Pijar Vatikan II: Alm Romo Hari Kustono, Orang yang Punya Hati (28B)

Romo Kustono 2 - 2008PADA  tanggal 16 Agustus 1986, Hari Kustono ditahbiskan menjadi imam dari tangan Mgr.Julius Darmaatmadja SJ (waktu itu belum belum menjadi Kardinal). Paroki Boro adalah tempat penugasan pertama Romo Kustono. Penugasan pertama di paroki Boro ternyata akan menjadi tugas paroki satu-satunya bagi Kustono. Tiga tahun lamanya bertugas di paroki sederhana itu menjadi kenangan yang tidak akan […]

Romo Kustono 2 - 2008

PADA  tanggal 16 Agustus 1986, Hari Kustono ditahbiskan menjadi imam dari tangan Mgr.Julius Darmaatmadja SJ (waktu itu belum belum menjadi Kardinal). Paroki Boro adalah tempat penugasan pertama Romo Kustono. Penugasan pertama di paroki Boro ternyata akan menjadi tugas paroki satu-satunya bagi Kustono. Tiga tahun lamanya bertugas di paroki sederhana itu menjadi kenangan yang tidak akan dilupakan Kustono. Selama lima bulan ia bertugas sendirian, sebelum akhirnya ditemani Romo M.Supriyanto “Midhul”.

Umat Boro dan Romo Pri “Midhul” sering diceritakan Kustono kepada saya, sebagai umat dan rekan imam yang sangat memperkaya pelayanan imamatnya. Kustono kadang sedih, bertemu dengan umat yang dirundung begitu banyak masalah berat, dan sebagai gembala ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia merasa, berbelarasa dan mendoakan, rasanya sangat tidak cukup.

Kustono pernah cerita dengan berlinang air mata, melihat seorang ibu di Paroki Boro itu kena penyakit berat. Sekujur tubuhnya membengkak dan menjadi hitam seperti arang. Suaminya tidak punya uang untuk membawa ibu itu berobat ke RS. Seorang anaknya yang masih kecil, perutnya buncit, tidak pakai celana dan alas kaki, menangis terus memeluk ibunya. Wanita itu sudah seperti mayat, tidak bisa bergerak dan tatapan matanya kosong. Akhirnya ibu itu meninggal setelah diberi sakramen perminyaan. Kustono sedih dan kecewa mengapa ia tidak bisa berbuat apa-apa dan juga tidak punya uang untuk mengobati ibu itu. Adegan itu, kata Kustono sering datang membayang-bayanginya.

Kepada Romo Midhul, Kustono juga bisa belajar banyak. Hidup Romo Pri yang sederhana dan akrab dengan umat, sangat menginspirasi Kustono. Cara Romo Midhul bergaul dan mengadakan pendekatan dengan umat, sangat mengesankan. Kustono adalah pribadi yang mudah belajar berbelarasa. Kustono mudah prihatin dengan saudara-saudarinya yang menderita. (Baca juga: Pijar Vatikan II: How Great is a Good Priest, Mengenang Alm. Romo Hari Kustono Pr (28A)

Ketika dalam Bahasa Injil, sering diceritakan bahwa Yesus dalam “blusukan”-Nya mudah “tergerak hatiNya oleh belas kasihan”, Romo Hari Kustono juga mudah tergerak dan mudah tersentuh oleh penderitaan sesamanya. Dengan sangat baik, pada hemat saya ia sudah menghayati teladan kasih Yesus Sang Gembala yang baik itu. Kustono adalah pribadi yang seperti Yesus: “mudah tergerak oleh belas kasihan”.

Ada contoh lain, bagaimana Kustono adalah pribadi yang punya hati. Di Roma, ada seorang TKI yang bekerja pada sebuah keluarga staff KBRI Vatikan kemudian bekerja pada keluarga Italia. Sebut saja namanya W.

Kustono kenal sekali dengan W dan latar belakang keluarganya. W adalah tetangga keluarga Kustono di bilangan Bugisan Yogya yang hidupnya pas-pasan. Ketika W hamil di usia remaja dan ditinggal begitu saja oleh laki-laki yang menghamilinya, ibunya Kustono yang menjadi bidan, menolong kelahirannya.

Oleh ibunya Kustono, anak W malah kemudian dijadikan anak asuh. Bu Harsono, ibunya Kustono memang mewariskan hati yang mulia kepada para putera dan puterinya. Tak terhitung tetangga maupun orang-orang yang ditolong persalinannya. Begitu banyak yang tidak dimintai bayaran dan malah diberi bantuan oleh Bu Harsono dalam membesarkan bayinya, karena orang-orang itu memang tidak punya uang.

Setelah menjadi pembantu pada keluarga Italia, W mendapat gaji yang tinggi. Caranya berpakaian dan berdandan lalu berubah drastis. Kalau hari Minggu sore, ia sering datang ke asrama kami atau asrama lain yang banyak imam Indonesianya. Kami ditraktir makan enak. Kalau tidak membawa makan, W belanja dan masak. Terkadang sangat berlebihan.

Di asrama yang banyak rekan-rekan dari Indonesia Timur misalnya, W kadang memesankan babi panggang seekor. W lalu dipanggil Kustono dan ditegur agar tidak memanjakan para Romo seperti itu. W diberi nasehat agar rutin menabung dan menyisihkan uangnya untuk anaknya yang masih diasuh keluarga Kustono. Walau butuh waktu, nasehat Kustono akhirnya dituruti juga. Dari tabungannya itu, sekarang W bisa beli tanah di Bugisan, bisa bikin rumah bagus dan menyekolahkan anaknya sampai Perguruan Tinggi.

Kapan itu, Kustono cerita baru saja memberkati perkawinan anak W.

Kustono, orang yang rendah hati

Berita meninggalnya Kustono 40 hari yang lalu, saya khabarkan ke beberapa rekan imam yang sedang bertugas di luar Indonesia. Romo Agustinus Purnomo MSF yang sekarang ditugaskan menjadi Asisten Jendral MSF di Roma, menerima pesan WhatsApp saya ketika ia lagi berkunjung ke sebuah negara di Amerika Latin.

Purnomo menjawab berita itu di WA saya: “Wah, mèlu kelangan. Kustono kuwi kanca sing lembah manah”

Istilah Jawa “lembah manah” yang disebut Romo Purnomo, lebih dari sekedar rendah hati. Selain rendah hati, ada nuansa kebesaran jiwa yang mau dikatakan dalam sebutan “lembah manah” itu. Saya sangat sependapat dengan pandangan Romo Purnomo itu tentang Kustono.

Ketika Romo Hari Kustono merayakan ulang tahun imamatnya yang ke-25, ia sempat mengungkapkan renungan perjalanan imamatnya, yang kemudian dimuat oleh majalah imam-imam Projo KAS “Bernio” (Berita Unio).

Pada salah satu bagian renungan itu, Romo Hari Kustono mengatakan: “Periode studi di Roma adalah periode yang cukup berat bagi saya. Terus terang, saya tidak cukup briliant untuk studi Kitab Suci yang menuntut pengetahuan berbagai bahasa. Karena berbagai alasan, pada tahun ketiga saya pindah sekolah dari Biblicum ke Universitas Gregoriana. Karena pindah sekolah, waktu studi saya jadi lebih lama. Seharusnya 4 tahun selesai, tetapi ternyata baru 5 tahun saya selesaikan studi lisensiat”

Di bagian lain kesaksian 25 tahun imamatnya, Kustono mengatakan: “Rasanya saya begitu dimanja dengan diberi kesempatan studi yang begitu lama. Karena faktor kelambanan otak, sayalah satu-satunya imam diosesan KAS yang studinya paling lama. Malu juga rasanya, tetapi apa boleh buat karena saya telah berupaya sebisa mungkin menjalankan tugas. Layaklah jika pada saat ini, saya merasa berhutang budi pada berbagai pihak. Saya berhutang budi kepada Uskup, Keuskupan, para donatur, para romo dan seluruh umat. Sisa hidup saya akan saya isi untuk membayar hutang budi, meskipun jelas tidak akan pernah lunas!”

Apakah memang Kustono otaknya lamban seperti yang dikatakannya?

Saya tidak yakin. Mungkin saja secara akademis ia dinilai kurang oleh para professor hebat di Biblicum, sehingga disarankan untuk pindah ke jurusan Theologi Biblis di Gregoriana. Tetapi bagi saya, dalam kecerdasan emosional, personal dan intra-personalnya, Kustono sangat brilian.

Saya mengikuti dari dekat perjuangannya menyelesaikan disertasi doktoratnya tentang: “Abimelech and the tragic end of his kingship: a narrative-theological study of judges 8,33-9,57”.

Menurut saya, mutu disertasi Kustono ini sangat baik. Kustono tidak cuma menulis dengan tekun. Ia juga membeli dan mengusahakan software Bahasa Hibrani dalam mendukung disertasinya. Kalau libur musim panas, kami “mencari makan dan tumpangan” di paroki-paroki Italia atau Amerika, karena bea siswa kami tidak mengcover uang saku liburan.

Kustono selalu menabung uang pemberian umat untuk membeli buku dan sarana kuliah seperti komputer yang mendukung program grafis berat disertasinya. Saya sering membantu menginstallkan program-program komputer itu untuk disertasinya.

Kustono memang “lembah manah”. Ia rendah hati, sehingga proses perjuangan menyeselaikan studi tidak ia anggap sebagai pencapaian. Bagi saya yang pernah sangat dekat mengikuti perjuangannya menyelesaikan studi doktoratnya, Kustono adalah orang yang cerdas. Ketika begitu banyak orang sangat bangga mencantumkan dan memamerkan gelar, Kustono hampir tidak pernah mencantumkan gelar Doktornya.

Kustono dan juga Kustanta kakaknya tidak pernah menceritakan kehebatan keluarganya. Padahal kami tahu, dari 7 bersaudara yang semua Pascasarjana, ada 4 orang dalam keluarga Kustono yang bergelar Doktor dan kakak tertuanya bergelar Professor. Sesungguhnyalah, seperti kata Romo Purnomo, Kustono adalah pribadi yang “lembah manah”.

Kustono, yang ramah dan “nyumedulur”

Beberapa waktu sebelum sakit dan meninggal, Kustono kirim SMA ke saya, bilang kalau baru saja ketemu bapak-ibu saya di acara tahbisan. Memang bapak-ibu saya, terutama ibu, sangat rajin mendatangi acara tahbisan imam dan layat orang meninggal. Cukup banyak murid bapak saya di SMP Negeri 1 Muntilan atau murid ibu saya di SMP Kanisius Muntilan yang menjadi imam.

Beberapa di antaranya bahkan ada yang menjadi Uskup. Jadi kalau ada tahbisan imam di Kapel Kentungan, Gereja Kotabaru, dsb biasanya bapak-ibu diundang. Kustono selalu kirim sms atau menelpon kalau pada tahbisan atau pelayatan, ketemu bapak-ibu saya.

Kustono memang “nyumedulur”, punya semangat bersaudara dan semangat persaudaraan yang tinggi. Meskipun ia adik kelas saya, dan Kustanta kakaknya adalah teman seangkatan saya di Mertoyudan, namun yang sering ke rumah saya malah Kustono.

Kalau ada acara “aksi panggilan” di Muntilan, dari Mertoyudan atau dari Kentungan, Kustono sering menginap di rumah saya. Romo Hardiyanto teman tahbisannya, waktu masih frater bersama Kustono menjadi dirigen koor sementara Kustono main biola.

Saya dan Romo Subagyo mantan Vikjen KAJ menjadi penggembira genjrang-genjreng gitar. Kustono juga punya sahabat dekat di Mertoyudan yaitu tetangga kami Eddie Sutrisno. Kustono pernah mengaku ia sangat dekat dengan tetangga saya itu dan sangat kehilangan ketika Eddie Sutrisno tidak meneruskan lagi di Seminari.

Karena Kustono sudah “kulina” ketemu dan menginap di rumah kami, maka oleh bapak-ibu saya, Kustono sudah dianggap sebagai keluarga. Kebetulan, adik-adik saya juga sepantaran dengan adik-adik Kustono. Kami juga sama-sama dibesarkan dari 7 bersaudara. Sama-sama dididik oleh ayah-ibu yang sangat Katolik. Adik saya berteman dengan adik Kustono di SMA Stella Duce Yogyakarta dan ada yang sama-sama kuliah di Farmasi UGM. Ketika di Roma, Om-Tante dan beberapa saudara dekat saya, sempat datang dan menengok saya. Kustono selalu menemani saya mengantar mereka ke mana-mana. Oleh Kustono, sepertinya saudara saya ia perlakukan seperti saudaranya juga.

Di Paroki Forte dei Marmi, Keuskupan Pisa, Kustono punya banyak keluarga yang sangat dekat dan mencintai Kustono. Forte dei Marmi adalah kota di tepi pantai yang menjadi tempat liburan favorit orang-orang kaya dan selebriti Itali.

Pelatih sepakbola nasional Italia, ketika juara dunia tahun 2006: Marcello Lippi, punya rumah di sini. Lippi dan keluarganya rajin ikut misa di musim panas yang dipersembahkan Kustono. Kalau saya lagi nengok Kustono di Paroki Forte dei Marmi itu, saya selalu mendengar pelbagai pujian umat tentang Kustono.

Valentina, pengurus rumah tangga pastoran Forte dei Marmi, selalu bilang: “Tuo amico Ari veramente un buon prete!” (Teman kamu Hari itu benar-benar pastor yang baik). Valentina, seperti orang Itali pada umumnya tidak bisa menyebut Hari sebagai Hari, karena huruf H memang tidak ada dalam abjad Italia. Jadilah Hari selalu dipanggil Ari!

Kalau mendengar cerita Valentina atau keluarga Fontana, yang anaknya menjadi Uskup di Arezzo dan pernah bekerja di Nunziatura Vatikan di Jakarta, Kustono dikenal suka berkunjung. Kustono juga dinilai pendengar yang sangat baik dan teman bicara yang sangat menyenangkan. Tua-muda sangat dekat dengan Kustono. Saya ingat, waktu main ke Forte dei Marmi mengunjungi Kustono, ada anak kecil yang tiba-tiba menggaet tangan saya dan menunjukkan topi yang ada kipasnya. Topi “Toppolino” (Mickey Mouse) yang lucu. Sara, nama anak kecil cantik itu bilang: topi ini pemberian Don Antonio Hari!

Ketika pada bulan Maret 2008, pertama kali saya mengajak anak pertama saya pulang ke rumah eyangnya di Muntilan, saya sempat main ke Kentungan mengunjungi teman-teman termasuk Kustono. Begitu melihat Marvel, anak saya yang sangat lucu itu, Kustono langsung mengajak main. Ada kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan, mengenang sorot mata dan semangat Kustono mengajak main anak saya yang waktu itu baru mau jalan. Sementara saya ngobrol dengan Romo Purwatma dan Gita Wiratmo di pendopo makam Kentungan, Kustono asyik main penarik kain pel dengan Marvel. Kebahagiaan kami memiliki anak yang luar biasa, juga seolah menjadi kebahagiaan Kustono.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply