Pijar Vatikan II: Sepak Bola di Negara Katolik (26F)

Heboh supporter

KEMBALI ke bola. Tayangan, tulisan, ulasan, komentar, dan pernak-pernik Piala Dunia di media cetak atau elektronik, tentu saja hampir tidak ada yang menghubungkannya dengan agama. Paling satu dua artikel dari kalangan tertentu mengekspose Shamir Nasri, dua bersaudara Yahya dan Kalou Toure, Frank Riberry dan beberapa pemain lain yang beragama Islam.

Sementara itu, ulasan bola yang berbau SARA jelas-jelas dihindari. Say no to racism adalah seruan yang paling keras diserukan oleh FIFA. Kode etik jurnalistik juga menegaskan perlunya produk jurnalistik yang netral dan tidak berfihak pada agama atau keyakinan tertentu. Di dunia yang semakin sekuler dan pragmatis ini, nampaknya tidak relevan lagi menghubungkan olah raga apa pun termasuk sepakbola dengan urusan agama.

Walau begitu, sebenarnya diam-diam banyak juga yang tergelitik menghubungkan agama katolik dengan sepakbola, karena senyatanya sejarah sudah mencatat selama 19 kali gelaran Piala Dunia (dan yang ke 20 sekarang ini), negara-negara katolik selalu menjadi pemenangnya.

Mengapa bisa begitu?

Adalah Nicholas Farrell, seorang warga Inggris pemeluk Kristen Protestan yang menikahi Carla, wanita Italia dan seorang katolik yang sangat taat. Pasangan Nicholas dan Carla dikaruniai tiga anak. Mereka tinggal di Forli, kota yang tidak jauh dari Roma. Sebagai jurnalis dan penulis lepas, Farrell sangat terusik ketika dua tahun lalu pada final Piala Eropa 2012 di Kiev antara kesebelasan Italia dan Spanyol, kota Forli menjadi kota mati. Semua orang di kota kecil itu nonton pertandingan final Piala Eropa di depan TV.

Farrell menjadi terusik dan mencari tahu mengapa dua negara katolik: Italia dan Spanyol bisa begitu hebat dalam sepakbola sementara mereka terpuruk dalam krisis ekonomi Eropa? Malam itu juga ia meng-Google : “Why are Catholics so good at soccer”. Ia tidak menemukan apa-apa.

Begitu kata Catholics ia ganti kata Italians, ia menemukan beberapa jawaban. Salah satunya, sepakbola itu seni yang sudah mendarah daging di Italia. Maka setiap gerakan dalam bola sudah menyatu dengan gaya orang Itali sejak dilahirkan. Dari situ Farrell lalu menuliskan rasa penasarannya : “Why are Catholic so good at kicking around soccer balls but so bad at running their countries” dalam tulisan berjudul “The Holy Roman Church of football”.

Paus fransiskus dan kaos sepak bola tim Argentina by NBC News

Kaos tim nasional Argentina: Paus Fransiskus yang berdarah Italia namun berkewarganegaraan Argentina dengan senyum mengembang menggegam erat kaos tim nasional Argentina. (NBC News)

  1. Tulisan Farrell tentang hal ini lalu dimuat di majalah gaya hidup: Taki Magazine. Kantor berita Katolik Ucanews, termasuk dalam edisi bahasa Indonesianya, ikut tertarik dan mengutip pandangan Farrell ini, dalam judul berita : “Mengapa negara katolik baik dalam sepakbola tetapi buruk dalam ekonomi”.
  2. Mengutip pendapat filsuf Protestan Max Weber, Farrell menulis bahwa semangat kapitalisme lebih hidup di kalangan para pemeluk Protestan dibanding di kalangan Katolik. Revolusi Perancis, yang semula terjadi di negara katolik dan menjadi awal kebangkitan revolusi industri, gemanya lebih bergaung di negara-negara prostestan dibanding di negara katolik.

Gereja Protestan lebih menekankan kerja keras dan sukses ekonomi untuk meraih keselamatan. Sementara di kalangan Katolik, kerja keras itu bukan “tiket” masuk surga. Keselamatan itu anugerah Tuhan, bukan “hadiah” atau “penghargaan” kalau orang sukses secara ekonomi.

Farrell sering tidak mengerti mengapa isterinya yang orang Italia itu, bisa begitu rajin mengikuti misa harian dan mingguan di gereja paroki, rutin mengaku dosa, begitu cinta kepada Bunda Maria dan begitu percaya kepada mukjizat orang kudus terutama Padre Pio.

Kepada isterinya, Farrell kadang bertanya apakah tagihan listrik, gas, cicilan rumah, dan asuransi itu akan terbayar dengan semua kegiatan keagamaan katolik itu, dengan tenangnya Carla menjawab: “They are all irrelevant. All you need to survive are bread and water.”

Jadi dalam pandangannya, Farrell menyimpulkan orang-orang katolik bagus dalam sepakbola karena memang di negara katolik orang lebih suka berolah raga daripada bekerja. Lebih tepatnya, di negara katolik dalam berolah raga khususnya sepakbola, orang mengerahkan seluruh energi dan “passion”nya. Dengan mempertimbangkan pendapat Max Weber dan melihat keyakinan isterinya Carla, akhirnya Farrell mengkonfirmasi: “To Catholics work is an obstacle, not a means, to salvation.”

Kartu anggota Paus

Kartu anggota Paus: Semasa masih menjabat Kardinal di Buenos Aires –Ibukota Argentina– Mario Kardinal Jorge Bergoglio SJ –kini Paus Fransiskus– mendapat kehormatan menjadi anggota klub sepak bola San Lorenzo de Almagro. (Ilustrasi/Ist)

Kekatolikan Wayne Rooney, Wesley Sneijder dan Pastor yang kebablasen.

Tentu saja, banyak komentar yang menyatakan tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat Farrell ini. Tidak hanya di kalangan protestan, kerja keras tentu saja juga sangat dihargai oleh orang Katolik. Dan memang semangat katolik yang terinspirasi dari semangat Santo Fransiskus Assisi “ora et labora” juga terjadi di lapangan sepakbola. Peranan agama, iman dan kekatolikan untuk banyak pemain bola Katolik masih cukup kental dirasakan.

Wayne Rooney dan Wesley Sneijder contohnya. Siapa tidak kenal Wayne Rooney, pemain Manchester United dan ujung tombak timnas Inggris ini?

Dalam konferensi pers menjelang pertandingan Inggris melawan Amerika pada Piala Dunia Afrika Selatan tahun 2010, seorang wartawan menanyakan kepada Rooney mengapa ia mengalungkan rosario ketika latihan? John Cross, kolumnis sport dari “The Mirror” yang juga hadir pada konferensi pers tersebut menceritakan Rooney nampak terkejut dengan pertanyaan ini.

Paus - Balotelli

Kali ini super santun: Balotelli yang sering berbuat onar di lapangan kali ini tampil sangat santun saat bertemu Paus Fransikus di Vatikan belum lama ini. (Ilustrasi/Ist)

Ketika ia menjawab: “It’s my religion”, seorang pejabat dari asosiasi sepakbola Inggris langsung memotong “We don’t do religion”.

Walaupun pertanyaan mengenai agama dipotong karena dianggap issue sensitif yang bisa menciderai semangat universalitas olahraga, semua jadi lalu tahu bahwa seorang Wayne Rooney memang seorang Katolik yang taat.

Menurut koran Tempo online, striker Manchester United berusia 26 tahun ini memang selalu mencari saat-saat tenang untuk berdoa sebelum setiap pertandingan. “Saya berdoa kepada Tuhan, tentu saja. Saya percaya pada Tuhan,” katanya dalam sebuah wawancara di radio talkSPORT.

“Saya berdoa untuk kesehatan saya dan semua orang di lapangan. Ini adalah sesuatu yang saya selalu lakukan. Saya berdoa di malam hari. Saya berdoa untuk keluarga saya dan teman-teman dan untuk kesehatan semua orang yang ke saya cintai.”

Di mana biasanya Rooney berdoa sebelum berlaga ? “Saya berdoa di ruang fisioterapi. Saya pergi sana setelah pemanasan. Saya menghabiskan beberapa menit di sana, sendirian,” ujarnya.
Bahwa Rooney dan isterinya menjalankan kekatolikannya dengan baik, juga dikonfirmasi oleh Romo Edward Quinn, Pastor Paroki Rooney di Liverpool.

Ketika Rooney menikah dengan Coleen McLoughlin, Pastor Quinn yang memberkatinya. Pemberkatan perkawinan mereka dilangsungkan di Italia. Romo Quinn masih ingat, seusai upacara pemberkatan perkawinan itu, Rooney dan Coleen membagikan rosario kepada para tamu sebagai suvenir pernikahan.

“Kado rosario itu menjadi tanda yang jelas, siapa Wayne dan Coleen itu”, kata Pastor Quinn. Mereka lahir dan besar dari keluarga Katolik yang sangat baik.

Pastor yang praktis sudah menjadi pembimbing rohani Wayne Rooney ini menambahka : “It is good when high-profile figures demonstrate their faith “so clearly” because “it can only set a positive example that helps the Church.”

Kepada koran London Times, Pastor Quinn bergurau : “Kalau Rooney tidak menjadi pemain bola yang sukses, saya yakin dia masuk Seminari dan menjadi Imam.” (Noting his enjoyment of religious education, the athlete has said that he might have been a priest if he had not been successful in soccer).

wayne-rooney-pa_2830260b

Wayne Rooney yang katolik

Selain Wayne Rooney, pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, nama Wesley Sneijder dari Belanda juga mencuat karena kekatolikannya. Pemain bernomor punggung 10 ini mencetak satu-satunya gol pada semifinal melawan tim favorit Brasil, dan mengantar kesebelasan Belanda menuju partai puncak melawan Spanyol.

Harian Argentina “La Nacion” menuliskan kisah Wesley Sneijder dalam sebuah artikel yang diberi judul : “The Spiritual Goal of a Dutch Soccer Star”. Mariano de Vedia, jurnalis yang meliput Piala Dunia 2010 dan penulis artikel itu, mengatakan bahwa Sneijder datang ke Afrika Selatan sebagai pemain bola yang sudah mendapat anugerah “hidup baru”.

Pada bulan Mei, sebulan sebelum gelaran Piala Dunia 2010 dimulai, Sneijder dibaptis secara Katolik di sebuah gereja di Milan. Sneijder dibaptis setelah dinyatakan “lulus” mengikuti pelajaran agama dari Pastor Kapelan kesebelasan Inter.

Ketika dibaptis, Bapak baptisnya adalah Javier Zanetti, teman mainnya di klub Inter. Zanetti, kapten kesebelasan Inter yang sangat taat beragama itu, memang bersahabat baik dengan Sneijder. Tetapi yang sangat mempengaruhi keputusan Sneijder untuk menjadi Katolik, bukanlah pertama-tama sahabatnya Zanetti, orang Argentina Italia itu, tetapi isterinya Yolanthe Cabau.

Isteri Sneijder yang sangat cantik ini adalah seorang aktris Belanda yang lahir di Ibiza Spanyol. Seperti warga Spanyol pada umumnya, Yolanthe lahir, tumbuh dan besar dalam keluarga katolik yang sangat baik.

Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Sneijder ke gereja setiap hari Minggu dan menerima komuni. Kemana pun ia pergi, ia memakai rosario pemberian Yolanthe yang dikalungkan di lehernya. Bisa dipastikan pada gelaran Piala Dunia 2014 di Brasil kali ini, Sneijder juga melaksanakan kewajiban misa hari Minggu dan menerima komuni. “The faith gives me strength,” kata Sneijder.

Lebih lanjut gelandang utama kesebelasan Belanda ini mengatakan : “My convictions often keep me strong and give me determination. Everyday I pray the Our Father with her. Before each game I always seek out a place to pray,” Luar biasa!

Selain kisah Sneijder yang memeluk agama Katolik ini, pada gelaran Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan empat tahun yang lalu, juga masih ada kisah lain dari Belanda yang cukup mencengangkan karena menjadi kisah yang khas Katolik. Saking semangatnya mendukung timnas Belanda yang melaju ke final Piala Dunia melawan Spanyol, seorang pastor paroki di Belanda mendapat sangsi berat dari Uskupnya.

Wesley Sneijder

Wesley Sneijder yang juga katolik

Romo Paul Vlaar yang ditugaskan menjadi Pastor Kepala Paroki di Obdam, pada suatu hari Minggu menyulap gerejanya menjadi serba oranye, warna khas timnas Belanda.

Obdam adalah “desa” kecil di daerah Amsterdam Utara. Walau daerah pedesaan kecil, tetapi hampir semua warga paroki adalah umat katolik yang taat. Sementara banyak gereja di Belanda kosong ditinggalkan umat, misa hari Minggu di Gereja Obdam selalu dipenuhi umat.

Hari itu selain bunga, Gereja Obdam dipenuhi dengan dekorasi bendera sepakbola Belanda, spanduk-spanduk dukungan dan pernak-pernik bola serba oranye. Pastor Vlaar juga mengumumkan umat yang hadir diminta untuk memakai kaos timnas Belanda. Tak ketinggalan, saking semangatnya mendukung kesebelasan Belanda, pada misa itu Pastor Vlaar juga memakai kasula berwarna oranye. Kasula itu ia pesan di salah satu tukang jahit milik umat. Niat betul pastor ini ! Tidak hanya itu, seusai misa, Pastor Paul Vlaar turun dari altar dan memperagakan diri sebagai keeper ala Edwin van der Sar. Beberapa mudika paroki menendang bola ke arah pastor “keeper” Vlaar ini.

Mendapat laporan bahwa Pastor Obdam ini sudah “kebablasen” mengubah gereja Paroki menjadi ajang main bola dan arena “nobar” (nonton bareng) macam itu, Uskup Haarlem Mgr. Jozef Punt langsung memanggil Pastor Vlaar yang nyentrik ini untuk datang ke Keuskupan.

Pastor Vlaar ditarik dari paroki untuk waktu yang tidak ditentukan, diminta untuk tidak mempersembahkan misa umat, dan diberi waktu refleksi di luar paroki. Singkatnya, ia disuspensi. Dalam sebuah surat edaran kepada semua Paroki di Keuskupan Haarlem, Uskup mengatakan bahwa tindakan Pastor Vlaar dikategorikan : “did not do justice to the sacred nature of the Eucharist.”

Pastor Win Bijman, yang menjadi pastor rekan dan wakil pastor Paroki Obdam, menyayangkan keputusan suspensi ini. Pastor Bijman mengatakan, hukuman yang diterima rekannya ini terlalu berat. Pada Piala Dunia di Brasil kali ini, perasaan Pastor Bijman ini bisa disamakan dengan perasaan Chiellini yang juga keberatan Luis Suarez yang menggigitnya diberi sangsi begitu berat oleh FIFA.

Menurut Pastor Bijman, umat sangat terkejut dan kecewa dengan hukuman suspensi yang diterima Pastor Paul Vlaar. “Mungkin kami memang kebablasen. Euphoria Belanda masuk final lagi sangat kuat. Kami jadi ikut heboh. Tetapi hukumannya mosok seperti itu”, kata pastor Bijman.

Selanjutnya, pastor pembantu paroki ini mengatakan : “It is part of Pastor Paul’s personality that he manages to harness that kind of enthusiasm to get people into church. The church here is full and in other places churches are empty.

Jadi apa urusan sepakbola dengan agama Katolik?

Bahwa sampai sekarang, Piala Dunia sepakbola nyatanya hampir selalu dijuarai oleh negara-negara Katolik, tentu saja bisa diperdebatkan mengapanya. Apakah negara itu menjadi jagoan sepakbola karena agama Katolik atau karena faktor lain ? Semua wakil Asia pada Piala Dunia di Brasil ini : Iran, Jepang, Korea, Australia, sudah pulang kandang dengan rekor menyedihkan : menjadi juru kunci dan tak pernah menang.

Apakah semua wakil Asia itu jeblok di Piala Dunia Brasil karena mereka bukan negara Katolik? Kalau memang Katolik itu faktornya, apakah ini juga yang menjadikan Indonesia tak pernah lolos ke Piala Dunia karena di negara ini Katolik minoritas? Lha negara Filipina yang mayoritas penduduknya katolik juga tidak bisa berbicara apa-apa dalam sepakbola level dunia ?

Jadi jelas, antara sepakbola dan agama Katolik, hubungannya tidak jelas atau malah tidak relevan.

Bahwa hubungan langsung antara sepak bola, pemain bola dan agamanya bisa diperdebatkan, kita sudah makfum. Di banyak negara Katolik, sepak bola sudah mengalahkan misa hari Minggu juga sudah bukan cerita baru. Sepak bola, di pelbagai negara Katolik sudah menjadi “agama baru”. Stadion bola penuh, gereja kosong, akan selalu menjadi simbol hitam-putih gereja Katolik Eropa.

Walau di Belanda masih ada kisah Wesley Sneijder, kisah gereja Katolik di Belanda masih tetap mengenaskan. Belanda menjadi satu-satunya negara yang pernah melempar telor dan tomat busuk kepada Paus ketika Paus Yohanes Paulus II mengunjungi negara kincir angin ini. Seorang teman imam Belanda dari Keuskupan Breda pernah bercerita kalau di Belanda ada seorang anak SMA bilang kepada teman-temannya ia baru saja ikut latihan koor di Paroki, anak ini pasti langsung menjadi bahan tertawaan.

Di Belanda, orang masih berurusan dengan agama itu dianggap naif, konyol.

Paus Fransiskus dan sepak bola

Untung saja, Paus Fransiskus tidak pernah menjadi “gagap” kalau bertemu dengan dunia sepak bola yang menghebohkan ini. Sebagai orang Argentina, Paus Fransiskus menganggap sepak bola sudah menjadi darah dagingnya, sudah menjadi bagian sejarah hidupnya. Sebagai supporter setia klub San Lorenzo yang tahun ini menjadi juara Liga Argentina, oleh para pemain dan supporter bola, Paus Fransiskus sudah dianggap “orang kita”, “uno di noi”.

Bahwa negara-negara Katolik ngetop dalam sepakbola, oleh Paus Fransiskus tidak pernah dianggap sebagai “kecelakaan sejarah”. Paus bahkan sangat bersyukur kepada sepakbola yang menjadi olahraga yang sangat populer dan sangat digemari di negara-negara Katolik.

Setiap kali di Vatikan, Paus menerima kunjungan audiensi para pemain sepakbola, ia selalu menyerukan hal yang sama : “Dear players, for better or worse, you are role models. You are very popular. People follow you, and not just on the field but also off it. That’s a social responsibility.”

Seruan ini diulang lagi ketika Timnas Italia dan Timnas Argentina “sowan” ke Vatikan bulan Agustus tahun lalu sebelum mereka melakukan pertandingan persahabatan. Buffon dan Messi, mendapat salam dan pelukan hangat dari Paus. Ketika Buffon dan Messi mengundang Paus Fransiskus nonton pertandingan mereka, dengan bercanda Paus menjawab : “Saya ingin sekali nonton. Tetapi serdadu penjaga Swiss itu pasti melarang saya karena begitu keluar dari pintu gerbang itu saya pasti akan membuat kehebohan. Saya berkati dan saya doakan saja kedua tim saya Argentina dan Italia ini di Piala Dunia nanti. Tetapi supaya saya adil, saya tidak akan menjadi “tifoso” (supporter) Argentina atau Italia”.

Kata beberapa koran Italia, pada Piala Dunia 2014 ini, Paus Fransiskus menjagokan Brasil menjadi juara.

Karena Paus mengharapkan agar para pemain bola menjadi contoh hidup yang baik bagi kaum muda, maka pemain seperti Balotelli menjadi sangat sungkan bertemu Paus. Balotelli merasa hidupnya sebagai pemain bola Katolik tidak bagus-bagus amat. Punya anak di luar nikah, gonta-ganti pacar, watak yang temperamental, selalu menjadi sorotan media dunia. Kulitnya yang hitam dan wajah Afrika hitamnya yang tidak cocok dengan wajah Italia dan Eropa, menjadikannya bulan-bulanan rasisme.

Paus Fransiskus rupanya tahu. Maka pada pertemuan di Vatikan itu, Balotelli diajak bicara secara pribadi selama 5 menit. Pelatih Cesare Prandelli meminta khusus agar Paus ketemu berdua saja dengan Balotelli. Sesudah pertemuan itu, Balotelli nampak bahagia sekali. Dengan gaya kebapakannya yang hangat, Paus rupanya sudah berhasil mengangkat beban Balotelli yang luar biasa besar.

Kehadiran Paus Fransiskus menyapa para pemain sepakbola dan dunia sepakbola, kiranya bisa menjadi model kehadiran gereja Katolik kepada dunia olahraga. Sebelum Piala Dunia di Brasil dimulai, secara khusus Paus Fransiskus juga menerima kunjungan Presiden Brasil : Dilma Rousseff. Presiden wanita dari Brasil yang menjadi tuan-rumah Piala Dunia ini, nampaknya perlu “meminta doa restu” dari Paus agar Piala Dunia ini berlangsung dengan baik.

Dilma dan keluarganya, termasuk penganut Katolik yang baik. Pada kesempatan itu, Presiden Dilma juga menghadiahi Paus jersey timnas sepakbola Brasil yang dibubuhi tandatangan pemain bola legendaris Brasil: Pele dan Ronaldo.

Koleksi jersey bola Paus Fransiskus semakin banyak saja. Sambil bergurau, Presiden Brasil meminta Paus agar tetap netral dan tidak mendukung tim Argentina atau Italia. Menanggapi kunjungan Presiden Dilma Rousseff ini, Paus berjanji akan memberikan sambutan khusus pada Piala Dunia di Brasil nanti.

Begitulah, selain memberikan sambutannya dalam bahasa Portugis, pada pembukaan Piala Dunia di Brasil ini Paus juga menuliskan ucapan selamat di account tweeternya @Pontifex begini : “Auguro a tutti uno splendido Mondiale di Calcio, giocato con spirito di vera fraternità”

Kepada para pecinta sepakbola dunia, Paus Fransiskus berharap agar Piala Dunia di Brasil ini dimainkan dengan semangat persaudaraan yang sejati. Tweet dari Paus Fransiskus ini sampai sekarang sudah mencapai 14 juta follower.

Kepada para pemain Italia dan Argentina yang mengunjungi Paus di Vatikan tahun lalu, Paus juga menunjukkan kerendahan hatinya yang luar biasa. Seperti sambutan pertamanya sebagai Paus di balkon Basilika Santo Petrus, Paus tidak hanya mendoakan tetapi juga minta didoakan.

Kepada Buffon dan Messi cs, Paus Fransiskus mengatakan : “Pray for me, so that I, on the ‘field’ upon which God placed me, can play an honest and courageous game for the good of us all.”

Buffon dan Messi sangat tersentuh oleh seruan Paus Fransiskus ini. Gianluigi Buffon, kapten dan keeper timnas Itali ini, sambil menunjukkan jersey yang ditandangani Paus mengatakan : “He’s warmed up the hearts again of all the faithful who might have drifted away from the church during past papacies. With a pope who’s like this, it’s easier to become better.” Sementara itu

Lionel Messi, maha bintang sepakbola dari Argentina, sesudah bertemu Paus Fransiskus di Vatikan untuk pertama kalinya mengatakan : “The best way to respond to Pope Francis’ appeal is to put on a clean show tomorrow, on the field and in the stands,” Rupanya Messi masih tersentuh dengan harapan Paus agar para pemain bola hendaknya menjadi model dan contoh bagi dunia.

Jadi dimana urusan agama Katolik dan sepakbola?

Mengacu pada contoh Paus kita, agama dan iman kita sangat berurusan dengan sepakbola, karena dalam gelaran olah raga paling populer sejagad raya ini, ada begitu banyak nilai yang harus dipromosikan oleh sebuah negara Katolik yang menjadi tuan rumah, oleh begitu banyak pemain bola dan supporter Katolik dan ada begitu banyak urusan “kemanusiaan” yang juga menjadi urusan kita semua.

Dengan sepakbola, orang Katolik dan gereja Katolik bersama-sama mempromosikan yang namanya : persaudaraan, cintakasih, perdamaian, kompetisi sehat, olah raga dan olah jiwa, kejujuran, fair play, menjadikannya model dan contoh hidup yang baik bagi generasi muda dunia, yang membuat dunia ini dalam bahasa populer para selebritas dunia : “a better place to live”.

Dengan sepakbola, seperti yang ditunjukkan gereja Brasil, kita juga bergandeng tangan dalam menentang individualisme, rasisme dalam segala bentuk, manipulasi manusia, perbudakan modern yang merendahkan martabat manusia, pemujaan kepada bisnis, uang dan keuntungan.

Semangat dan hal-hal positif yang diserukan Paus Fransiskus dan gereja pada Piala Dunia kali ini, kiranya tidak jauh berbeda dengan seluruh semangat Konsili Vatikan II setengah abad yang silam. Nilai nilai yang diingatkan oleh gereja Katolik dan dipresentasikan dengan baik oleh Gereja Brasil pada Piala Dunia ini, juga hadir dengan sangat jelas pada seruan para Bapa Konsili Vatikan II yang terangkum dalam seluruh isi Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja dalam dunia, Dekrit Apostolicam Actuositatem tentang tugas dan peranan awam dalam dunia, dan Pernyataan Gravissimum Educationis tentang pendidikan Katolik.

Secara sederhana, semua itu sangat terangkum dalam lagu suci yang kita nyanyikan setiap pesta perayaan Perjamuan Ekaristi pada Malam Kamis Putih : “Ubi caritas et amor, Deus ibi est”, di mana ada kebaikan dan kasih, di sana Tuhan hadir. Sepakbola akan menjadi “Katolik” kalau seluruh insan sepakbola siapapun dan di manapun bisa menghadirkan kebaikan dan cinta.

Karena di sana, Tuhan hadir.

Semangat “Ubi caritas et amor, Deus ibi est” ini sering direfleksikan oleh almarhum Mgr. Valentinus .Kartosiswoyo, dosen dan pembimbing kami di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Kalau mau bicara tradisi katolik, kami sangat tersentuh oleh contoh hidup Mgr.Karto.

Beliau fasih berbahasa Latin. Maklum semua kuliah Hukum Gereja yang beliau dapat di Roma dulu, diberikan dalam bahasa Latin. Tradisi Katolik yang sangat kental dalam bahasa Latin, dicontohkan Mgr.Karto dengan sangat bagus setiap kali beliau memimpin misa dan ibadat Astuti (Pentahtaan Sakramen Maha Kudus).

Sebagai ahli Hukum Gereja, Mgr.Karto sama sekali tidak mengesankan sebagai ulama ortodoks yang kaku macam orang Farisi dalam Injil. Beliau justru menjadi pribadi yang sangat manusiawi. Beliau menjadi sosok yang dekat dengan siapa pun yang punya masalah. Contoh-contoh kasus yang diberikan dalam kuliah Hukum Gereja, menjadi begitu menarik dan hidup.

Siapa pun menyukai kuliah beliau. Sebagai Praefek Umum, dalam acara instruksi mingguan di Kapel Kentungan, Mgr.Karto bisa memberikan arahan dan sentilan yang tepat dan mengena, tanpa melukai hati pendengarnya.

Suatu sore, saya pernah dipanggil ke kamarnya. Selain menjadi pembimbing rohani, waktu itu Mgr. Karto juga menjadi pembimbing tingkat kami. Saya ditegur karena saya dianggap terlalu bersemangat melatih Drum Band.

Ketika duduk di tingkat II, saya dan beberapa teman memang mewarisi kegiatan melatih Drum Band SD Tarakanita Bumijo Yogyakarta dari mas Adi Susanto dan mas Supriyanto Midhul. Saya bertanya kepada Mgr.Karto, apakah kegiatan para frater itu yang baik dan direstui staf Seminari adalah kegiatan yang berurusan dengan surga saja seperti: Legio Mariae, mengajar agama dsb, sedang Drum Band dilarang karena itu cenderung kegiatan dunia yang tidak mendukung panggilan?

Kalau begitu sepakbola, volley dan badminton juga dilarang di Seminari dong karena tidak ada hubungannya dengan panggilan. Dengan wajah kebapakan, Mgr. Karto menjawab : “Saya memanggil Romo sore ini tidak untuk mendiskusikan Drum Band atau kegiatan apa yang surgawi atau apa yang duniawi. Saya hanya ingin, agar kita selalu berani memeriksa batin kita apakah semua yang kita buat itu mendukung perkembangan rohani dan jasmani kita”.

Karena tidak terlalu puas dengan jawaban ini, saya bertanya lag : “Jadi ukuran baik bagi perkembangan rohani atau baik bagi panggilan itu apa Mgr?”

Karena bel makan malam sudah berbunyi, sambil berdiri dan mempersilahkan saya ke luar ruangan, beliau mengatakan: “Yang baik itu yang berguna bagi keselamatan !”

Dari obrolan yang pernah saya dapat dari almarhum Mgr.Karto ini, saya jadi sedikit bisa memahami hubungan antara sepakbola dan agama. Sama seperti Drum Band adalah kegiatan dunia yang tidak ada hubungannya dengan agama, saya juga merasa sepakbola akan “berarti” dan akan menjadi “katolik” sejauh itu berurusan dengan “keselamatan”.

Tentu saja “keselamatan” yang dinasehatkan Mgr.Karto itu adalah keselamatan kekal. Jadi selama dalam sepakbola ada kebaikan dan cinta kasih, di sana pasti Tuhan hadir. Karena Tuhan hadir, maka keselamatan itu juga hadir, termasuk tawarannya.

“Ubi caritas et amor, Deus ibi est”.

Tiba-tiba saya rindu pada suara merdu Mgr. Karto menyanyikan bait lagu itu. Selamat menikmati gempita Piala Dunia Brasil.

Kali ini saya menjagokan kesebelasan negara katolik yang mendengarkan seruan Paus Fransiskus dan yang bersama almarhum Mgr.Karto, bisa mempraktikkan dalam permainan mereka : “Ubi caritas et amor, Deus ibi est”

Salam heboh sepak bola.

Catatan: http://takimag.com/article/the_holy_roman_church_of_football_nicholas_farrell/print#axzz34xZ7fPCB

Tautan: 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: