kawin sebagai tanda bahwa anda sudah menikah, memiliki pasangan dan tidak mencari pasangan lain. Jika anda suka terhadap seseorang tapi ia sudah memakai cincin kawin, anda tentu harus berpikir ulang untuk mendekatinya bukan? Itulah gambaran dari kasih dan kesetiaan yang harus anda kalungkan di leher seperti yang dikatakan dalam Amsal 3:3.

Kita harus sadar bahwa dari dulu iblis sangat suka bekerja menghancurkan keluarga bukan dengan tampil menakut-nakuti dengan sosok seram tetapi dengan menembakkan api kekecewaan, kebencian dan kepahitan. Suami kecewa karena istri dianggap sering terlalu cerewet, kurang mengerti atau menghargai usaha, istri kecewa karena suami kurang perhatian, terlalu sibuk sendiri atau malah mudah marah, anak-anak kecewa karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga tidak memperhatikan mereka. Semua ini bisa menjadi retakan yang jika tidak diatasi bisa meruntuhkan bangunan keluarga. Ada satu cara yang saya rasa sangat efektif selagi anda dalam proses pembenahan: kembalilah kepada kasih mula-mula. Coba ingat kembali ketika anda baru jatuh cinta terhadap pasangan anda. Masa-masa pacaran serasa dunia milik berdua, apapun siap dilakukan demi mendapatkannya. Anak-anak bisa kembali merenungkan bagaimana ayah dan ibunya merawat sejak kecil, bekerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan dan memberi pendidikan yang baik hingga tumbuh seperti sekarang. Kasih mula-mula seperti ini bisa mengobati perasaan kecewa, kepahitan atau bahkan kebencian yang mulai tumbuh bagai benalu di dalam hati anda.

Terhadap pasangan anda bisa meninggalkan kasih mula-mula, kepada Tuhan pun demikian. Manusia punya kecenderungan untuk merasa bosan dan bisa sangat sulit menetapkan prioritas. Ketika Tuhan menunjukkan kesetiaan yang luar biasa besar kepada manusia, bahkan berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20) dan akan selalu berjalan menyertai kita tanpa membiarkan dan meninggalkan (Ulangan 31:6b), kita sebagai manusia bisa melupakan atau menomorduakanNya pada suatu ketika.

Oleh karena itu kita harus berpegang pada kasih mula-mula dan menjaga api kasih itu agar tetap menyala. Dalam Wahyu 2:4 pun kita bisa melihat teguran kepada orang-orang yang mulai kehilangan kasih mula-mula. Baik kepada Tuhan maupun kepada pasangan kita, api cinta atau kasih mula-mula ini haruslah kita jaga supaya jangan sampai meredup lalu padam. Ada kalanya kita kecewa terhadap pasangan atau anak, ada kalanya kita membuat anak-anak kecewa kepada kita. Sebelum retak itu menghancurkan, perbaikilah segera dan jangan pelihara segala rasa negatif dalam diri anda atas mereka. God loves you with an unconditional love, that’s the way you have to do with your family. Jangan cepat marah, membenci, kesal atau kecewa. Jangan biarkan hal-hal seperti itu tumbuh seperti semak duri di dalam hati anda, karena itu bisa membuka banyak kehancuran yang pada suatu ketika sulit anda atasi.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply