Pijar Vatikan II di Tahun Iman: Kardinal Turkson Bikin Heboh (11A)

SAYA tidak tahu, apa yang ada di pikiran Anda, kalau membaca info sebagai berikut:

“Pada tahun 2050 nanti, Perancis dan Jerman akan menjadi Republik Islam. Berdasar data sekarang dan kecenderungannya, 15 tahun lagi separuh penduduk Belanda dan seperlima penduduk Rusia adalah penduduk beragama Islam. 30 tahun lalu, penduduk Muslim di Inggris cuma 82 ribu. Sekarang jumlahnya sudah mencapai 2.5 juta. Di seluruh Inggris, ada  lebih dari 1.000 gereja yang kini sudah beralih fungsi menjadi mesjid, mushola atau Islamic Center.

Di Amerika dan Kanada, pertambahan penduduk muslim juga sangat mencengangkan. Pada tahun 1970, orang Islam di Amerika jumlahnya “hanya” sekitar 100 ribu. Tahun 2008, jumlah pemeluk Islam di Amerika tercatat lebih dari 9 juta orang. Tahun 2012 ini bisa dipastikan jumlah penduduk Muslim di Amerika meningkat 100 kali lipat dibanding angka tahun 1970 itu. Di Kanada, pertambahan penduduk dari tahun 2001 sampai 2006 adalah 1.6 juta jiwa. Dari jumlah pertambahan penduduk di Kanada itu, 1.2 juta jiwa sendiri adalah pertambahan penduduk dari imigran Muslim”.

Bagi kita, angka-angka semacam itu mungkin sudah tidak menimbulkan kejutan apa-apa. Maklum kita tinggal di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Kita tahu, Indonesia memiliki penduduk muslim paling banyak di seluruh dunia. Kita lahir, hidup dan dibesarkan di lingkungan muslim.

Sebagian besar teman, tetangga dan saudara kita adalah orang Islam. Banyak dari kita yang lahir dari ayah-ibu atau kakek-nenek yang beragama Islam. Kita sudah terbiasa mendengarkan adzan masjid. Kita cukup fasih melafalkan salam saudara-saudara kita Muslim: assalam-u alaikum! Salam ini di banyak kesempatan lebih spontan diucapkan daripada sapaan biasa: apa kabar.

Bikin heboh

Nah, kalau data-data semacam itu tersaji begitu saja di depan para Uskup – yang mayoritas masih “asing” dalam pengetahuan dan pergaulan dengan orang Islam – bisa kita bayangkan bagaimana “heboh” dan “galau”nya para Uskup kita itu!

Itulah yang terjadi di Aula Sinode Agung beberapa waktu yang lalu, ketika para Uskup sedang berkumpul merefleksi 50 tahun perjalanan Konsili Vatikan II. Yang bikin “gara-gara” pada Sidang Sinode di Vatikan itu adalah Kardinal Peter Turkson, Presiden Komisi Kepausan Justice and Peace.

Kardinal Turkson dari Ghana ini mendapatkan kesempatan presentasi pada sidang hari Senin, 15 Oktober 2012. Tema diskusi masih sekitar Evangelisasi Baru. Beberapa peserta Sinode sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebosanan. Maklum sudah seminggu lebih mereka diskusi mengenai tema-tema yang  berat. Sebagian besar mulai “memainkan” iPhone, BB, smartphone atau gadget mereka.

Pada umumnya, para Uskup tidak “berharap banyak” akan disuguhi diskusi yang hidup dan menarik pada sesi sesudah makan siang begitu. Biasanya sih, habis makan siang “bawaan”-nya mengantuk! Begitu pengamatan koran-koran dan kantor berita Italia yang rajin meliput Sinode Agung itu.

Ternyata siang itu, semua di luar perkiraan. Kardinal Turkson tidak menyuguhkan teks presentasi biasa seperti yang diduga semua peserta Sinode. Sebagai ganti pidato, Kardinal Turkson menayangkan video Muslim Demographics yang diunduh dari Youtube (http://www.youtube.com/watch?v=6-3X5hIFXYU). Video yang diupload di Youtube 3 tahun yang lalu itu, langsung meledak dan menjadi sangat populer.

Beberapa versi “cloning”annya juga bermunculan. Sebelum saya menulis hari ini, saya sempat membuka Youtube. Saya cek, sampai hari ini sudah ada 13 juta orang lebih (tepatnya 13.613.982) yang melihat video Muslim Demographics ini.

Dengan gayanya yang tenang, Kardinal Turkson mengawali presentasi dari Youtube ini demikian : “Some of you may have already seen this video, others may not”!

Begitulah, ketika data-data dari video Muslim Demographics itu terpampang di layar aula Sinode, semua peserta sidang langsung berkonsentrasi. Tidak jadi mengantuk. Beberapa uskup nampak bersemangat ngobrol dengan rekan-rekan di sebelahnya. Sementara video itu ditayangkan, satu dua uskup ada yang nyelethuk menanyakan akurasi data-data dari Youtube itu.

Singkatnya, video yang ditayangkan Kardinal Turkson itu telah membuat kehebohan besar di Aula Sinode!

Koran La Stampa  pada keesokan harinya melaporkan kehebohan itu dengan mengutip kata-kata wartawan senior Radio Vatikan Phillippa Hitchen:

Reporting from inside the synod, Vatican Radio’s Philippa Hitchen said this “fear-mongering presentation of statistics” attempted to show “how Islam is conquering Europe and the rest of the world.” She said its “scary music, stark white words on a black background and the warning that dropping fertility rates in Europe, plus high birth rates among immigrant Muslim families” sought to convey that “our children face a threatening world of Islamic domination in the very near future.

Memang, video Muslim Demographics itu anonim. Pada video itu tidak dicantumkan penulis atau rumah produksinya. Angka-angka yang diberikan juga tidak dijelaskan sumbernya. Ada yang bilang, video itu bikinan kelompok Persaudaraan Muslim di Chicago. Ada yang bilang, itu bikinan kelompok Muslim New Jersey. Pada umumnya diyakini, video itu dibuat di Amerika.

Bisa dimengerti kalau video semacam itu dituduh oleh banyak orang sebagai video provokasi. Jutaan komentar dari video di Youtube ini lebih banyak berisi “kegusaran” mereka yang merasa benar atau merasa salah dengan angka-angka yang terpampang pada video itu. Walau mungkin datanya tidak akurat-akurat amat, namun sebagian besar orang setuju (termasuk para Uskup) bahwa angka kelahiran di Negara-negara Eropa dan Amerika memang sangat rendah. Kalau angka kelahiran negara-negara yang selama ini menjadi “basis Katolik-Kristen” itu rendah, dan dilampaui dengan angka kelahiran imigran Islam yang sangat tinggi, orang tentu mulai percaya dengan angka-angka yang ditayangkan Muslim Demographics ini. (Bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: