Saturday, 20 December 2014

Pohon Badam

Ayat bacaan: Yeremia 1:11
=====================
“Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.”

pohon badam, visi TuhanPentingkah bagi kita untuk berjaga-jaga? Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk itu. Ada yang menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang-senang sepuasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua yang secara umum punya waktu yang lebih singkat dibandingkan anak-anak muda. Tapi sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Bisa 50 tahun lagi, bisa setahun lagi, bisa pula sedetik lagi. Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Saya terharu melihat anak-anak muda di gereja tempat saya bertumbuh. Mereka sungguh berapi-api bahkan aktif dalam berbagai kegiatan, memakai segala kreativitas mereka untuk memuji Tuhan bahkan sejak usia belia. Sementara saya di usia mereka masih berkubang dosa, sungguh indah melihat mereka yang giat dan bersemangat berkumpul memuji Tuhan sementara mereka tinggal di kota besar yang berisi penuh godaan dan ancaman dari berbagai arah.

Saya hendak melanjutkan renungan kemarin dan secara khusus membahas penglihatan Yeremia, yaitu sebatang dahan pohon badam. Gambar yang anda lihat di sebelah kiri atas adalah gambar dari sebatang dahan pohon badam yang sedang berbunga. Kira-kira seperti itu mungkin penglihatan Yeremia. “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: “Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?” Jawabku: “Aku melihat sebatang dahan pohon badam.” (Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya, dan ia menangkapnya dengan benar, sebab kemudian Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Pohon Badam merupakan pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan di musim salju, ketika pohon-pohon lainnya meranggas, pohon badam mampu berbunga dengan indahnya. Bunganya yang putih berpadu dengan keindahan salju, memberi kesan kesucian yang sungguh indah dipandang mata. Pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih “tidur” ketika musim salju tiba.

Dalam bahasa Ibrani, Badam diterjemahkan menjadi “yang berjaga”, “yang bangun” atau “yang menonton”. Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu berbunga di musim apapun. Dalam kitab Bilangan kita mendapati kisah ketika tongkat Harun bertunas dan mengeluarkan bunga bahkan buah badam. (Bilangan 17:8). Hal ini berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang “mati” secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati, tapi kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam. Disamping itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,  mengalami banyak “kematian” dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.

Semua gambaran di atas menjelaskan mengapa Yeremia melihat dahan pohon badam. Pada masa itu kejahatan dari umat Tuhan telah nyata. Sesuai visi kedua dari Yeremia adalah periuk mendidih yang datang dari utara (ay 13), yang menggambarkan akan adanya malapetaka menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda. “Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri.” (ay 16). Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih, namun di sisi lain, dahan pohon badam tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap berjaga-jaga. Tuhan mengatakan kepada Yeremia: “Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!” (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah menjanjikan segala yang indah bagi mereka. Jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka, sebaliknya hendaknya pohon badam lah yang akan menjadi bagian atas mereka.

Kitab Yeremia di satu sisi berbicara banyak tentang penghukuman. Tapi di sisi lain kita mendapatkan banyak pula janji Tuhan akan pengampunan bahkan ikatan janji baru dengan Tuhan yang sungguh indah di masa depan. (31:31-34). Sesungguhnya akan selalu ada hukuman bagi siapapun yang berbuat kejahatan bagi Tuhan, namun sebaliknya ada kehidupan baru, pengampunan penuh bagi siapapun yang berbalik dari segala jalan yang sesat untuk kembali kepadaNya.

Umat Tuhan yang benar seharusnya hidup seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Ini menggambarkan keharusan kita untuk tetap berjaga-jaga, tidak boleh lalai atau lengah dalam kondisi apapun. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjatuhkan kita. Jatuh bangun itu manusiawi. Tapi janganlah kita lalai dan terus terlena dalam dosa, melainkan lekaslah bertobat, berbalik dari jalan yang salah dan segera kembali mencari Tuhan, masuk ke hadiratNya membawa diri kita yang dipenuhi pertobatan sebagai persembahan yang harum bagiNya. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus senantiasa berjaga-jaga. Yesus mengingatkan kita berkali-kali akan hal ini. “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.” (Matius 24:42), “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.” (25:13). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim, termasuk pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua sebagai ahli waris Tuhan. Kita harus mampu bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun, tetap tekun berjaga-jaga setiap waktu agar segala yang dijanjikan Tuhan tidak berlalu dari hadapan kita.

Hiduplah laksana pohon badam agar periuk mendidih tidak jatuh atas kita

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Pohon Badam"

Response on "Pohon Badam"