Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Perlukan Santo ‘Made in’ Indonesia? (8B)

SETIAP  tanggal 1 dan 2 November, Gereja kita merayakan Hari Raya “Semua Orang Kudus” dan Hari Raya “Arwah Semua Orang Beriman”. Kita masing-masing, dalam satu dan lain cara, pasti mengenal orang-orang yang sudah dipanggil Tuhan dan menjadi “pahlawan” untuk kita.

Untuk umat Katolik Muntilan, meski belum jadi Santo versi Vatikan, Romo Sanjoyo sudah dianggap Santo. Untuk keluarga Jesuit, sosok alm. Romo “Karim” Albrecht Arbi SJ dan Romo Tarcisius Dewanto  SJ yang terbunuh pada “September Kelabu” tahun 1999 paska jejak pendapat Timtim, adalah pahlawan.

Satu koper lusuh

Untuk orang-orang kecil di tepi Kali Code dan Waduk Kedung Ombo, pahlawan mereka adalah alm. Romo Mangunwijaya Pr. Untuk umat dan imam diosesan KAJ, pahlawan mereka mungkin Mgr. Leo Soekoto SJ. Uskup Jakarta yang hebat ini, masuk Wisma Keuskupan hanya dengan membawa 1 koper lusuh, dan pulang menikmati masa pensiunnya di Wisma Emmaus Girisonta dengan hanya membawa 1 koper rombeng yang sama itu.

Untuk rekan-rekan saya dari Atma Jaya Jakarta, pahlawan itu adalah Wawan yang ditembak mati entah oleh siapa pada Gejolak Reformasi 1998, dan ibunya yang sampai hari ini  habis-habisan berjuang mencari kebenaran untuk anaknya.

Siapa santo-santa terdekat kita?

Tetapi untuk kita semua, pahlawan dan martir yang kita doakan pada Hari Raya “Semua Arwah Orang Beriman” ini, mungkin almarhum ayah atau ibu kita yang mengajar kita kejujuran, ketabahan, mencintai Tuhan, memaafkan. Mungkin pahlawan itu adalah kakek-nenek, oom-tante, kakak-adik, keponakan, saudara, tetangga yang pernah membantu kita “survive” menjalani hidup, yang berjasa ikut membesarkan kita, membantu sekolah, mencarikan kerja, menolong kita.

Saya kenal seorang ibu, yang kembali merengkuh suaminya setelah beberapa tahun meninggalkan dia dan anak-anaknya karena selingkuh dengan wanita lain. Ketika bapak ini kena stroke dan tak lagi bisa cari duit, selingkuhannya langsung mencampakkan. Meski hatinya marah, ibu ini mengambil kembali suaminya yang sudah tinggal  “kepleh-kepleh”.

Bagi saya, ibu ini adalah pahlawan iman dan pahlawan kemanusiaan yang besar. Saya juga punya teman, yang bapaknya gagal ginjal. Seminggu 2 kali cuci darah. Dia sudah jual rumah, mobil dan sawahnya, untuk ongkos berobat bapaknya itu. Walau seluruh keluarga jadi bermati raga, teman saya yang hidupnya jadi pas-pasan ini, tetap tersenyum dan menerima kenyataan ini dengan wajar-wajar saja. Dia sama sekali tidak minta belas kasihan, meski 4 adik kandung bapaknya menjadi imam. Bagi saya, teman saya itu juga pahlawan.

Nah, kalau di sekitar kita, ternyata ada begitu banyak “pahlawan” yang bisa memberi inspirasi iman tanpa harus menjadi “martir”, masihkah kita merindukan seorang “Santo” atau “Santa” made in Indonesia?

Pertanyaan ini pasti mengingatkan kita pada pesan Konsili Vatikan II: “bagaimana bisa mempraktikkan panggilan kekudusan itu dalam hidup sehari-hari”?

Menjadi “martir” atau pahlawan iman adalah panggilan masa depan (nanti, bahkan mungkin sesudah mati) atau panggilan sekarang, kini dan di sini (hic et nunc)?

Pada saat kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dan mendoakan Arwah Semua Orang Beriman ini, kiranya pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa kita jadikan refleksi bersama di dalam keluarga, di lingkungan dan di paroki kita.

Romo Sanjoyo dan semua orang Kudus yang sudah mulia di rumah Bapa, dampingilah dan doakanlah kami yang masih berjiarah ini! (Selesai)

Photo credit: Kerkop Girisonta (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait: 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: