Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Katolik Bulgur (5B)

BAGAIMANA peta gereja Katolik Indonesia di zaman Konsili Vatikan II itu? Bagaimana Gereja Katolik mesti hidup dan “beradaptasi” dengan kisruh zaman PKI itu? Salah satu buku yang banyak membantu kita memahami situasi dan posisi gereja kita zaman itu, adalah buku Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia tulisan Romo Huub  JWM Boelaars OFMCap […]

BAGAIMANA peta gereja Katolik Indonesia di zaman Konsili Vatikan II itu? Bagaimana Gereja Katolik mesti hidup dan “beradaptasi” dengan kisruh zaman PKI itu?

Salah satu buku yang banyak membantu kita memahami situasi dan posisi gereja kita zaman itu, adalah buku Dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia tulisan Romo Huub  JWM Boelaars OFMCap dan diterbitkan Penerbit Kanisius tahun 2005.

Buku ini sebenarnya disertasi Romo Boelaars pada tahu 1991 untuk meraih gelar Doktor dari Universitas Katolik Brabant. Judul disertasi Romo dari Ordo Fransiskan Kapusin itu : Indonesianisasi, Het omvormingsproces van de katholieke kerk in Indonesie tot de Indonesische katholieke kerk yang diterbitkan oleh penerbit  JWM, Uitgeversmaaatschappij J.H.Kok, Kampen.

Almarhum Romo R. Hardawiryana SJ menterjemahkan langsung disertasi yang berharga ini untuk kita.

Dari pelbagai data yang dikumpulkan dari seluruh keuskupan di Indonesia, Romo Boelaars mengkonfirmasi bahwa kurun zaman sekitar kisruh PKI itu, pertambahan umat katolik memang  sangat luar biasa. Waktu itu, paroki Muntilan dan Paroki Klaten, tercatat sebagai paroki di Keuskupan Agung Semarang yang “memecahkan” rekor baptisan sepanjang masa.

Romo paroki kami Romo Reijnders SJ, seolah “dikejar tayang”.  Beliau gencar sekali membaptis orang. Teman saya cerita, Romo Belanda yang rajin kunjungan ini, pernah terlihat di pinggir sawah  bertanya kepada seorang ibu yang lagi menanam padi sambil menggendhong anaknya.

Romo bertanya : “Piye mbok, anakmu wis dibaptis durung? nDang dibaptis, nek ora dadi anak setan lho!” (Bagaimana bu, anak kamu sudah dibaptis belum. Segera dibaptis, kalau nggak jadi anak setan lho!).

Rupanya, untuk para romo zaman tahun 1960an itu, banyaknya orang yang dibaptis adalah ukuran sukses pewartaan Kerajaan Allah.

Masuk katolik

Sesudah tragedi G30S itu, memang pemerintah mewajibkan orang punya agama. Orang takut dicap PKI, kalau tidak memilih satu agama. Jadilah, orang berbondong-bondong masuk Katolik.

Di Muntilan, orang-orang Tionghwa yang umumnya tinggal di dekat Klenteng dan sekolah Baperki di Jl. Pemuda, banyak yang masuk Katolik. Tetapi yang sangat menyolok adalah tetangga kami di kampung Balemulyo dan Balerejo. Hampir 100 orang berbondong-bondong masuk katolik.

Saya tidak tahu kapan mereka mengikuti “wulangan” (pelajaran agama). Mungkin mereka mengikuti pelajaran agama massal 3 bulan di pasturan.  Semacam “pesantren kilat” yang dibimbing langsung Romo Paroki.

Sementara kami “anak-anak normal” yang dibaptis bayi, cukup mendapat pelajaran agama dari para Suster Fransiskan atau Bruder FIC.

Untuk kami, para Suster dan Bruder itu adalah para katekis yang hebat sekali. Sampai hari ini “wulangan” mereka masih “nyanthel” dan mengesankan. Tiap Selasa dan Kamis pukul  4 sore, mereka datang ke lingkungan, dengan memakai jubah. Ada tasbih besar di selipan jubah para Bruder FIC itu.

Kami selalu terpesona, kalau diberi cerita dari Babad Sutji dengan peragaan gambar di atas kain flannel.

Tahun 1962-1965, ketika Konsili Vatikan II digelar 50 tahun yang lalu, adalah tahun-tahun penuh penderitaan untuk bangsa kita.  Karena gejolak sosial dan politik waktu itu, tiba-tiba umat katolik “panen raya”. Jumlah pertumbuhan umat Katolik, menurut penelitian Romo Boelaars itu mencapai 800 persen.

Katulik bulgur

Banyak penelitian mengatakan pertumbuhan pesat itu tidak usah terlalu disyukuri. Cuma pertambahan kuantitas bukan kualitas. Cuma tambah jumlah, bukan tambah mutu. Sebagian besar dari mereka itu, dalam istilah bapak saya, adalah Katulik Bulgur!

Mereka jadi Katolik karena suka pada Gereja kita yang memberi makan bulgur (semacam jelai impor warna merah kecoklatan, yang di negeri asalnya untuk makanan ternak). Kalau bulgurnya habis, katoliknya juga habis. Ada uang adik sayang, nggak ada uang adik menghilang!

Memang banyak di antara tetangga kami yang “Katolik Bulgur” itu, sekarang ini tidak aktif ke gereja lagi.

Tentu saja tidak semua orang yang dibaptis pada zaman Dwikora itu adalah Katulik Bulgur. Banyak juga yang sungguh bermutu. Beberapa hari yang lalu, sambil wedangan di warung lesehan di bilangan Solo Baru, seorang teman saya cerita mengenai bapaknya.

Saya tanya, julukan nama Abu di belakang nama teman saya itu apa  Dia bilang, nama itu nama Bapaknya. Nama itu memang nama Muslim.

Pak Abu menjadi katolik karena suatu hari menemukan sobekan buku doa Katolik Jawa  Padupan Kentjono. Iseng dibaca, kok bagus isi buku doa itu. Dia tanya di mana bisa mendapatkan buku itu. Jadilah akhirnya Pak Abu mendapatkan buku Padupan Kentjono itu, mempelajari, ikut mendaraskan doa dan akhirnya tertarik menjadi katolik.

Setelah dibaptis, teman saya itu cerita kalau bapaknya sangat menghayati ajaran Sang Guru kita Kanjeng Gusti Sri Yesus Kristus. Kalau ada sembahyangan lingkungan, meski tempatnya jauh dan gelap, Pak Abu selalu mengajak anak-anaknya untuk ikut sembahyangan. Meski mungkin di tempat sembahyangan anaknya ngantuk-ngantuk atau bahkan tertidur, Pak Abu senang bisa membiasakan anak-anaknya mengikuti tradisi Gereja Katolik yang baik.

Pada 50 tahun Konsili Vatikan II di Tahun Iman ini, barangkali kita mesti menyadari kembali, bahwa dari dulu sampai sekarang, pasti ada umat kita yang masuk kategori “katolik bulgur”. Jumlahnya mungkin lebih banyak dari mereka yang bisa kita golongkan berkualitas seperti “katolik Pak Abu”.

Bisa jadi, mayoritas umat kita adalah campuran dari dua kategori itu ‘bulgur abu-abu!

Marilah pada Tahun Iman ini, kita bertanya apakah kualitas “kesaksian” hidup kita sudah mencerminkan kualitas pewartaan gereja kita? Apakah kita sungguh telah mengantar orang bertemu dengan Kristus atau baru sampai tahap mengantar orang senang tinggal bersama gereja.

Pengalaman Katolik Bulgur di Muntilan atau Klaten, pada hemat saya menggugat kita untuk merevisi kembali cara “recruitment” kita. Pada 50 tahun Konsili Vatikan II ini, kita perlu menggali lagi semangat “aggiornamento” (pembaharuan) yang dicanangkan Konsili, sekaligus bertanya dengan jujur: Apakah kita sudah menjadi Gereja yang mandiri, berdaya pikat dan berdaya guna, hingga mampu mengajak orang bertemu dengan Kristus, bukan cuma menikmati enaknya hidup dengan fasilitas gereja dan kenyamanan dilayani gereja.

Viva il Concilio!

Photo credit: Baptis (Hidup Katolik)

Artikel terkait:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply