Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Perlukah Santo ‘Made in’ Indonesia? (8A)

DI Universitas Urbaniana dulu, ada dosen kami yang bertahun-tahun memberi kuliah tentang hidup sesudah mati. Bahasa kerennya, mengajar eskatologi. Saya kadang bertanya dalam hati, kok ada ya di dunia ini orang yang masih hidup, bisa betah ngomong tentang kematian dan dunia orang yang sudah mati.

Padre Bruno J. Korošak, nama dosen eskatologi kami itu, adalah orang Slovenia. Dia seorang biarawan Ordo Fransiskan. Orangnya ramah, tertawanya lepas. Di kalangan para mahasiswanya, Padre Bruno termasuk dosen “gaul” yang disukai. Dalam jubah coklat kebesarannya, Padre Bruno selalu terlihat menonjol kalau lagi ngobrol dengan para mahasiswanya. Di kantin kampus, minuman kesukaannya adalah “caffe espresso”. Cemilannya : “un brioche”.

Pastur Korošak juga pernah menjadi pembimbing skripsi saya.

Romo Ricardo Sanjaya Pr di Muntilan

Ketika sedang ngobrol di kantin kampus Universitas Kepausan itu, Padre Bruno pernah bertanya kepada saya: “Agustinus, saya dengar di negara kamu ada seorang iman diosesan yang bernama Ricardo (un certo Ricardo). Dia dibunuh ketika Indonesia kalian diduduki Jepang. Info yang kami terima, dia banyak membuat mukjizat. Banyak orang yang dikabulkan doanya kalau berdoa di makamnya. Apa kalian bisa memberi info lebih banyak tentang imam praja Ricardo itu ? Berikan info-info itu ke saya. Nanti saya bawa ke Vatikan. Mosok belum ada seorang pun dari negara kamu yang menjadi Santo!”

Un certo Ricardo yang dikatakan Padre Bruno itu, tentu saja adalah Romo Ricardus Sanjoyo. Untuk umat Paroki Muntilan, nama Romo Sanjoyo sudah menjadi bagian dari identitas keluarga katolik kami. Dalam bahasa para Mafiosi, nama Sanjoyo sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari “cosa nostra” (urusan keluarga dalam) kami.

Nama pelindung paroki kami adalah Santo Antonius (biarawan besar Fransiskan). Pengelola paroki kami adalah para imam Jesuit (yang pendirinya Ignatius dari Loyola). Tetapi pelindung umat dan martir kami adalah Romo Sanjoyo (imam diosesan atau imam praja pertama yang berasal dari Muntilan).

Meskipun senang dan bangga, bahwa ternyata dosen saya orang Slovenia itu tahu tentang “pepundhen kami” Romo Sanjoyo, tetapi entah mengapa, siang itu jawaban spontan saya kepada Padre Bruno, saya rasakan tidak mengenakkan.

Saya bilang, “Benar Romo, negara kami belum punya Santo atau Santa. Dengar-dengar, jadi Santo itu prosesnya lama dan ongkosnya mahal! Lagi pula, beberapa uskup di banyak keuskupan kami masih berdebat, Romo Sanjoyo itu dibunuh karena membela iman atau sial saja menjadi korban “rebutan lapangan sepakbola Pasturan Muntilan”.

Biar sajalah kami nggak punya Santo yang diakui Vatikan. Yang penting untuk kami Romo Sanjoyo itu sudah lama menjadi Santo. Doa-doa kami dikabulkan kalau kami “mengeluh” kepada beliau.

Kami sudah sering mendapat mukjijat dari Romo Sanjoyo. Lagipula untuk kami orang Muntilan, yang namanya mukjizat itu, ya sederhana saja, bukan yang hebat-hebat. Keluarga miskin, dengan 7 anak, bisa makan, bisa sekolah, hidup rukun, mencintai Tuhan dan Gereja, itu sudah mukjizat!”

Mendengar jawaban saya itu, Padre Bruno cuma berkomentar pendek: “Ah, bisa saja kamu itu !”

Jalan panjang

Di Gereja kita, urusan “bikin Santo” memang urusan Tahta Suci. Departemen yang mengurus itu nama resminya Congregatio de Causis Sanctorum. Tugas utama departemen pada Kuria Roma ini adalah memproses seseorang menjadi “orang kudus” yang diakui dan diresmikan gereja.

Mau jadi “orang kudus” itu, rupanya rumit dan prosesnya panjang.

Konggregasi “de Causis Sanctorum” itu mengolah dan menyelidiki dulu, apakah yang akan diusulkan jadi “orang kudus” itu memiliki sejumlah “keutamaan-keutamaan yang heroik”, sudah “bikin mukjizat”, sudah diverifikasi oleh badan yang ditunjuk Vatikan dan kemudian dilaporkan kepada Paus untuk dinyatakan menjadi “beato/beata” atau “santo/santa”.

Kalau akan dinyatakan sebagai beato/beata harus mengikuti proses “beatifikasi”, kalau mau jadi santo/santa mesti melewati dulu proses “kanonisasi”.

Almarhum Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II, sudah menjadi beato. Ibu Theresa juga sudah menjadi beata. Sebentar lagi tokoh-tokoh “pahlawan iman gereja” ini, diharapkan segera menjadi Santo dan Santa.

De Causis Sanctorum

Konggregasi Suci “de Causis Sanctorum” yang “mencetak” Orang-Orang Kudus ini, didirikan oleh Paus Sixtus V pada tanggal 22 Januari 1588, dengan bula  Immensa Aeterni Dei. Paus Sixtus menempatkan urusan “bikin Santo” ini di bawah Kongregasi “Sacra Rituum” (Upacara Suci). Urusan liturgi dan upacara Gereja juga ada di bawah Konggregasi ini.

Baru pada tanggal 8 Mei 1969, Paus Paulus VI memisahkannya. Urusan liturgi di bawah Konggregasi Cultus Divinis, sementara urusan ‘mencetak’ Orang Kudus di bawah Konggregasi Causis Sanctorum.

Oleh Paus Paulus VI, urusan bikin Santo ini diberi 3 kantor: Bagian Judisial, Bagian Promosi Iman dan Bagian Sejarah Juridikal.

Paus Yohanes Paulus II, pada tahun 1983 merombak stuktur Konggregasi ini menjadi lebih sederhana. Konggregasi Causis Sanctorum, diurus oleh semacam Kolegio Uskup dan Prelat yang dipimpin seorang Kardinal. Sejak 9 Juli 2008, Konggregasi ini dipimpin oleh Kardinal Angelo Amato, dibantu Mgr. Marcello Bartulocci sebagai Sekjen dan Pastor Bogusław Turek sebagai Wakil Sekjen.

Kardinal Amato menggantikan Kardinal Jose Saraiva Martins, mantan Rektor kami di Universitas Urbaniana. Koordinator Promotor ahlinya (Prelat Teologi-nya) adalah Pastor Luigi Borriello OCD.

Saya tidak tahu, apakah mantan dosen kami Padre Bruno J. Korošak, masih menjadi peritus (konsultan ahli) pada Konggregasi itu. Dugaan saya, beliau sudah pensiun. (Bersambung)

Artikel terkait:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: