Pijar Vatikan II: Yusma Pitono Memberi Jip Bersejarah kepada Romo MangunI (27C)

romo mangunDI perpustakaan pribadinya, Pak Yusma memiliki banyak buku-buku tulisan Romo Mangun. Ketika Romo Mangun wafat di Hotel Le Meridien, 10 Februari 1999, Pak Yusma ada di situ. Pak Yusma ikut menghadiri simposium dengan tema : “Membangun Indonesia Baru” yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia di Hotel Le Meridien itu, dan Romo Mangun menjadi salah satu pembicaranya. […]

romo mangun

DI perpustakaan pribadinya, Pak Yusma memiliki banyak buku-buku tulisan Romo Mangun. Ketika Romo Mangun wafat di Hotel Le Meridien, 10 Februari 1999, Pak Yusma ada di situ. Pak Yusma ikut menghadiri simposium dengan tema : “Membangun Indonesia Baru” yang diselenggarakan Yayasan Obor Indonesia di Hotel Le Meridien itu, dan Romo Mangun menjadi salah satu pembicaranya.

Pak Yusmalah orang pertama yang mengabarkan meninggalnya Romo Mangun kepada saya, yang waktu itu lagi ada di Roma. Pak Yusma menilpon saya dan dengan terbata-bata menyampaikan berita duka meninggalnya Romo Mangun yang dikaguminya.

Kata Pak Yusma: “Kita kehilangan tokoh besar. Dengan wafatnya Romo Mangun, terus terang saya jadi kehilangan tokoh imam dan tokoh iman yang bisa saya jadikan panutan”.

Pak Yusma mulai intensif mengenal Romo Mangun sekitar tahun 1990-an. Kurun tahun 1990-an itu Romo Mangun memang banyak sekali “menggerundel” tentang keadaan negeri kita. Tulisan-tulisan beliau yang tajam dan kritis tentang situasi sosial politik tanah air, dikumpulkan dalam buku tebal “Gerundelan Orang Republik”.

Tulisan Romo Mangun di harian Kompas berjudul “PRD”, menjadi satu-satunya tulisan yang terang-terangan membela PRD. Seperti kita tahu, PRD waktu itu dijadikan kambing hitam krisis politik “versi pemerintahan Pak Harto” dengan puncaknya kerusuhan 27 Juli 1997. Ketika Romo Mangun dimakamkan di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, anak-anak PRD memikul peti jenasah Romo yang mereka anggap sebagai satu-satunya bapak pelindung dan pembela mereka.

Pengaruh sikap kenabian Romo Mangun itu cukup meresap dalam diri Pak Yusma. Ketika Pak Yusma berurusan dengan hal yang tidak terkait langsung dengan kiprahnya sebagai pengurus kegiatan gereja seperti Perduki (Persekutuan Doa Usahawan Katolik) misalnya, Pak Yusma secara tidak sadar menjadikan Romo Mangun sebagai acuan layanannya.

Tahun 1995, Pak Yusma mengajak Romo Mudji dan saya ikut ziarah ke Tanah Suci dengan rombongan Perduki. Selama perjalanan, terutama pada kesempatan misa dan renungan, Pak Yusma nampak sekali ingin meresapkan apa yang dikatakan Romo Mudji. Memang waktu itu Romo Mudji sedang bersemangat mendukung “revolusi mental ala Romo Mangun” yang sedang disambut dimana-mana di era 1990-an itu.

Disertasi Doktoral Romo Mudji sendiri di Universitas Gregoriana adalah tentang Romo Mangun.

Beberapa hari sesudah ziarah selesai, atas inisiatif alm. Pak Petrus Bambang Sardjito, rombongan ziarah Perduki berkumpul kembali di Angus Steak Resto, Chase Plaza. Pada kesempatan itu, Pak Yusma dalam sambutannya mengingatkan kembali semangat ziarah yang sejati adalah semangat Yesus dan semangat Romo Mangun, yaitu: berbagi kepada yang tersingkir, yang miskin dan berkekurangan. Kalau tidak begitu, ziarah kita itu cuma jadi “onani rohani”. Maafkan saya untuk istilah ini, kata Pak Yusma. “Tapi saya rasa, maksudnya jelas!”

Rupanya, Romo Mudji cukup berhasil menanamkan “semangat Romo Mangun” dalam diri rombongan ziarah ini. Dan memang benar, ketika ekonomi kita hancur pada tahun 1997-1998 itu, dollar menembus angka 16 ribu rupiah, harga susu bayi bahkan softex melambung tinggi tak terbeli, anak-anak balita terpaksa diberi susu murah atau bahkan “tajin”, Pak Yusma dan rekan-rekan Perduki ini berada di garda depan dalam membuka posko bantuan dan memberi sumbangan.

Pak Yusma, sosok yang memiliki hati besar bagi yang menderita

Ketika negeri ini hancur luluh berantakan karena Kerusuhan Mei 1998 sampai Presiden Soeharto lengser, teman-teman pengusaha termasuk juga yang tergabung dalam Perduki juga kena dampaknya. Bisnis mereka ikut hancur. Yang toko dan rumahnya dibakar, mau tidak mau lalu menjadi trauma. Banyak yang kabur ke luar negeri.

Sebagai Ketua Perduki, Pak Yusma banyak membantu rekan-rekan pengusaha menyelamatkan diri dan menyelamatkan usahanya. Pak Yusma kebanjiran “orderan” konsultasi bisnis. Banyak yang bertanya ke Pak Yusma, pada saat krisis semacam itu sebaiknya tiarap dulu atau ganti usaha. Kepada rekan-rekan pengembang properti yang hancur dan rugi besar karena “krismon” Pak Yusma menyarankan tiarap dulu.

Bagi yang mau “recovery” disarankan ambil bisnis yang tidak rentan “krismon” seperti brokerage properti. Jadilah Pak Yusma dkk mengambil franchise Ray White karena pemiliknya “mengungsi” ke Amerika dan kemudian mendatangkan LJ Hooker, franchise brokerage properti dari Australia.

Karena suasana pasca Kerusuhan Mei 98 sangat mencekam, sahabat-sahabat Pak Yusma banyak yang lari ke luar negeri bersama keluarganya, duit bank-bank kita di-“rush” di mana-mana, sementara Tim Relawan Romo Sandyawan kewalahan menampung korban kerusuhan, pembakaran dan korban perkosaan, Pak Yusma tidak tinggal diam. Pak Yusma meminta isterinya bu Yanti untuk full membantu Romo Sandyawan.

Di kemudian hari, bahkan isteri Pak Yusma ini, 2 tahun lebih tinggal di Aceh bersama Tim Relawan Romo Sandyawan untuk ikut mengurus korban tsunami. Sementara Pak Yusma berkoordinasi dengan tim Perduki dan jaringan pengusaha yang masih bertahan.

Suatu malam, dengan wajah kurang tidur, Pak Yusma datang ke Wisma Adisoetjipto. Kepada saya, Romo Mudji, Romo Koko dan alm Romo Krismanto Pak Yusma dengan nada getir bercerita baru saja dititipi kunci mobil teman pengusaha di Jakarta Barat. “Mau titip mobil di halaman gereja ditolak Pastor Parokinya. Padahal teman ini donatur tetap dan donatur besar Paroki itu. Kita ini kejam sekali pada saudara yang panik, kebingungan dan butuh bantuan darurat. Kalau lagi butuh duit orang kaya itu dicari. Kalau lagi panik dan minta bantuan sekecil titip mobil saja ditolak.”

Ketika tidak tahu harus ke mana lagi, Pak Yusma lalu berinisiatif berbicara dengan kami-kami para imam muda lintas ordo, lintas konggregasi dan lintas kelompok ini. Sebagai Pengurus Perduki, Pak Yusma juga sudah menghadap Bapak Uskup Agung Jakarta, meminta izin mengadakan pertemuan besar mendoakan para korban Kerusuhan Mei 1998.

Bapak Kardinal waktu itu baru saja menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta, selepas menjadi Uskup Agung Semarang. Sebagai Uskup Jakarta yang baru dan Uskup ABRI, Bapak Kardinal tentu tidak mudah mengizinkan permintaan Pak Yusma cs. Mungkin, Bapak Kardinal melihat pertemuan umat Katolik yang besar, bisa dianggap “show of force” dan rawan gangguan SARA.

Malam itu kami melihat Pak Yusma sangat gelisah. Malam itu, kami bertemu seorang sahabat yang sungguh punya hati pada saudara-saudara kita yang menjadi korban Kerusuhan Mei-98. Romo Koko dan Romo Sandyawan hampir setiap hari menambah data-data korban yang semakin panjang. Melihat kegelisahan Pak Yusma dan korban-korban berjatuhan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, malam itu Romo Mudji mengusulkan kita konsultasi dulu ke Romo Mangun.

Sambil mengunyak peyek di meja makan Wisma Adisoetjipto, almarhum Romo Krismanto nyelethuk : “Idemu sowan Romo Mangun kuwi apik tenan mas. Kuwi mesthi petunjukke Hyang Roh Suci. Kebetulan minggu iki aku diutus Mgr.Soekoto nang Sendangsono. Mgr Leo meminta aku memantau Pak Thomas sing meramal Bunda Maria arep menampakkan diri suk Setu”.

jip willys by otosiaJadilah kami berlima: Romo Mudji, Romo Koko, Romo Krismanto, saya dan mbak Amanda Suharnoko dari Madia (Masyarakat Dialog Antar Agama) kemudian menghadap Romo Mangun di rumah beliau Gang Kuwera, Yogyakarta. Romo Mangun sudah mendengar Kerusuhan Mei-98 di Jakarta dan para korbannya yang mengerikan. Beliau juga bisa memahami kegelisahan Pak Yusma dan kawan-kawannya para pengusaha Katolik yang lari.

Romo Mangun lalu mengatakan : “Baik, kalian atur saja bersama Pak Yusma dan Perduki, kita akan mengadakan pertemuan umat Katolik di Jakarta. Betul, selain sarasehan menyikapi Kerusuhan Mei-89, kita juga akan berdoa bersama bagi para korban. Saya akan datang. Kalau bisa Gus Dur juga diajak. Ada saatnya Yesus berdoa sendiri di padang gurun. Tetapi juga ada saatnya Yesus mengadakan kotbah di bukit. Kali ini kita berkotbah di bukit!”

Sebelum berpamitan, Romo Mangun mengantar kami ke halaman. Begitu melihat jip Daihatzu Feroza warna hijau-biru-metalic B-2343-SE, mobil Keuskupan Jakarta yang saya pakai ke Yogya itu, Romo Mangun langsung berkomentar : “Wah bagus jip ini. Baru ya! Jip memang kendaraan yang gagah. Saya juga suka pakai jip. Tapi jip yang paling saya sukai ya jip Willys yang pernah saya pakai ngantar Sultan di jaman clash dulu itu”.

Kami semua tertawa dengan komentar Romo Mangun itu.

Sepulang dari Yogya, kami lalu mengadakan persiapan pertemuan umat yang disarankan Romo Mangun. Pak Yusma mengerahkan teman-teman Perduki seluruh KAJ. Pak Yusma juga mengetuai Panitia yang berhasil mengumpulkan 20 ribu umat Katolik untuk datang di Istora Senayan pada bulan September 1998. Hampir 100 bis HIBA dikerahkan untuk menjemput dan mengantar umat dari semua paroki di KAJ.

Romo Mangun sempat “ngambek” karena melihat umat yang begitu banyak. Tetapi hati beliau luluh juga ketika kami mengingatkan bahwa murid-murid Yesus memang banyak sekali yang datang mendengarkan kotbah di bukit. Seusai misa mendoakan para korban, acara yang ditunggu-tunggu yaitu “Seminar Teguh Beriman di Tengah Badai” langsung digelar.

Kris Biantoro menjadi MC dan presenternya. Romo Mangun, Romo Mudji, dan Romo Sandyawan memberi masukan dari sisi iman. Pak Said Aqil Siraj yang sekarang ini menjadi Ketua PBNU, mewakili Gus Dur menjadi pembicara utama. Pak Yusma dan teman-teman, karena doa dan pertemuan ini, lalu tidak menjadi gelisah lagi.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply