PHK

Ayat bacaan: Lukas 13:7
===================
“Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!”

phk

Sakit rasanya menjadi karyawan yang di PHK. Ada seorang teman bercerita tentang temannya yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), padahal sudah bekerja cukup lama di perusahaannya. Sehari setelah ia diberhentikan, tanpa sadar ia masih melakukan rutinitasnya sehari-hari. Bersiap-siap dan pergi berangkat ke kantor. Sesampainya di sana barulah ia sadar bahwa ia tidak punya tempat lagi disana, dan ia pun menangis di mobilnya. PHK seringkali dipandang sebagai sesuatu yang sangat tidak adil dari sisi karyawan. Karyawan berada di pihak yang lemah, rapuh dan tidak berdaya, tidak punya hak apa-apa untuk mempertahankan status mereka. Tapi di sisi perusahaan, apabila perusahaan itu kolaps atau ambruk, untuk menyelamatkan “kapal” agar tidak tenggelam mau tidak mau pil pahit harus diambil. Kapal harus diringankan dan selalu ada korban yang jatuh sebagai konsekuensinya. Seorang pengusaha pernah bercerita kepada saya bahwa mem-PHK itu sungguh tidak enak. “Saya mengerti bahwa itu menyakitkan, tapi tidak ada pilihan lain..” katanya getir. Ada banyak faktor yang bisa mendatangkan keputusan PHK. Salah satu yang saya anggap terdepan adalah dari sisi kinerja atau performance sang karyawan itu sendiri.

Pada suatu ketika Yesus memberikan sebuah perumpamaan menarik. “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.” (Lukas 13:6). Bagus tidaknya sebuah pohon biasanya bisa dinilai dari buah yang dihasilkan. Jika buahnya bagus, maka pohon itu pun akan dengan sendirinya bagus dan sedapat mungkin dipelihara dengan baik. Sebaliknya, jika pohon itu tidak kunjung menghasilkan buah, meski dengan segala cara sudah diusahakan, maka mau tidak mau pohon itu harus ditebang karena jika terus dipelihara, maka pohon itu hanya akan menghabiskan zat makanan dari tanah tanpa memberi hasil apa-apa. Itulah yang terjadi dalam perumpamaan yang diberikan Yesus di Injil Lukas 13:6-9 ini. “Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! (ay 7). 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk menanti buah keluar dari sebuah pohon. Ada kesempatan yang sudah diberikan, dan mungkin segala daya upaya pun sudah dilakukan sang pemilik kebun selama 3 tahun itu. Tapi nyatanya pohon itu tidak juga bisa menghasilkan apa-apa. Tetapi si tukang kebun masih meminta belas kasih dari sang pemilik. “Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!” (ay 8-9). Lewat tukang kebun, pohon itu mendapatkan kesempatan kedua. The second chance. Tapi jika itupun disia-siakan, maka tidak ada jalan lain selain menebang habis pohon itu.

Dari kisah ini kita bisa belajar satu hal untuk terhindar dari PHK. Salah satu cara yang ampuh untuk menghindari jerat ini adalah dengan menempatkan diri kita pada posisi yang terus menghasilkan buah. Dari sudut pandang sang pemilik perusahaan, cobalihat apakah sebagai karyawan anda termasuk salah satu aryawan yang memuaskan dalam kinerja anda? Apakah pimpinan puas dengan hasil kerja anda? Jika ya, tentu tidak ada seorangpun pimpinan yang rela kehilangan karyawan terbaiknya bukan? Tapi sebaliknya, jika anda termasuk “pohon yang tidak berbuah”, maka posisi tawar anda akan sangat lemah untuk menghindar dari masalah PHK. Dengan alasan efisiensi, perusahaan biasanya akan memberhentikan karyawan-karyawan yang tidak produktif, tapi mereka akan dengan segala daya upaya mempertahankan pegawai-pegawai terbaiknya. Dari sudut pandang seperti ini kita bisa melihat apa yang harus kita lakukan agar kita bisa selamat dalam setiap kemungkinan pemutusan hubungan kerja. Berbuah, berbuah dan berbuahlah terus.

Sebagai orang percaya, kita dituntut untuk bisa menjadi teladan dimanapun kita ditempatkan. Dalam pekerjaan pun demikian. Etos kerja seorang Kristen adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, dengan sebaik-baiknya seperti melakukannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Sebagai anak-anak Tuhan kita dituntut untuk memiliki buah yang baik, dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan, sebab dari buahnyalah pohon itu bisa dinilai baik atau tidak. “Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.” (Matius 12:33). Dari manusia lama yang berselubung dosa kita telah ditebus menjadi ciptaan baru. Sebuah pertobatan yang telah dibereskan dengan sungguh-sungguh seharusnya bisa menghasilkan buah-buah yang baik. Firman Tuhan pun berkata: “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Bayangkan apabila kita menjadi orang percaya yang benar, dengan hidup yang benar-benar dipimpin oleh Roh Allah sendiri. Lalu kita berbuah seperti yang dirinci dalam Galatia 5:22 mengenai buah Roh. Bukankah itu luar biasa? Dalam keadaan seperti itu bukan cuma sekedar menghindar dari jerat PHK, namun kita pun bisa menjadi teladan, menjadi terang dan garam. Mari kita lakukan yang terbaik, bukan untuk manusia tetapi sebagai pertanggungjawaban kita terhadap segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan mulai saat ini. Let God be glorified with everything we do!

Pohon yang baik akan terlihat dari buah yang dihasilkan

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. doa agar tidak di phk
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: