Pilihan Musa

Ayat bacaan: Ibrani 11:24
===================
“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.”

pilihan Musa, keputusan Musa, iman Musa

Mana yang anda pilih, berkat atau kutuk, kehidupan atau kematian kekal? Pilihan ini sepintas gampang. Tapi ketika kita dihadapkan kepada kenyamanan dan kesenangan dunia yang sifatnya sementara, kita seringkali gagal untuk mengambil pilihan yang benar. Ada banyak orang yang terjerumus ke dalam dosa justru ketika mereka tenggelam dengan segala kenikmatan yang ditawarkan dunia, lupa bahwa di balik itu semua tersembunyi berbagai kesesatan yang bisa berakibat fatal di kemudian hari. Masih lumayan kalau masih sempat bertobat, bagaimana jika sebelum bertobat sesuatu yang tragis, yang tidak kita inginkan keburu terjadi? Ambil contoh dalam mengemudi di jalan. Saya justru lebih berhati-hati ketika jalanan lengang ketimbang saat macet. Menghadapi jalanan macet bisa mengesalkan, tapi kenikmatan mengemudi di saat lengang sungguh berpotensi mendatangkan kecelakaan jika tidak hati-hati. Begitu pula dengan kehidupan kita. Di saat kita menikmati kesenangan dan kelimpahan, berhati-hatilah agar tidak terjebak oleh tipu muslihat iblis yang seringkali mengambil saat-saat seperti itu untuk mengelabui kita.

Siapa yang tidak kenal Musa? Dia adalah nabi besar yang memiliki perjalanan dan pengalaman hidup yang sangat luar biasa bersama Tuhan. Bahkan sejak lahir kehidupannya sudah berliku-liku. Musa lahir di saat Firaun tengah merasa terancam akibat lonjakan pertumbuhan penduduk pendatang, Israel, di Mesir. Begitu takutnya Firaun akan bahaya laten dari jumlah besar orang Israel yang mungkin bisa mendatangkan masalah, seperti jika bersekutu dengan musuh lain misalnya, sehingga ia mengeluarkan perintah yang sungguh kejam kepada para bidan: “Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir: jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.” (Keluaran 1:16). Bangsa Israel ketika itu mengalami tekanan dan penindasan dari penguasa lewat kerja paksa. “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.” (ay 13-14). Di saat seperti itulah Musa lahir. Musa terlahir sebagai bayi yang cantik. Orang tuanya merasa was-was akibat ancaman perintah Firaun, dan kemudian ketika merasa menyembunyikan bayi Musa tidak lagi aman, ibunya mengambil keputusan untuk memasukkan Musa ke dalam peti pandan dan diletakkan di rerumputan pinggiran sungai Nil. Tidak lama kemudian puteri Firaun datang ke sungai Nil untuk mandi bersama dayang-dayangnya, dan mereka pun menemukan peti berisi Musa. Singkat cerita, Musa kemudian menjadi anak angkat dari puteri Firaun sendiri.

Nikmatkah hidup di istana yang megah dan mewah, menyandang status sebagai anak angkat dari anak raja? Tentu saja itu pasti. Hidup disana berarti hidup yang secara duniawi tidak akan pernah kekurangan. Tapi yang terjadi, ternyata Musa tidak melupakan asalnya. Melihat saudara-saudara sebangsanya disiksa melakukan kerja paksa yang berat dan dipukuli, hati nuraninya bergejolak. Ia pun berontak dan memilih untuk keluar dari kenikmatan yang sebenarnya sedang ia rasakan. Bagi banyak orang, pilihan Musa ini mungkin dianggap pilihan yang bodoh. Jika ini terjadi pada kita, mana yang akan kita pilih? Relakah kita meninggalkan segala kenyamanan tinggal di istana demi hidup menderita di padang gurun? Bagi sebagian orang mungkin tidak, tapi Musa menetapkan pilihannya. Musa memilih untuk mengikuti dari mana ia berasal dan siapa yang menciptakanNya. Ia lebih memilih untuk melihat ke depan, taat menuruti Tuhan meski pada saat itu ia belum melihat apa yang akan terjadi kepadanya di masa depan. Dan sekarang kita tahu, itu pilihan yang tepat! Musa dipakai Tuhan secara luar biasa dan namanya harum hingga hari ini bagi banyak bangsa. Tuhan peduli terhadap tangisan dan erangan bangsa Israel, lalu mengutus Musa untuk membebaskan bangsa itu dari perbudakan Mesir. “Dan TUHAN berfirman: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir. (Keluaran 3:7-10).

Sekali lagi, Musa mengambil keputusan hidup yang tepat. Dia tidak mau terlena dalam kenyamanan yang bisa mengarah pada kesesatan. Musa tahu apa panggilan Tuhan atas dirinya, meski ia belum melihat buktinya. Meski belum terjadi, Musa percaya penuh kepada Tuhan dan memilih untuk taat mengikuti Tuhan lebih daripada segala sesuatu, meninggalkan kenyamanan dan rela menderita demi panggilan Tuhan kepadanya. Itulah iman Musa. Kelak di kemudian hari penulis Ibrani menyinggung hal ini sebagai contoh keteladanan: “Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” (Ibrani 11:24-25). Musa mengamalkan apa yang dimaksud dengan iman secara tepat. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (ay 1). Hendaklah kita mencontoh pilihan Musa. Ada saat-saat dimana kita harus rela meninggalkan kenyamanan (comfort zone) kita, memutuskan untuk meninggalkan segala kenikmatan dan memilih untuk memikul salib mengikuti Yesus. Menderita? Memang. Namun dalam “frame” yang lebih besar, itu akan jauh lebih bermanfaat demi masa depan kita kelak. Tuhan tidak pernah mengingkari janji-janjiNya. Tidak akan pernah Tuhan menelantarkan kita. Dalam kesesakan dan kesulitan sekalipun, Dia tetap ada bersama kita, menuntun kita yang taat memikul salibNya. Hidup sesungguhnya penuh dengan pilihan. Kehendak bebas membuat kita diijinkan untuk memutuskan apa yang akan menjadi pilihan kita. Pilih mana, kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk? Semua tergantung keputusan kita. “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” (Ulangan 30:19-20). Mungkin ada penderitaan di dalamnya, mungkin ada yang harus kita korbankan, sesuatu yang bisa jadi begitu kita nikmati, namun percayalah pada akhirnya kita akan menerima segala janji Tuhan tanpa kurang sedikitpun. Seperti Musa, hendaklah kita bisa mengambil pilihan yang tepat hari ini.

Karena iman, Musa memilih untuk menderita demi memenuhi panggilan hidupnya

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply