Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Kesenjangan Hirarki, Gereja, dan Umat (10B)

GARA-gara obrolan tentang Katekismus yang dinilainya “kereta kencana” itu, Romo Mangun lalu bicara panjang lebar mengenai kesenjangan idealisme Gereja dan hirarkinya dengan kenyataan sehari-hari yang dihadapi umat.

Kata Romo Mangun: “Para Uskup dan para penyusun dokumen-dokumen gereja itu kan orang-orang pinter. Orang-orang hebat. Maka produk dokumennya ya hebat-hebat. Secara biblis, teologis, filosofis, sosiologis, dan is-is yang lain tentunya dokumen-dokumen Gereja itu mesti bisa dipertanggungjawabkan. Namanya dokumen Gereja kan memang harus begitu. Nggak bisa disusun sembarangan. Ini bagian dari servis gereja kita yang dipimpin oleh Paus dan kabinetnya. Ironisnya, yang baik dan hebat itu kan tidak otomatis bisa dicerna apalagi langsung dipraktekkan. Saya yakin 100%, sebagian besar Uskup dan para imam kita, pasti belum membaca semua dokumen Konsili Vatikan II. mBaca saja saya yakin belum. Apalagi mengerti isinya, semangatnya, harapannya! Gimana mau mempraktikkannya?!”

Pembicaraan saya dengan Romo Mangun itu sudah berlangsung 20 tahun yang lalu. Sama dengan usia Katekismus Gereja Katolik itu. Tetapi rasanya baru kemarin, saya mendengar kata-kata kenabian yang begitu tajam dan terus-terang dari almarhum Romo Mangun.

Ketika usia Konsili Vatikan II itu sudah 50 tahun, yang dikatakan Romo Mangun jadi sangat menggugat.

Jujur saja, “tuduhan” Romo Mangun itu pada hemat saya benar!

Sebagian besar dari kita pastilah belum pernah membaca lengkap dokumen-dokumen Konsili Vatikan II yang begitu bagus itu. Jujur saja, sebagus apa pun produk Vatikan, hasil Sinode, hasil Sidang Agung Umat, untuk sebagian besar kita, yah .. tidak penting-penting amat! Bagus sih bagus. Cuma – maaf saja – tidak kami butuhkan karena nggak ada sangkutannya dengan hidup kita.

Kereta kencana

Itu cuma “kereta kencana” yang nggak bisa dipakai membantu cari duit! Dimana iman, dimana Gereja, kalau yang riil kita hadapi adalah hidup yang makin susah, sekolah yang makin mahal, sakit keras yang menghabiskan tabungan, uang buat nyambung hidup yang ngga pernah cukup, pergaulan anak yang bikin pusing, kelakuan saudara yang menyebalkan, cita-cita punya rumah sendiri yang makin nggak terjangkau, gaji yang selalu habis buat mbayar utang dan tagihan.

Di milis SMA kami, hal-hal seperti itu pasti menjadi obrolan seru. Pada Tahun Iman ini, kiranya kita diajak kembali menyadari : apa pun dan bagaimana pun ruwetnya hidup ini, iman pada Tuhan Yesus harusnya tetap menjadi jawaban yang paling meyakinkan.

Semoga pada Tahun Iman ini, kita diberi keseriusan dan rahmat untuk menemukan jawaban-jawaban itu.

Photo credit: Alm. Romo Mangunwijaya Pr (Ist)

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: