Pola Pikir Seorang Pemenang

Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

pola pikir pemenang

Kapan seseorang merasa layak untuk berpikir sebagai seorang juara? Ada banyak kriteria yang mungkin akan berbeda bagi setiap orang. Bisa dari ukuran tingginya pendidikan, bisa dari pengalaman di lapangan, bisa dari kemampuan finansial, relasi dan lain-lain, dan tidak jarang pula gabungan dari beberapa diantaranya. Ada banyak orang juga yang begitu tidak percaya diri dan selalu ragu, sehingga tidak peduli potensi apapun yang mereka miliki, mereka tetap berpikir bahwa semua itu tidak akan cukup untuk membuat mereka berhasil. Masalahnya, seringkali orang terhambat untuk sukses bukan karena ketidakmampuan mereka atau ada tidaknya kriteria-kriteria di atas, tapi justru berasal dari paradigma berpikir yang dipasang terlalu rendah. Bukan karena orang lain atau faktor-faktor teknis, tapi justru faktor non teknis dari diri sendiri. Setiap saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang sukses dalam bisnis, pekerjaan maupun hidupnya, pelajaran yang mereka berikan selalu mengarah pada satu kesimpulan bahwa kita harus mulai dari men-set pikiran kita sebagai seorang juara. Think like a champion, then you’ll become a champion. Think like a loser, you’ll be one. Itu kata salah seorang dari mereka yang saya ingat sampai sekarang.Jika belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana caranya kita bisa menang? Atlit atau tim olahraga manapun tidak akan bisa menang kalau mereka sejak awal sudah tidak yakin mampu menjadi juara. Bagaimana mungkin kita berharap menang jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Keraguan seperti itu akan menghalangi kita untuk mulai melakukan sesuatu, sehingga beberapa tahun kemudian kita masih saja berjalan di tempat, atau malah mundur. Padahal jika sudah dimulai sejak awal bisa jadi kita sudah memetik buah dari apa yang dibangun tersebut. Singkatnya, untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula.

Hari ini masih banyak orang yang bertanya, bagaimana mereka bisa berpikir seperti seorang pemenang atau juara jika mereka tidak ada apa-apanya? Jika sarjana atau yang lebih tinggi saja masih banyak yang menganggur, apalagi saya yang hanya lulusan sekolah menengah? Ada banyak orang yang terjebak pada pola pemikiran seperti ini. Mereka terlalu sibuk berfokus kepada kekurangan mereka dan melupakan bahwa Tuhan sebenarnya telah menciptakan kita masing-masing dengan talenta dan keistimewaan tersendiri. Mereka hanya memperhatikan apa yang tidak ada lalu melupakan apa yang ada pada mereka. Sudahkah kita sadar bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mulai melakukan sesuatu dan menuai sukses seperti yang direncanakan Allah sejak semula? Mungkin kita hanya tamat SMA, tetapi bukankah kita memiliki anggota tubuh yang berfungsi baik? Misalnya, jika ada anggota tubuh kita yang ternyata cacat atau kurang sempurna, bukankah masih ada anggota-anggota tubuh lainnya yang kondisinya baik? Sudah terlalu banyak orang yang gagal mencapai impian mereka justru karena mereka memandang diri mereka sendiri terlalu rendah, sementara Tuhan saja memandang manusia manapun sebagai ciptaanNya yang sangat istimewa.

Seberapa jauh kita menyadari apa sebenarnya yang Tuhan rencanakan bagi kita? Tuhan sama sekali tidak menginginkan kita untuk menjadi pecundang, orang-orang yang gagal. Tuhan tidak pernah merencanakan kita untuk memiliki mental yang mudah menyerah dan hidup tanpa semangat. Apa yang direncanakan Tuhan justru sebaliknya. Alkitab menyebutkan begini “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37). Perhatikanlah bahwa kita seharusnya sadar bahwa kita bukan cuma direncanakan sebagai sekedar pemenang saja, tetapi malah dikatakan lebih dari pemenang! Dalam bahasa Inggrisnya lebih dari pemenang disebutkan dengan “More than conquerors and gain surpassing victory”, Menang melebihi para penguasa, memperoleh kemenangan melewati batas yang kita harapkan. Dari mana itu kita peroleh? Alkitab menyebutkan jawabannya dengan sangat jelas, lewat Kristus yang telah mengasihi kita. Through Him who loved us.

Selanjutnya mari kita lihat janji Tuhan lainnya. “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13) itulah dikehendaki Tuhan. Menjadi kepala dan bukan ekor, tetap mengalami peningkatan dan bukan penurunan. Lihatlah kata yang dipakai adalah “TUHAN AKAN”, “the Lord shall”, dan bukan “Tuhan mungkin berkenan” atau “mudah-mudahan Tuhan mau”.  Kata AKAN mengandung kepastian bahwa Dia menginginkan itu untuk terjadi pada anak-anakNya, termasuk buat anda dan saya. Bagaimana caranya? sambungan ayat di atas memberitahukan cara untuk memperolehnya. “.. apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (ay 13-14).

Tuhan sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b). Bersama Tuhan kita tidak perlu takut atau bimbang. Camkan pula ayat ini: “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8). Lihatlah bahwa untuk mencapai sebuah tingkatan “lebih dari pemenang”, “to gain a surpassing victory more than conquerors”, kita bukannya dibiarkan berjuang sendirian, tetapi Tuhan sendiri berjanji untuk senantiasa menyertai kita. Jangan lupa pula bahwa Roh Kudus telah dianugerahkan kepada orang-orang percaya. Kehadiran Roh Kudus akan membuat kita mampu melakukan hal-hal yang jauh lebih daripada apa yang kita pikirkan, melebihi apa yang kita anggap sebagai batas kesanggupan kita. Bagaimana jika kita masih juga takut? Bagaimana jika tetap menganggap bahwa kita tidak ada apa-apanya? Lihatlah apa jawaban Tuhan akan hal ini. “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. (Yesaya 41:8-10).

Kita tidak boleh takut, karena Tuhan sudah menyatakan akan selalu menyertai kita. Kita tidak boleh ragu, alias setengah yakin menang sedang setengah lagi yakin kalah. Mengapa? Karena kita punya Allah yang memiliki kuasa di atas segalanya. Kita tidak pula perlu khawatir, karena Tuhan berjanji pula untuk meneguhkan dan menolong kita. Dia memegang kita dengan tangan kananNya dan hal itu akan mampu membawa kita masuk ke dalam sebuah kemenangan yang lebih dari apa yang kita pikir sanggup untuk kita peroleh. Dengan merenungkan semua ini, masih pantaskah kita menilai diri kita sendiri rendah? Masihkah kita harus terus hidup dengan pemikiran dan mental seperti orang yang gagal atau kalah? Berhati-hatilah agar kita jangan sampai menilai diri kita sendiri rendah dan tidak ada apa-apanya, karena Firman Tuhan mengingatkan kita  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.” (dalam versi King James dikatakan“For as he thinketh in his heart, so is he.” (Amsal 23:7). Atau dalam bahasa sederhana diartikan sebagai “we are what we think.”).  Dan dalam kitab Ayub kita bisa memperoleh sebuah ayat lainnya: “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (Ayub 3:25). If we think like a loser, we will be a loser. But if we think like a champion, we’ll become a champion! Apa yang perlu kita lakukan adalah terus berdoa sehingga kita bisa mendengar apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita masing-masing, dan lakukanlah tepat seperti kehendakNya. Sesungguhnya apa yang diberikan Tuhan sudah lebih dari cukup untuk kita olah dan pakai hingga mencapai sebuah kesuksesan besar. Kita harus mulai mengubah pola pikir kita terhadap diri sendiri dan berhenti membiarkan paradigma berpikir yang keliru terus menerus menghambat laju kesuksesan kita. Mulailah berpikir sebagai pemenang atau juara, karena itulah yang diinginkan Tuhan sejak awal bagi kita semua.

Think like a real champion that will gain surpassing victory, just like what God wants us to be

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. iluatrasi jamita jesaya 41
  2. ilustrasi YESAYA 41 : 14 -20
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: