Pohon Korma dan Pohon Aras

Ayat bacaan: Mazmur 92:13
======================
“Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon”

pohon aras, pohon korma, menjadi berkat, menjadi penyangga

Kemarin kita sudah melihat bagaimana kita bisa menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati dan mensukacitakan banyak orang. Lewat kisah Perkawinan di Kana (Yohanes 2:1-11) kita belajar bahwa Tuhan Yesus bisa mengubahkan kita dari air biasa menjadi anggur yang berkualitas jika kita taat kepadanya dan rajin mengisi diri kita dengan firman Tuhan. Intinya, hanya jika kita berkomitmen menjadi orang benarlah maka Tuhan akan berkenan memakai kita menjadi anggur yang bisa bermanfaat dan memberikan sukacita bagi orang-orang di sekitar kita. Hari ini mari kita melihat sebuah gambaran mengenai orang benar menurut Pemazmur. Pemazmur mengatakan “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon” (Mazmur 92:13). Mengapa dikatakan bertunas seperti pohon korma, dan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon?

Bagi pengembara padang pasir, melihat pohon korma tentu akan sangat menggembirakan. Mengapa demikian? Karena apabila mereka melihat pohon korma, maka itu artinya mereka akan segera bertemu dengan oase atau mata air. Seringkali mereka menghadapi fatamorgana, sebuah tipuan mata yang acap kali dialami oleh para pengembara di tengah terik gurun pasir yang menyengat. Maka mereka akan bersukacita jika bertemu dengan pohon korma yang nyata. Korma mengandung begitu banyak nutrisi di dalamnya sehingga menjadi sebuah makanan yang memberi kekuatan dan kesehatan jika dikonsumsi. Tidak akan mungkin pohon korma mampu hidup tanpa air, maka pengembara tentu sangat senang karena pasti sebentar lagi akan menemukan mata air. Bagaimana pohon korma bisa tumbuh di gurun pasir yang tandus? Cara pohon korma hidup sesungguhnya unik. Ketika biji korma di tanam, akarnya akan terus menembus tanah untuk mencari air, bahkan hingga puluhan meter. Setelah mendapatkan air, barulah korma ini mulai tumbuh. Dan sekali lagi, biasanya dimana pohon korma berada, disana akan terdapat oase atau mata air. Inilah yang digambarkan oleh Pemazmur dengan mengatakan bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Orang benar akan memiliki akar yang kuat. Orang benar akan mampu tegar berdiri ditengah berbagai hambatan, dan akan mampu untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Seperti layaknya pohon korma yang menyegarkan, orang-orang benar pun seharusnya bisa menjadi penyegar bagi lingkungan yang “tandus”, menjadi oase di tengah padang gurun, menjadi berkat yang mendatangkan sukacita bagi sesama.

Sekarang mari kita lihat apa yang disebut Pemazmur sebagai pohon aras yang tumbuh subur di Libanon. Pada masa itu pohon aras (pohon cemara) memang tumbuh subur di Libanon. Pohon aras ini dikenal sangat kuat, tidak mudah lapuk. Semakin tua, kayunya semakin kuat. Pohon ini juga tahan terhadap perubahan cuaca. Tidak heran pada masa itu pohon aras sering dipakai untuk tiang penyangga istana bahkan Bait Allah. Dalam kitab Raja Raja kita dapat mendapatkan gambaran mengenai pohon aras ini. Ketika Salomo membangun istananya, ia banyak menggunakan pohon aras ini yang berasal dari Libanon. Di dalam istananya, “Ia mendirikan gedung “Hutan Libanon”, seratus hasta panjangnya dan lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, disangga oleh tiga jajar tiang kayu aras dengan ganja kayu aras di atas tiang itu. Gedung itu ditutup dari atas dengan langit-langit kayu aras, di atas balok-balok melintang yang disangga oleh tiang-tiang itu, empat puluh lima jumlahnya, yakni lima belas sejajar.” (1 Raja Raja 7:2-3). Istana Salomo yang megah ternyata disangga oleh tiang-tiang kayu aras. Jadi demikianlah orang benar, diharapkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat yang bisa bertindak sebagai tiang penyangga bagi kehidupan sesama kita, demi kemuliaan Tuhan.

Jelaslah bahwa Pemazmur tidak sembarangan mengambil perumpamaan. Ada maksud yang kuat dalam kedua hal ini, korma dan pohon aras untuk menggambarkan pribadi orang benar. Seperti itulah orang benar diharapkan untuk hidup. Berakar kuat, mampu mengatasi hambatan untuk terus bertumbuh, mampu hidup di tengah kesulitan, mampu berbuah dan menjadi penyegar yang mendatangkan sukacita bagi orang-orang disekitarnya. Kemudian mampu pula menjadi tiang penyangga yang kuat dalam kehidupan. Inilah yang bisa dicapai dan seharusnya dilakukan oleh orang-orang benar.

Bagaimana kita bisa tumbuh dan berbuah? Yesus memberikan caranya. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.” (Yohanes 15:4). Yesus kemudian melanjutkan, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. (Ay 5). Untuk bisa berbuah dan menjadi berkat bagi sesama, kita hendaklah tinggal dan berakar kuat di dalam Kristus. Tanpa itu, semua hanyalah akan sia-sia. Hanya ketika kita berbuah banyaklah kita bisa memuliakan Tuhan. “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (ay 8).

Menjadi garam (Matius 5:13) dan terang (ay 14-16) sudah menjadi tugas orang-orang benar. Agar bisa menjadi garam dan terang kita harus mampu memiliki prinsip bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur pohon aras. Orang-orang benar akan mampu menjadi saluran berkat bagi sesamanya, dan tidak akan pernah menyimpan berkat itu sendirian saja untuk kepentingan diri sendiri. Ingatlah firman Tuhan bahwa hakekat kita menerima berkat sesungguhnya adalah untuk memberkati orang lain. “….hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Petrus 3:9) Mari kita periksa diri kita. Sudahkah kita menjadi oase di padang gurun, menjadi pohon korma berbuah lebat yang memberi sukacita dan berkat bagi banyak orang atau kita malah ikut-ikutan menjadi tandus dan kering? Sudahkah kita menjadi tiang penyangga yang kuat bagai kayu pohon aras, tumbuh subur dengan kekuatan yang luar biasa, atau kita masih gampang goyang diterpa angin kecil sekalipun, dan justru selalu goyah butuh penyangga dari orang lain? Orang benar pada hakekatnya haruslah bisa mengacu kepada pertumbuhan pohon korma dan kesuburan pohon aras. Hanya dengan inilah kita bisa membagi berkat bagi banyak orang dan memuliakan Tuhan.

Bertunaslah dan berbuahlah menjadi berkat dan penyangga yang kuat bagi lingkungan kita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply