Pijar Vatikan II: Alm. Romo Hari Kustono, Pencinta Seni dan Keindahan (28C)

hari kustono by hidupKEPADA saya, Kustono pernah cerita selama di Italia ia sudah melukis lebih dari 400 lukisan. Saya tanya nglukis apa saja tuh? Dia bilang sebagian besar nglukis wajah orang dan keluarga selama liburan musim panas atau libur Natal. Kalau libur Paskah praktis nggak sempat, katanya. Hebat juga teman saya ini. Belakangan saya dengar dari Kustanto kakaknya, […]

hari kustono by hidup

KEPADA saya, Kustono pernah cerita selama di Italia ia sudah melukis lebih dari 400 lukisan. Saya tanya nglukis apa saja tuh? Dia bilang sebagian besar nglukis wajah orang dan keluarga selama liburan musim panas atau libur Natal. Kalau libur Paskah praktis nggak sempat, katanya. Hebat juga teman saya ini.

Belakangan saya dengar dari Kustanto kakaknya, bahwa adiknya sekarang malah punya sanggar lukis di Kentungan. Ada lukisan yang sudah ditawar 100 juta lebih belum dilepas oleh Kustono. Mengapa Kustono suka melukis? Saya rasa jawabannya jelas: dalam keluarganya mengalir darah seni yang sangat kuat. Selain Kustono, kakak dan adiknya yang perempuan juga jago melukis. Ada adiknya yang menjadi guru lukis di SMA Gonzaga Jakarta.

Dengan lukisan-lukisannya, Kustono berkreasi dan berekspresi. Lewat lukisan-lukisan dan jiwa seninya, Kustono juga berterimakasih dan mengucap syukur. Ketika Romo Mangunwijaya wafat kena serangan jantung di Hotel Le Meridien Jakarta, 10 Februari 1999, kami bersedih dan ikut kehilangan. Kami berdoa pada 40 hari meninggalnya dan mengadakan seminar pada 100 hari wafat Romo Mangun, tokoh besar ini.

Tetapi Kustono tidak hanya berdoa dan ikut merasa kehilangan. Ia melukis wajah Romo Mangun. Lukisan itu diselesaikan cuma dalam waktu sepekan. Padahal hasilnya luar biasa bagus. “Melukis Romo Mangun itu gampang. Wajah dan jenggotnya yang khas itu, enak untuk dilukis!,” kata Kustono.

Beberapa pekan kemudian, lukisan itu diberikan begitu saja oleh Kustono kepada Pak Yusma yang lagi berkunjung ke Roma. Oleh alm. Pak Yusma, lukisan itu dilelang dan disumbangkan ke KWI. Kustono berterimakasih kepada Romo Mangun dengan caranya sendiri. (Baca juga:  Pijar Vatikan II: Alm Romo Hari Kustono, Orang yang Punya Hati (28B)

Pada tahun 2000, sehari sebelum Presiden Gus Dur datang ke Roma, Kustono ke kamar saya membawa 1 set CD Beethoven. Dia bilang: “Kula mireng, Gus Dur remen musiké Beethoven. Niki dicaoské Gus Dur mawon nèk mbénjang sorten kepanggih wonten KBRI” (Saya dengar Gus Dur suka musik Beethoven. Ini diberikan saja kalau besok sore ketemu di KBRI).

Saya bilang, mengapa tidak Kustono saja yang memberikan langsung ke Presiden Gus Dur. Kustono menolak halus permintaan saya ini. Dia bilang: “Wah lingsem kula. nJenengan mawon sing nyaoské. Rak njenengan sing tepang saé kalih Gus Dur!” (Wah saya malu. Anda saja yang memberikan. ‘Kan Anda yang lebih kenal baik Gus Dur!”).

Itulah Romo Hari Kustono! Pemurah dan suka memberi, namun tidak ingin dikenal sebagai pemberi. CD itu akhirnya memang tidak kami berikan ke Gus Dur pada pertemuan di KBRI itu, tetapi saya titipkan mbak Amanda Suharnoko dari Madia (Masyarakat Dialog Antar Agama) yang sering ketemu Gus Dur di Ciganjur.

Ketika di Roma, Kustono malu-malu ketemu Gus Dur, ternyata suatu hari nanti ia akan pernah diundang ke Pondok Pesantren Tebu Ireng dan memberikan lukisan Gus Dur di sana.

Selain lukisan dan musik, Kustono juga senang melihat keindahan bangunan tua dan gereja-gereja Itali. Kalau tidak ada Kustono dan Sudiarjo, mungkin saya tidak akan pernah masuk museum-museum di Vatican, Roma dan Firenze yang luar biasa itu. Kalau di jalan ketemu anak-anak ABG dan wanita-wanita Itali yang memang mempesona itu, Kustono juga tidak segan-segan berkomentar. Celetukan dan guyonannya sangat khas Kustono.

Kalau melihat cewek Italia yang keren dengan payudara yang kadang ukurannya terlihat besar itu, ada celethukan Kustono yang selalu saya ingat: “Paring nDalem punika kok mila mranani sanget nggih!” (Anugerah Tuhan itu kok mempesona sekali ya)”.

Sebaliknya, kalau di kapel asrama apalagi pada musim panas, bau keringat beberapa teman imam yang berasal dari negara-negara tertentu, sangat luar biasa busuknya, Kustono sering bisik-bisik ke saya: “Paring nDalem gereh punika kok kados sampun kekathahen nggih?” (Pemberian Tuhan yang namanya bau ikan asin, kali ini kok sudah kelewatan ya ?).

Sebagai pecinta musik, koleksi CD musik Kustono sangat banyak. Ada beberapa yang masih dititipkan di lemari saya. Koleksi CD musiknya sudah tak terhitung lagi. Perkiraan saya nggak hanya ratusan, tetapi ribuan. Kadang kalau sudah kebablasen membeli CD-CD itu, dia bilang ke saya: “pun kekathahen niki !” (sudah kebanyakan ini!). Di Roma, ia juga membeli sebuah biola yang bagus. Dari kamar, saya masih sering mendengar ia memainkan biola itu dengan baik.

Kalau di kios majalah dekat kampus atau dekat asrama, ada cover cewek cantik yang kami sukai, cepat-cepat Kustono membeli majalah itu. Buru-buru dibawanya majalah itu ke kamar saya dan kami diskusikan. Kecantikan Italia yang kami sukai memang kebetulan sama, yaitu kecantikan model-model Mediterania dengan rambut hitam tergerai dan mata indah, seperti: Monica Bellucci, Anna Valle, Edwige Fenech dan Maria Grazia Cucinotta. Kalau mendengarkan uraian Kustono tentang para bintang cantik itu, saya suka tertawa sendiri. Maklum uraiannya bisa sangat detail, unik, khas seniman dan khas Kustono.

Di komputernya, ada program tua PaintShop Pro yang sering dipakai Kustono untuk “mendandani” foto-foto relasinya. Kadang ada beberapa foto model-model Asia yang ia unduh entah dari mana dan kemudian diutak-atik Kustono di Paintshop itu.

Setelah jadi, lalu buru-buru dicopy ke saya. Katanya: “Niki onten salam saking mbak Daryatun!”.

Daryatun itu nama mahasiswi kateketik saya di Atma Jaya dulu. Dan foto yang sudah didandani itu tentu foto anonim orang Thailand atau Jepang, yang namanya pasti bukan Daryatun. Kata Kustono, foto yang dia permak itu mengingatkan pada salah satu mudikanya di Boro. Memang lengkap sekali alat ekspresi Kustono itu: ya pergaulan, ya keunikan, ya hati, ya kata-kata, ya tulisan, ya musik, ya lukisan, ya foto, ya majalah, ya apa-apa saja yang membuat ia ingat pada umat yang dilayaninya.

Kustono yang unik dan khas
Sebagai sahabat yang berjiwa seni tinggi, terus terang Kustono menjadi satu dari sedikit orang yang pernah bisa saya jadikan sahabat sejati saya. Karena pemikiran, cara pendekatan dan feeling-feeling kami banyak yang cocok, maka kami ini sering dianggap satu komplotan.

Saya ingat, penghormatan pada Romo Mangun di Roma tahun 1999 itu meninggalkan peristiwa yang tidak mengenakkan. Gara-gara seminar yang kami adakan untuk mengenang Romo Mangun itu, pengurus IRRIKA (Ikatan Rohaniwan Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi Roma) rame-rame mengundurkan diri.

Alasannya: dalam jiwa reformasi, pengurus IRRIKA tidak bisa menerima kehadiran dan partisipasi Dubes dan KBRI Vatikan dalam peringatan itu. Menurut mereka, sudah terbukti pemerintah itu korup. Maka peringatan suci Romo Mangun sebagai pejuang reformasi, tidak mungkin dinodai partisipasi, sumbangan konsumsi, sumbangan dana dan kehadiran tangan-tangan korup orang pemerintah.

Secara terang-terangan, beberapa pengurus mengatakan mereka juga tidak senang kalau saya, Kustono dan Romo Budi Subanar SJ sering-sering diantar dengan mobil KBRI kesana-kemari ngurus peringatan Romo Mangun ini.

Menanggapi mundurnya pengurus IRRIKA ini, dengan tenangnya Kustono mengatakan pada saya: “Kita ini siapa, kok dengan sombongnya bisa mengatasnamakan reformasi dan menghakimi orang sebaik Pak Sumartono (orang kedua KBRI Vatikan waktu itu) sebagai tangan koruptor!”

Kata-kata Kustono ini mengingatkan saya pada kata-kata Paus Fransiskus di pesawat sehabis kunjungannya ke Brasil tahun lalu sesudah merayakan Hari Orang Muda se-dunia; “Saya ini siapa, kok harus menilai dan menghakimi mereka (para gay) itu!”

Kalau masih hidup, pasti Kustono akan merasa berlebihan, sangat tidak pantas dan memprotes kalau dalam hal ini ia saya samakan dengan Paus Fransiskus. Tetapi justru kata-kata Paus Fransiskus yang terucap 14 tahun sesudah Kustono mengucapkannya, menyadarkan saya bahwa ciri orang yang rendah hati itu memang diawali dengan kesadaran : “siapakah saya ini”.

Meskipun Kustono itu seniman, tidak berarti ia tidak memperhatikan kehidupan berpolitik di tanah-air. Kustono masih di Roma ketika Pak Harto lengser pada tahun 1998. Kustono hanya menyaksikan dari jauh gejolak pemerintahan paska Pak Harto. Ia nampak sangat jengkel dan tidak mengerti manuver-manuver yang dibuat oleh seorang tokoh reformasi. Ketika begitu banyak orang kemudian menuduh orang ini adalah Sengkuni dan pengkhianat reformasi, dengan kalemnya Kustono cuma bilang: “Ayaké mawon cah niku pun perlu diruwat!” (Kayaknya, saudara itu memang sudah saatnya memerlukan upacara pembersihan).

Saya jadi ingat “ramalan” Kustono ini, ketika beberapa waktu yang lalu saya melihat di TV, sekelompok orang datang ingin “meruwat” tokoh itu di depan rumahnya. Kelompok warga Yogya yang menamakan dirinya Paguyuban Masyarakat Tradisi (Pametri) Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober yang lalu mendatangi rumah tokoh ini di rumahnya di Sawit Sari Condongcatur.

Hari Kustono memang unik dan khas. Celetukan, pandangan dan pendapat-pendapatnya sering tak terduga. Apapun itu, namun tetap nampak, celetukan atau komentar-komentar khas itu muncul dari pribadi yang bijak dan cerdas.

Masih tentang jiwa seni Kustono! Terus terang saja, semangat saya untuk sering menulis tema-tema iman dan Konsili Vatikan II akhir-akhir ini, juga dikobarkan oleh Kustono. Almarhum Kustono membaca di milis SMA kami, tulisan saya seri Pijar Vatikan II, tanggal 15 Oktober 2012 tentang “Injil menurut Beatles”.

Sesudah membaca, ia lalu menelpon saya dan menyatakan kegembiraannya ada inspirasi seperti itu. Kustono meminta saya sering-sering menulis, biar “bara-bara api iman” yang ada dalam diri kita tak tertutup pijarnya oleh debu-debu kesibukan dunia kita. Tentu saja tentang hal ini, ia mengutip pandangan almarhum Kardinal Martini pada pengantar Pijar Vatikan di tahun iman 2012-2013 itu. Karena Kustono seniman dan musikus, tentu saja yang ia komentari ya tulisan mengenai Beatles itu saja. Itulah Kustono!

How great is a good priest!

Saya beruntung, dalam perjalanan hidup saya ini, saya bisa mengenal begitu banyak imam, Uskup, Kardinal bahkan beberapa Paus secara cukup dalam. Banyak di antara imam yang saya kenal, adalah orang-orang yang hebat. Banyak di antara mereka yang sungguh bermutu hidup rohani dan kepribadiannya. Beberapa di antara mereka, secara diam-diam atau terang-terangan saya jadikan idola rohani saya.

Namun terus terang saja, hanya sedikit di antara para imam itu yang bisa tetap saya hargai dan saya kagumi. Mengapa?

Ada imam yang oleh serikatnya sendiri dianggap jenius. Menjadi professor universitas bergengsi. Menguasai banyak bahasa. Tetapi saya melihat, cara bicara, cara gaul, dan caranya sikap imam ini untuk saya aneh. Ada beberapa imam yang sungguh baik. Baik pribadinya, baik kelakuannya, tidak aneh-aneh, tetapi dalam hal tertentu saya merasa tidak pas. Entah caranya menggembalakan, entah caranya mendekati persoalan umat dsb. Kalau imam-imam yang konyol dan tidak bermutu karena macam-macam alasan, tentu juga banyak sekali saya ketahui. Yang pasti, saya sangat kehilangan Kustono karena bagi saya Kustono adalah satu dari sedikit imam yang saya hargai dan saya kagumi itu.

Bagi saya, Kustono adalah orang yang sungguh baik dan imam yang sungguh baik. Saya malah bisa mengatakan Kustono adalah orang yang besar. Kebesaran Kustono, bagi saya bukan pada kesalehannya. Dia tidak menutup mata dan jijik pada keindahan wanita. Dia tidak naif dan memelas dalam menghayati hidup imamatnya, khususnya panggilan selibatnya.

Kustono adalah pribadi yang besar dan imam yang bermutu karena ia seimbang. Ia menjadi imam yang baik, karena ia orang yang baik. Ia gembala yang baik karena punya hati dan kepribadian yang baik. Ia pandai dan bergelar doktor, bukan hanya karena baik kepala dan otaknya saja, tetapi juga baik keseluruhan hidupnya: luar dan dalamnya. Dalam bahasa bisnis, ia memiliki integritas yang terpuji.

Seperti kita tahu, integritas berasal dari kata Latin “integer” yang artinya utuh, bulat. Kustono orang besar karena ia utuh dan bulat. Antara dalam dan luar nyambung serasi.

Pada 6 Maret 2014, Paus Fransiskus bertemu dengan semua imam di Keuskupan Roma. Bertempat di Aula Paulu VI, pada masa Pra Paska itu, Paus mengingatkan kembali para imamnya pada panggilannya yang paling mendasar yaitu: memiliki hati untuk melayani. Itu pula seluruh semangat Gereja dan semua imam dalam Gereja yang dicanangkan kembali oleh Konsili Vatikan II.

Dengan tegas, pada pertemuan dari hari ke hati dengan para imamnya itu, Paus Fransiskus mengatakan:

Così a immagine del Buon Pastore, il prete è uomo di misericordia e di compassione, vicino alla sua gente e servitore di tutti. Questo è un criterio pastorale che vorrei sottolineare tanto: la vicinanza, la prossimità. Il servizio nella prossimità. Chiunque si trovi ferito nella propria vita, in qualsiasi modo, può trovare in lui attenzione e ascolto…… Il prete è chiamato a imparare questo, ad avere un cuore che si commuove. I preti, mi permetto la parola “asettici”, quelli da laboratorio, tutto pulito, tutto bello, non aiutano la Chiesa. La Chiesa oggi possiamo pensarla come un “ospedale da campo”, scusatemi se lo ripeto ma lo vedo così, lo sento, c’è bisogno di curare le ferite, tante ferite. C’è tanta gente ferita, dai problemi materiali, dagli scandali, anche nella Chiesa. Gente ferita dalle illusioni del mondo. Noi preti dobbiamo essere lì, vicino a questa gente. Misericordia significa prima di tutto curare le ferite.

Menurut Paus Fransiskus, imam yang baik adalah imam yang memiliki “compassion”, memiliki hati, dekat, hatinya mudah tergerak oleh belas kasih. Gereja itu seperti rumah sakit di medan tempur. Menjadi tempat orang yang terluka bisa cepat ditolong. Dan sekarang ini begitu banyak orang yang luka parah karena penyakit materi, duniawi, skandal dsb. Kalau gereja dan imam hanya duduk manis seperti di laboratorium, gereja dan imam semacam itu, kata Paus, tidak dibutuhkan dunia.

Sementara itu, Santo Fransiskus de Sales, Uskup Katolik Geneva yang hidup di zaman reformasi Protestan yang tidak mudah, mengingatkan bahwa imam yang sungguh baik, akan mengubah paroki, mengubah komunitas, mengubah Keuskupan bahkan mengubah dunia.

Secara sederhana, Santo Fransiskus de Sales mengatakan: “How great is a good priest.” Betapa hebatnya dan betapa berharganya seorang imam yang baik itu! Bagi saya, Kustono di dunia ini telah menjadi imam yang baik.

Maka seperti kata-kata Fransiskus de Sales, senyatanya ia sudah menjadi orang yang besar!

Sugeng tindak Romo Hari Kustono!
Matur nuwun sampun kersa dados kanca lan tuladha jati kanggé kawula!

Doa kami selalu

A.Kunarwoko – 14 November 2014

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply