poster POLTERGEIST 2015

ZAMAN adalah fenomena yang tidak ada habisnya untuk dibahas dan diceritakan dari jaman ke jaman. Tidak hanya di Indonesia saja fenomena zaman menjadi trending topic yang selalu menarik untuk diceritakan, namun di luar negeri ternyata zaman juga dikisahkan dalam bentuk dan model yang beraneka ragam.

Dua tahun terakhir ini, beberapa film bertema zaman versi barat bertebaran di layar-layar bioskop kita. Sebut saja film Annabelle karya John R. Leonetti yang menjadi box office kala itu. Annabelle yang merupakan kisah prekuel dari The Conjuring sempat mencuri animo dan perhatian pada penikmat film horor di seantero dunia dan menjadi perbincangan hangat dimana-mana.

Pun film-film horor seperti Jessabelle, The Woman in Black 1 & 2, Insidious chapter 1, 2 dan 3, The Purge dan Paranormal Activity tak pernah kehilangan penggemarnya; meskipun secara visual menampilkan beragam fenomena yang membuat bulu kuduk kita berdiri.

Re-make yang tetap menarik

Adalah Poltergeist (2015) yang merupakan remake (reproduksi) dari film berjudul serupa yang tenar di tahun 1982. Film Poltergeist dikenal sebagai film horor klasik tentang sebuah keluarga yang rumahnya dizamani oleh kekuatan jahat. Bahkan di era 1980-an, film Poltergeist dibuat triloginya, dan semua sukses di pasaran.

Versi asli Poltergeist dibesut oleh sutradara Tobe Hooper yang pada masa itu dikenal sebagai sutradara horor dengan karyanya Texas Chainsaw Massacre dan miniseri Salem’s Lot. Sedangkan Steven Spielberg menjadi produser sekaligus penulis naskahnya. Beberapa karya Spielberg yang populer saat itu antara lain Jaws dan Raiders of the Lost Ark.

Jika dalam Poltergeist versi asli menceritakan keluarga Freeling, maka di versi remake ini keluarga Bowen akan menjadi pusat cerita. Kisah dimulai saat Eric Bowen (Sam Rockwell) dan keluarganya pindah ke rumah baru mereka yang terletak di pinggiran sebuah kota. Tak dinyana, ternyata rumah ini berdiri di atas lahan bekas pemakaman. Menyaksikan kenyataan di bagian awal film, para penonton pasti sudah dapat membayangkan kejadian-kejadian mistis yang akan berlangsung kemudian.

Sama seperti Poltergeist (1982), kisah pun lalu bergulir kepada hal-hal ganjil yang muncul di rumah tersebut. Perhatian Eric Bowen tercuri saat putri bungsunya Madison Bowen (Kennedi Clements) raib begitu saja, dan konon disembunyikan oleh makhluk halus yang menjadi penghuni lain di situ. Untuk mengatasi situasi ini, Eric kemudian meminta bantuan paranormal demi menemukan putrinya.

Poltergeist (2015) yang sutradarai Gil Kenan dan naskahnya ditulis ulang oleh David Lindsay-Abaire, dibintangi oleh Sam Rockwell, Rosemarie DeWitt, Saxon Sharbino, Kyle Catlett, Jared Harris dan Kennedi Clements. Film berdurasi 93 menit ini mengeksplorasi beragam penampakan zaman jahat yang menakutkan dan terus-menerus menteror keluarga ini.

Meskipun film ini adalah remake dari film berjudul sama di era 80-an, namun para penikmat film horor tentu tidak akan melewatkan film ini begitu saja. Apalagi untuk para fans berat trilogi Poltergeist, tentu film ini akan menjadi ajang nostalgia.

Menjadi zaman: Sebuah pilihan?

Mungkin bagi sebagian orang, fenomena zaman yang diangkat ke layar lebar menjadi sesuatu yang aneh dan tak lazim. Sosok zaman yang menakutkan dan menyeramkan, ternyata menjadi menarik untuk dijadikan tontonan layar lebar, bahkan tidak sedikit film-film bertema horor seperti ini selalu dibanjiri penonton.

Pertanyaan yang muncul kemudian, pelajaran apa yang kita dapatkan dengan menonton film bertema “zaman” tersebut? Sebagian orang memang berminat menontonnya untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mereka tentang dunia zaman. Sebagian lainnya hanya menjadikannya sarana menghibur diri atau melepaskan kepenatan dari rutinitas keseharian.

Barangkali tidak banyak penonton yang menyadari bahwa sesungguhnya dibalik film horor tersebut terkandung pesan-pesan kehidupan yang patut menjadi permenungan. Zaman memang sosok menakutkan, dan jika kita paralel-kan dengan kehidupan di dunia nyata, maka kita dapat menyaksikan wajah orang-orang yang masih hidup “menyerupai zaman-zaman” yang muncul dalam film.

Pasti kita pernah mendengar komentar atau celetukan yang berujar demikian, “Bos di kantor kalau marah menakutkan!” atau “Pak, guru di sekolahku serem banget!” Komentar-komentar tersebut tentu tidak jauh dari realitas atau pengalaman yang dijumpai oleh si pemberi komentar. Bahkan ada orang yang berkomentar dengan bahasa blak-blakan begini, “Wajahnya horor tuh, mirip zaman di cerita-cerita film!”

Entah disadari ataupun tidak, ekspresi wajah, sikap atau sifat yang kita miliki, kadangkala secara sengaja maupun tidak sengaja, telah “mengzamani” orang-orang di sekitar kita. Jika kita marah, secara tidak sadar kadang kita menunjukan wajah menyeramkan, jauh dari kesan tampan atau cantik yang menjadi keseharian kita.

Pun bila kita suka menteror atau menakuti orang, maka perilaku tersebut pasti memunculkan ketakutan di hati mereka yang mengalaminya. Dan mungkin di saat-saat seperti ini, kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita sudah menjadi “zaman” bagi sesama. Zaman di dunia manusia, yang ternyata tak kalah menyeramkan dibanding zaman di dunia tak kasat mata!

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.