Pijar Vatikan II: How Great is a Good Priest, Mengenang Alm. Romo Hari Kustono Pr (28A)

Romo Kustono 1 - 2008HARI Kamis 13 November 2014, dipersembahkan misa memperingati 40 hari meninggalnya Romo Antonius Hari Kustono Pr di Kapel Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Menurut informasi yang diunggah di WhatsApp dan Milis Seminari Mertoyudan angkatan 73 kami, misa 40 hari itu akan dipersembahkan oleh Romo J. Kristanto, Rektor Seminari Kentungan, pada pukul 12.00. Romo Y.Hari Kustanta SJ, […]

Romo Kustono 1 - 2008

HARI Kamis 13 November 2014, dipersembahkan misa memperingati 40 hari meninggalnya Romo Antonius Hari Kustono Pr di Kapel Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Menurut informasi yang diunggah di WhatsApp dan Milis Seminari Mertoyudan angkatan 73 kami, misa 40 hari itu akan dipersembahkan oleh Romo J. Kristanto, Rektor Seminari Kentungan, pada pukul 12.00.

Romo Y.Hari Kustanta SJ, kakak kandung almarhum Romo Hari Kustono, tidak bisa ikut konselebrasi pada misa peringatan 40 hari meninggalnya adiknya itu. Romo Hari Kustanto, teman kami seangkatan, sedang terbaring di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Kustanta tengah menderita sakit yang serius. Ia sedang menjalani perawatan intensif dan kemoterapi. Kata Romo Purwatma, teman angkatan yang mengunjunginya, kemarin sore Kustanto malah minta diberi minyak suci. Malamnya ketika kembali ditengok Romo Purwatma, keadaan Romo Kustanto membaik.

Lebih dari sekedar teman
Tidak terasa, 40 hari sudah, Romo Hari Kustono pergi meninggalkan kita. Rasanya saya masih belum percaya, ia pergi secepat itu. Bagi saya, Kustono bukan lagi sekedar menjadi sahabat dan teman yang baik. Ia sudah seperti saudara dan adik saya sendiri.

Ketika ia meninggal, ada sesuatu yang berharga dalam diri saya, yang ikut pergi bersamanya. Ikatan batin dengan almarhum, rasanya tetap tertanam dalam. Walau Kustono pergi, banyak kesan indah tetap tersimpan dalam diri saya. Banyak kenangan yang baik, tidak akan pernah hilang dengan kepergiannya.

Kalau saya hitung, saya seasrama dengan Hari Kustono selama kurang lebih 13 tahun. 2 tahun di Seminari Menengah Mertoyudan, 5 tahun di Seminari Tinggi Kentungan, 2 tahun di Collegio San Paolo Roma dan 4 tahun menjadi tetangga kamar saya di Collegio Olandese Roma. Selisih usia kami cuma 2 tahun. Kami masuk Seminari Mertoyudan tahun 1973, Kustono masuk tahun 1975. Selama itu, tak terhitung lagi, berapa banyak kebersamaan yang pernah saya lalui bersama Kustono.

Kustono, orang yang baik
“Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang”, begitu kata pepatah lama.

Kalau kepada kami yang mengenalnya, diajukan pertanyaan yang sama: Hari Kustono lalu meninggalkan apa?

Saya rasa jawabannya jelas: ia meninggalkan kebaikan. Ia meninggalkan begitu banyak hal yang baik. Semua orang yang mengenalnya: teman-teman sekelas, para dosen, para seminaris, para mahasiswa-mahasiswinya, rekan sejawat, umat Paroki, imam, bruder, suster, semua kenalannya di Indonesia maupun di Italia, apalagi keluarganya, semua pasti bilang: Kustono orang yang baik.

Ia juga seorang imam yang baik.

Begitu mendengar kabar meninggalnya Hari Kustono, sahabat saya Romo Koko, karikaturis Majalah Hidup itu langsung telpon dari Pangkalpinang tempat tugasnya sekarang. Karena lagi di mimbar mengarahkan raker kantor, telpon Koko tidak saya jawab. Beberapa saat kemudian Koko kirim SMS bilang: “Kun, Kustono wis dipundhut Gusti mau bengi. Awake dhéwé kelangan kanca sing ndemenaké tenan Kun!” (Kun, Kustono sudah dipanggil Tuhan semalam. Kita kehilangan teman yang sungguh “menyenangkan” Kun!).

Istilah Jawa “ndemenaké” yang dipakai Romo Koko untuk menggambarkan almarhum Romo Kustono itu, maknanya sangat dalam. Pada istilah itu, ada nuansa: “dhemen”, yaitu senang, gembira, dan bahagia yang hadir karena dibawa oleh pribadi yang baik.

Kehadiran Kustono untuk siapa pun, terutama bagi kami teman-temannya, memang selalu menyenangkan. Selama 13 tahun lebih saya mengenal Kustono, sekalipun saya tidak pernah melihat Kustono marah, membentak-bentak, kalap atau bicara dengan nada tinggi. Kalau lagi kesal atau kecewa, Kustono cenderung diam. Bahkan kalau saya anggap ia benar atau kecewanya beralasan, Kustono cenderung mengalah dan memaklumi.

Beberapa kali saya sering tidak sabar, melihat Kustono begitu baik dan mengalah.

Di Collegio San Paolo dulu, kalau Minggu sore asrama tidak menyediakan makan malam dan kami harus masak sendiri. Suatu ketika Kustono mendapat giliran masak. Teman dari sebuah negara Afrika, tiba-tiba datang ke dapur. Dengan setengah memaksa, ia meminta Kustono meminjamkan gas dapur kami. Alasannya, gas mereka habis padahal mereka lagi masak dan setengah jam lagi tamu-tamu mereka akan datang.

Sebenarnya Kustono bisa bisa langsung menolak permintaan itu. Kustono sendiri juga lagi masak. Ia juga lagi butuh gas. Apalagi teman-teman yang pinjam gas itu juga terkenal menyebalkan: “belagu” dan suka seenaknya. Walau begitu toh Kustono meminjamkan gas dapur kami itu. Tanpa banyak bicara, Kustono mengalah jalan kaki ke Standa beli tabung gas yang baru. Padahal supermarket Standa itu lumayan juga jauhnya dari asrama.

Suatu sore, saya jalan dengan Kustono di depan Colloseum yang lagi direnovasi. Saya ingat, sore itu saya sempat mau berkelahi dengan seorang pekerja bangunan dari Eropa Timur. Saya marah karena pekerja itu menegor saya dengan kata-kata kasar.

Saya tidak tahu kalau lewat di bawah tiang yang lagi dikerjakan itu, adalah kesalahan besar yang membuat saya pantas dimaki dengan kata-kata kasar. Tidak terima dimaki-maki, orang itu saya tantang berkelahi. Ia lalu meludahi saya. Sebelum orang itu saya pukul, dengan sigapnya Kustono melerai dan merangkul saya pergi. Ia hanya sempat berbisik: “pun mangké urusané dadi dawa. Sekolahé awaké dhéwé rak beda kalih sekolahé wong niku”. (Sudahlah, nanti urusan jadi panjang. “Sekolah” kita kan beda dengan “sekolah” orang itu).

Saya jadi ingat, Kustono pernah cerita kalau sejak kecil dia memang suka damai dan tidak suka berkelahi. Di SD, ia pernah “dikerjai” temannya. Yang maju nantang anak itu untuk berkelahi adalah adiknya yang perempuan. Kalau dinakali teman, memang yang menjadi “body guard” Kustono adalah adiknya perempuan yang lebih perkasa itu.

Sore itu Kustono mengajar saya, menjauhi kekerasan dan bisa mengendalikan diri adalah ciri orang yang beradab dan “waras”. Kalau ingat adegan itu, saya suka tersenyum sendiri. Kalau nggak ada Kustono, nggak lucu juga nasib saya ini, berkelahi sama preman ditonton ratusan turis di depan ikon kota Roma dan berurusan sama Carabinieri. Di Itali, memukul orang apa pun alasannya, adalah kesalahan besar yang bisa diganjar penjara.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply