Pijar Vatikan II: BJ Habibie tak Kesampaian, Presiden Abdurrahman Wahid Menemui Paus Yohannes Paulus II di Vatikan (25D)

SETELAH Pak Harto  lengser pada bulan Mei 1998, BJ Habibie menggantikannya. Presiden Habibie langsung berhadapan dengan warisan beban berat pendahulunya, yaitu krisis moneter, krisis ekonomi, tuntutan reformasi serta referendum Timor Timur. Selain hanya menghadiri KTT ASEAN, praktis Habibie tidak bisa banyak mengadakan kunjungan ke luar negeri, termasuk mengunjungi Paus. Masa pemerintahan Habibie juga tidak berlangsung […]

SETELAH Pak Harto  lengser pada bulan Mei 1998, BJ Habibie menggantikannya. Presiden Habibie langsung berhadapan dengan warisan beban berat pendahulunya, yaitu krisis moneter, krisis ekonomi, tuntutan reformasi serta referendum Timor Timur. Selain hanya menghadiri KTT ASEAN, praktis Habibie tidak bisa banyak mengadakan kunjungan ke luar negeri, termasuk mengunjungi Paus.

Masa pemerintahan Habibie juga tidak berlangsung lama. Cuma 17 bulan. Pada masa Habibie menjadi presiden, kita kehilangan tokoh besar: Romo YBMangunwijaya. Hari Rabu, tanggal 10 Februari 1999, Romo Mangun wafat kena serangan jantung di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat.

Romo Mangun meninggal saat menjadi salah satu pembicara pada seminar dan peluncuran buku “Membangun Indonesia Baru” yang diselenggarakan oleh Yayasan Obor Indonesia. Romo Mangun jatuh dan meninggal di pelukan salah seorang sahabatnya : budayawan dan tokoh NU Mohammad Sobari. Semua orang meratapi kepergian Romo Mangun yang begitu mendadak.

Presiden BJ Habibie dan Ibu Negara Ainun Habibie, malamnya datang melayat Romo Mangun di Gereja Katedral Jakarta. Romo Mangun adalah sahabat Pak Habibie,  ketika mereka berdua sama-sama belajar di Aachen,  Jerman. Mereka sama-sama bergelar Dipl.Ing dan sesama alumni Universitas Teknik Jerman yang bergengsi itu.

“Selamat jalan, Romo,” kata Presiden Habibie di depan peti jenazah Romo Mangun  yang dibaringkan di depan altar gereja Katedral hingga menjelang tengah hari Kamis 11 Februari 1999. “Beliau adalah kawan sejati. Saya tahu beliau adalah orang yang baik dan selalu mempunyai itikad yang dalam keadaan apa pun membantu orang. Oleh karena itu, saya atas nama keluarga mengucapkan belasungkawa dan duka cita, khususnya kepada keluarga yang ditinggalkannya agar diberi kekuatan. Kita akan melanjutkan perjuangannya,” kata Habibie dalam pidato singkatnya didampingi Julius Kardinal Darmaatmadja SJ dan Romo Wisnumurti SJ, Pastor Kepala Paroki Katedral.

Selama BJ Habibie menjadi Presiden RI, memang ia tidak sempat datang ke Vatikan dan bertemu Paus. Namun, beliau punya hati dan perhatian begitu besar kepada sahabatnya Romo Mangun, yang dikenal sebagai “Paus”-nya Umat Kali Code dan Kedung Ombo. Bahkan keesokan harinya, Habibie mengirimkan pesawat Hercules untuk menerbangkan jenazah sahabatnya Romo Mangun ke Yogyakarta, sebelum dimakamkan di pemakaman imam-imam Projo Seminari Tinggi Kentungan.

Presiden Abdurrahman Wahid  ke Vatikan

Tentang presiden yang satu ini, kita tidak kekurangan cerita. Gus Dur adalah Presiden RI ke-4 yang unik. Romo Tom Michel SJ, ahli Islam yang lama bekerja di Komisi Kepausan untuk Dialog Antar Agama di Vatikan pernah mengatakan : “Gus Dur adalah Presiden dan pemimpin yang besar. Bagi saya ia lebih pandai dan lebih hebat dari Tony Blair!”

Romo Tom mengatakan ini kepada saya, dalam obrolan di ruang tamu Generalat Jesuit di Roma, beberapa hari setelah Gus Dur terpilih menjadi Presiden.

Seperti kita tahu, pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie dan ia mundur dari pemilihan presiden. Beberapa saat kemudian, Akbar Tanjung, Ketua Golkar dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyatakan Golkar akan mendukung Gus Dur. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul dan mulai memilih presiden baru.

Abdurrahman Wahid kemudian terpilih sebagai Presiden Indonesia ke-4.

Dalam voting, Gus Dur memperoleh 373 suara, sedangkan Megawati meraih  313 suara. Kekalahan Capres PDIP Megawati karena manuver politik Kelompok Poros Tengah yang diprakarsai Amien Rais dan kemudian mengusung Gus Dur ini  akan dicatat sebagai lembaran paling menyakitkan dalam sejarah perjalanan PDIP. Ini kekalahan yang sulit diterima, karena pada Pemilu Legislatif yang digelar para bulan Juni 1999 itu, PDIP memenangkan 33% suara, sementara PKB yang mengusung Gus Dur hanya meraih 12% suara. PDIP kalah oleh “pokal” dan akal Poros Tengah.

Gus Dur menjadi presiden tidak sampai 2 tahun. Ia resmi dilantik di gedung DPR-MPR pada 20 Oktober 1999. Setelah “Dekrit Presiden” yang dikeluarkannya tidak digubris oleh DPR-MPR, pada 23 Juli 2001 ia “dilengserkan”. Gus Dur meninggalkan Istana Presiden pada 25 Juli 2001.

Adegan “dadadadaah” dengan memakai celana pendek di depan Istana, sambil dituntun Yenny Wahid puterinya, menjadi “foto abadi” kenangan pahit Gus Dur meninggalkan Istana dan jabatan kepresidenannya. Dua hari sesudah meninggalkan istana, Gus Dur berobat ke Amerika, memeriksakan matanya di  Baltimore.

Oleh media, Gus Dur dijuluki sebagai presiden RI yang paling hobi jalan-jalan ke luar negeri. Memang sampai sekarang, tidak ada Presiden Indonesia yang bisa mengalahkan Gus Dur dalam urusan kunjungan ke luar negeri.

Dalam waktu kurang 6 bulan presiden “nyentrik” ini praktis sudah keliling dunia. Belum sebulan menjabat presiden, pada November 1999,  Gus Dur mengunjungi negara-negara anggota ASEAN, Jepang, Amerika Serikat, Qatar, Kuwait, dan Yordania. Setelah itu, pada bulan Desember, ia mengunjungi Republik Rakyat Tiongkok. Pada Januari 2000, Gus Dur melakukan perjalanan ke Swiss untuk menghadiri Forum Ekonomi Dunia dan mengunjungi Arab Saudi dalam perjalanan pulang menuju Indonesia.

Pada bulan Februari 2000, ia melakukan perjalanan luar negeri ke Eropa lainnya dengan mengunjungi Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, Italia (termasuk Vatikan) dan Belgia. Dalam perjalanan pulang dari Eropa, Gus Dur juga mengunjungi India, Korea Selatan, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Pada bulan Maret, Gus Dur mengunjungi Timor Leste. Di bulan April, Gus Dur mengunjungi Afrika Selatan dalam perjalanan menuju Kuba untuk menghadiri pertemuan G-77, sebelum kembali melewati Kota Meksiko dan Hong Kong. Pada bulan Juni, Gus Dur sekali lagi mengunjungi Amerika, Jepang, dan Perancis dengan Iran, Pakistan, dan Mesir sebagai tambahan kunjungannya. Memang luar biasa!

Setelah 28 tahun

Kunjungan Gus Dur ke Vatikan juga sangat istimewa. Presiden Gus Dur mengakhiri “kebekuan” tradisi kunjungan Presiden Indonesia ke Vatikan setelah 28 tahun kosong. Presiden Indonesia terakhir yang datang ke Vatikan adalah Pak Harto. Ia datang ke Vatikan pada tahun 1972.

Gus Dur datang ke Vatikan,  ketika Indonesia lagi dikecam dunia gara-gara “bumi hangus Dili” paska referendum. Gus Dur datang ketemu Paus ketika Gereja Katolik merayakan Tahun Suci, Tahun 2000, Millenium ke-2 kelahiran Yesus. Seorang teman imam di Roma bergurau  “Wah, Gus Dur dapat indulgensi penuh dari Paus dong!”

Paus Yohannes Paulus II dan Gus Dur dan Bu Shinta

Paus Yohannes Paulus II yang sebentar lagi resmi dinobatkan menjadi Santo usai Paska 2014 terlihat menyambut hangat kedatangan Presiden RI Abdurrahman “Gus Dur” Wahid beserta Ibu Negara Ny. Shinta Nuriyah Wahid di Vatikan. (Ist)

Presiden Abdurrahman Wahid datang ke Vatikan dengan seluruh rombongan Menteri Kabinetnya. Ia datang ketemu Paus Yohanes Paulus II yang kondisinya sudah sangat menurun.

Berbeda dengan Presiden RI lainnya, Gus Dur mengutamakan menghadap Paus terlebih dahulu daripada ketemu PM Italia Massimo D’Alema dan petinggi negara Italia lainnya. Rombongan Gus Dur sampai di Vatikan pada hari Sabtu, 5 April 2000 jam 9 pagi. Gus Dur datang dituntun puterinya Yenny Wahid.

Ia didampingi Ibu Negara Shinta Nuriyah yang duduk di atas kursi roda dan memakai kebaya putih. Ini pilihan warna busana yang berbeda, karena hampir semua Ibu Negara kalau menghadap Paus selalu memakai gaun atau pakaian berwarna gelap. Mereka yang hadir pada pertemuan Gus Dur dan Paus Yohanes Paulus II di Vatikan itu, tidak bisa menyembunyikan rasa haru yang dalam.

Semua tersentuh menyaksikan:  “Presiden setengah buta, didampingi Ibu Negara di atas kursi roda, bertemu Paus yang setengah invalid, tremor karena penyakit Parkinson”.

Di ruang kerjanya, Paus Yohanes Paulus II menyambut Gus Dur dengan hangat. “Selamat Datang, Selamat Datang”, kata Paus dalam bahasa Indonesia sembari mengingat kunjungannya ke Indonesia pada tahun 1989 yang mengesankan itu. Karena kondisi kesehatannya, Paus Yohanes Paulus II hanya sempat berbicara 15 menit secara pribadi dengan Gus Dur. Kemudian bersama Gus Dur, Paus ke luar dari ruang kerjanya menuju Sala Clementina, menyalami semua Menteri Kabinet dan beberapa pejabat Katolik yang ikut dalam kunjungan Gus Dur.

Paus Yohannes Paulus II dan Gus Dur dan Yenny Wahid

Ditemani putrinya Yenny Wahid, Presiden RI Abdurrahman Wahid beserta Ibu Negara Ny.Shinta Nuriyah Wahid (tak tampak dalam foto ini) bertemu dan bicara pribadi dengan Paus Yohannes Paulus II di Vatikan (Ist)

Dalam wawancara dengan Kantor Berita Katolik Fides, Monsignor Renzo Fratini, Dubes Vatikan untuk Indonesia di masa Gus Dur, mengatakan bahwa Paus sangat menghargai Gus Dur dan kunjungannya ke Vatikan. “President Wahid is a blessing to his country” begitu kata Mgr.Fratini mengutip kata-kata Paus Yohanes Paulus II ketika menyambut Gus Dur.

Menurut Mgr.Fratini, Paus tahu Gus Dur bukan hanya seorang presiden pilihan rakyat, tetapi juga seorang pemimpin organisasi Islam dengan pengikut yang sangat besar, seorang rohaniwan terkemuka dan aktivis pluralisme agama tingkat dunia yang sangat dihormati.

Sesudah bertemu Paus Yohanes Paulus II, Presiden Gus Dur lalu bertemu dengan Kardinal Angelo Sodano,  Sekretaris Negara Vatikan. Selain dialog antar agama yang memang sudah menjadi “santapan harian” Gus Dur, Kardinal Sodano juga berdiskusi dengan Gus Dur tentang perkembangan Timtim paska referendum.

Kita semua tahu, begitu lepas dari Indonesia, Ibukota Dili “dibumi hanguskan”. Begitu banyak korban berjatuhan, termasuk beberapa imam, suster dan awam yang menjadi ‘martir’ Gereja Katolik Timtim” seperti Romo Albrecht Karim Arbi SJ dan Romo Tarcisius  Dewanto SJ.

Di sebagian besar Dunia Barat dan negara-negara katolik, tragedi Timtim yang sangat mengenaskan itu dinilai sebagai ulah militer Indonesia. Sebagai presiden baru, Gus Dur diharapkan bisa mengendalikan militernya. Sepertinya, pada rangkaian kunjungan ke Eropa itu, Gus Dur terpaksa harus meredam dan menjelaskan masalah Timtim ini.  Gus Dur tahu betapa pentingnya peran Paus dan Vatikan dalam menangani kasus Timtim yang lepas dari Indonesia tersebut.

Sesudah bertemu Paus pagi hari, siang harinya Gus Dur menghadiri undangan Komunitas San Egidio. Komunitas ini adalah komunitas awam katolik di Roma yang  kegiatan awal dan “markas”-nya ada di Gereja Santo Egidius, sebuah gereja tua yang letaknya di tepi Sungai Tiber.

Komunitas San Egidio ini terkenal di Italia dan negara-negara dunia ketiga khususnya Afrika, karena aneka inisiatifnya dalam bidang sosial kemasyarakatan, solidaritas bagi yang miskin dan tertindas, serta aneka kegiatan dialog antar agama. Pada tahun 1996, Gus Dur pernah datang ke San Egidio dalam pertemuan internasional bertema : “La pace è il nome di Dio” (Perdamaian adalah hakekat (nama) Allah).

Waktu itu, Gus Dur diundang sebagai pembicara, dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin NU, organisasi Islam terbesar di dunia dan sebagai tokoh dialog antar agama di Indonesia.

Komunitas San Egidio menyambut hangat kehadiran Gus Dur. Dulu ia datang sebagai tamu undangan, kini ia datang sebagai presiden.

Aula kecil gereja itu itu tidak bisa menampung begitu banyak orang yang ingin mendengarkan Gus Dur. Puluhan wartawan cetak dan TV merangsek masuk menggeser anggota komunitas  San Egidio sendiri. Gus Dur memuji Komunitas San Egidio sebagai komunitas orang-orang yang memiliki hati dan kepedulian kepada sesama tanpa pandang bulu, dan bahkan dibiayai oleh kantong anggotanya sendiri.

Sesudah berbicara secara pribadi dengan Andrea Riccardi, pendiri Komunitas San Egidio, Gus Dur langsung bercerita tentang beberapa konflik di Maluku, Aceh, Kalimantan Barat dan tentu saja Timtim. Seperti sudah diduga, pada sessi tanya jawab Gus Dur dicecar pertanyaan oleh para wartawan seputar konflik berbau SARA di Indonesia.

Seorang wartawan dari kantor berita Italia ANSA dan Koran “Il Tempo” saya lihat bertanya apakah militer “ikut main” dalam pelbagai konflik di Indonesia. Gus Dur menjawab semua itu dengan bahasa Inggris yang lancar dan sangat meyakinkan.  Benar kata Romo Tom, Presiden yang satu ini memang hebat dan cerdas.

Sore hingga malam hari, Gus Dur bertatap muka dengan masyarakat Indonesia di Italia. Pertemuan diadakan di Wisma Dubes Indonesia untuk Tahta Suci di bilangan Eur, kawasan Roma baru yang dibangun di jaman Mussolini. Hampir semua imam, bruder, suster yang tergabung dalam Irrika (Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma) antusias datang bertemu Presiden Gus Dur.

Pak Irawan Abidin, Dubes Indonesia untuk Tahta Suci, menjadi tuan rumah yang baik dengan menyiapkan makanan yang berlimpah. Sebelum makan malam, Gus Dur dengan gayanya yang kocak bercerita macam-macam tentang Indonesia.

Kejutan Gus Dur

Pada pertemuan itu, Gus Dur membuat pernyataan yang sangat mengejutkan. Romo Ismartono SJ yang juga datang di Wisma Dubes Vatikan sore itu, berbisik kepada saya : “Wah ini bakal ramai di Indonesia”. Romo Is kebetulan datang ke Roma bersamaan dengan lawatan Gus Dur. Bersama Mbak Amanda Suharnoko  dari Madia (Masyarakat Dialog Antar Agama), Romo Is mewakili KWI sedang menghadiri undangan dialog antar agama di Roma.

Sore itu Gus Dur cerita, pernah ditelpon Jenderal Wiranto. Ketika itu Wiranto masih menjabat sebagai Pangkostrad. Wiranto bilang ke Gus Dur, diperintah mantan Pangab Jenderal (Purn) Faisal Tanjung untuk melenyapkan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputeri. Waktu itu Gus Dur adalah Ketua Umum Nahdatul Ulama dan Megawati adalah Ketua Umum PDI (belum menjadi PDI-P).

Menurut Faisal Tanjung, ini “perintah dari atas”. Gus Dur bilang: “Wah terimakasih sudah memberitahu soal ini. mBok coba tanya ke Pak Harto, benar nggak beliau meminta Pangab melenyapkan kami,” kata Gus Dur.

Dijawab Wiranto: “Saya sudah tanya ke Pak Harto. Beliau bilang: saya merasa tidak pernah mengeluarkan perintah semacam itu”.

Kemudian Gus Dur minta Wiranto untuk memilih: kalau begitu, yang benar itu Soeharto atau Faisal Tanjung!”

Gus Dur bercerita tentang Wiranto karena banyak fihak mendesak agar Gus Dur mencopot Wiranto. Ia dituduh bertanggungjawab atas kerusuhan Timtim paska referendum. Pada Kabinet Gus Dur, Wiranto memang diangkat sebagai Menko Polkam. Gus Dur menceritakan kisah tadi, rupanya untuk mengatakan: sementara ini ia masih percaya kepada Wiranto.

Sore itu, di sela-sela makan malam saya beruntung sempat ketemu Gus Dur. Di meja makan Gus Dur langsung meminta saya duduk dan mengajak ngobrol. Bersama Gus Dur, di meja makan itu saya lihat ada Ibu Nuriyah, Jusuf Kalla (Menko Kesra) dan Kwik Kian Gie (Menko Ekuin).

Lagi-lagi saat mengakhiri obrolan singkat kami, Gus Dur berpesan : “Salam kagem Romo Kardinal nggih!”.

Kardinal Julius Darmaatmadja SJ bersama Uskup Agung Jakarta

Almarhum Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur selalu titip salam hangat untuk sahabat karibnya yakni Kardinal Julius Darmaatmadja SJ . Mantan Uskup Agung Jakarta dan Uskup Agung Semarang– terlihat ditemani Uskup KAJ Mgr. Ignatius Suharyo dalam sebuah acara usai Misa Penutupan Sidang Tahunan KWI 2014. (Mathias Hariyadi)

Minggu petang, kunjungan Gus Dur ke Vatikan dan Italia berakhir. Beliau dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Belgia. Lawatan ke Republik Ceko yang sudah direncanakan terpaksa batal.  Presiden Ceko, Vaclav Havel sedang sakit. Gus Dur sebenarnya ingin sekali bertemu Presiden Havel. Seperti Gus Dur, Havel bukan presiden biasa. Ia adalah cendekiawan, budayawan, penulis, sastrawan dan filsuf. Sosok presiden langka yang sangat ideal dan disukai Gus Dur.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply