Peziarahan Keuskupan Purwokerto 2000-2016: Gereja – Kerajaan Allah

Mgr Julianus Kemo Sunarka SJ Uskup PurwokertoPengatar Redaksi Dalam sebuah surel tahun 2014 lalu, Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Julianus Kema Sunarka SJ menulis artikel panjang bertema “Sejarah Peziarahan Keuskupan Purwokerto 1991-2016″ yang ditujukan untuk Majalah Rohani berkaitan dengan pesta HUT ke-60 tahun majalah ini. Kami ingin membagikannya untuk para pembaca sekalian untuk semakin mengenal misi dan visi Keuskupan Purwokerto yang dipimpin Mgr. Julianus Sunarka SJ. —————- Bulla Gravissimum Quo Fungimur Yoannes Paulus Uskup kepada Julianus Kema Sunarka Imam Serikat Jessus dan Ketua Lembaga “Caritas Indonesia” Uskup Terilih Keuskupan Purwokerto Salam dan Berkat Apostolik Yang teramat berat di antara sekian banyak tugas-tugas yang harus kami emban sebagai Gembala Tertinggi Gereja adalah dengan segala keprihatinan yang mendalam menentukan Uskup-Uskup yang sungguh cakap bagi keuskupan-keuskupan yang sedang lowong tak bergembala. Ketika harus ditetapkan Imam Agung untuk tahta Keuskupan Purwokertoyang telah lowong dengan wafatnya uskup terdahulu Paschalis Soedita Hardjasoemarta Almarhum, Ananda, putera terkasih dengan bakat dan keutamaan Anda yang cemerlang dan terpuji, dipandang layak untuk memegang puvuk pimpinan keuskupan ini. Oleh karena itu untuk memperhatikan saran dari Kongregasi Suci “Untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa” berdasarkan kekuasaan tertinggi Gereja yang ada pada kami, kami menetapkan Anda menjadi Uskup Purwokerto dengan segala hak dan kewajiban yang terkait dengan jabatan ini. Kepada Anda kami anugerahkan perkenanan kami untuk menerima tahbisan dari tangan uskup katolik mana pun di luar kota Roma, tentu saja dengan mematuhi ketentuan-ketentuan liturgi yang berlaku. Namun sebelum itu hendaklah Anda melaksanakan terlebih dahulu baik pengakuan iman katolik yang sejati maupun sumpah setia kepada kami dan para pengganti kami di hadapan seorang uskup katolik yang sah, kemudian mengirimkan kepada kami kedua pernyataan tersebut secara tertulis sebagai kenangan abadi. Selain dari pada itu hendaklah surat keputusan ini disampaikan kepada seluruh umat keuskupan maupun kepada seluruh jajaran imam-imamnya yang kami harapkan akan menerima uskupnya dengan senang hati dan akan senantiasa menjalin persekutuan dengannya. Akhirnya, putera terkasih, usahakanlah agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada Anda teristimewa kaum mudanya dn mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat Anda tunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati. Semoga anugerah Roh Kudus Sang Penghibur dan perlindungan Santa Perawan Maria senantiasa menyertai Anda bersama seluruh umat terkasih Gereja Indonesia di Purwokerto Dikeluarkan di Roma, di Gereja Santo Petrus, 10 Mei Tahun Yubelium Agung 2000 Tahun pontifical kami yang ke-22 Yohanes Paulus II Paus —————– SELAMA sepuluh tahun kurun waktu 1991-2001,  Keuskupan Purwokerto hidup dalam arah pengguliran visi Gereja Misioner. Gereja yang diutus Yesus Kristus untuk melaksanakan kerasulan memberikan kesaksian dan juga mewartakan kabar gembira. Jiwa haluan ini masih relevan untuk dilanjutkan. Penekanan butir baru dari jiwa itu perlu digali. Tahun 2001 lingkungan Keuskupan Purwokerto baik secara nasional maupun lokal berada dalam situasi sosial politik, ekonomi, budaya, religius, yang di samping ada kesamaan namun, juga mengalami perkembangan cukup berarti kalau dibandingkan dengan keadaan tahun 1991. Sehubungan dengan adanya perkembangan ini dengan jiwa dan semangat missioner. Keuskupan Purwokerto terpanggil untuk mawas diri atas keberadaannya sendiri sebagai yang diutus dan mengakui diri yang berada ditengah-tengah berbagai kelompok agama lain yang juga meyakini diri diutus menjadi saksi dan pewarta “pewahyuan Allah”. Gereja mengakui bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama atau keyakinan bukan katolik. Maka dalam semangat misioner ini, Gereja diutus untuk hidup bersama umat lain yang beriman kepada Allah dan mengakui bersama bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Penguasa alam semesta beserta isinya. Gereja bersama kelompok agama lain mengakui Allah yang sama, yang menghendaki manusia hidup dalam persaudaraan sejati untuk menuju kedamaian dan kesejahteraan dengan memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Selaras dengan pengakuan ini Gereja Keuskupan Purwokerto menyadari diri dalam kebersamaannya dengan jemaat lain terpanggil untuk mewujudkan tegaknya Kuasa Allah atau Kerajaan Allah. Visi Keuskupan Purwokerto, dengan kenyataan umatnya dan lingkungannya adalah Gereja menuju Kerajaan Allah. VISI (Identitas “jatidiri” sekarang dan cita-cita): Gereja Kerajaan Allah Keuskupan Purwokerto adalah Persekutuan umat beriman katolik yang demi Tuhan Yesus Kristus dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia khususnya Indonesia dan dalam kerjasama dengan umat berkeyakinan lain setempat terpanggil untuk memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan sambil memelopori berdirinya Kerajaan Allah. A. Rujukan Kitab Suci tentang Kerajaan Allah Juga di kota-kota lain aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus (Lk.4, 43) Yesus memanggil ke-12 muridNya memberikan tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Yesus mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan allah (Luk 9, 2) kepadamu diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah (Lk.8,10) Ketahuilah Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 10,11) Dengan apa aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sampai khamir seluruhnya (Lk 13, 21). Kerajaan Allah seperti orang menabur benih ( 4,26-29) Kerajaan Allah seperti biji sesawi (Mrk.4,30. Mat.13. Lk 13,18) Hukum Taurat dan Kitab para nabi berlaku sampai pada zaman Yohanes, dan sejak itu Kerajaan allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya (Lk 16,16). Atas pertanyaan orang-orang Farisi, kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab kataNya: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah; juga orang tidak dapat mengatakan. lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana; sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu (Lk 17,20-21) Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil ia tidak akan masuk kedalamnya (Lk. 18,17.Mat 19.Mrk.10)) Alangkah sukarnya orang yang ber-uang masuk ke dalam Kerajaan Allah (Lk 18,24. Mat. 19. Mrk 10) Demikian juga jika kamu melihat hal-hal ini terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 21,31) B. Rujukan Naskah Zaman Kita: Kerajaan Allah dalam Kontemplasi Menjadi petanyaan bagi kita Gereja itu sama dengan Kerajaan Allah, ataukah Gereja adalah sakramen Kerajaan Allah, ataukah Gereja hanyalah salah satu bagian dari Kerajaan? Jawab dari pertanyaan ini rasanya dapat kita gapai-gapai melalui dokumen zaman kita berikut: Pada zaman kita, dimana umat manusia makin hari makin erat dipersatukan dan hubungan antara berbagai bangsa ditingkatkan, Gereja meninjau dengan lebih cermat sikapnya terhadap agama-agama bukan Kristen. Dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih antara manusia bahkan antara bangsa-bangsa, Gereja pertama-tama memandang apa yang sama pada manusia dan yang membawa kepada kebersamaan hidup. Karena semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di seuruh muka bumi. Semua mempunyai tujuan akhir yang satu: Allah. PenyelenggaraanNya, bukti kebaikan-Nya dan rencana keselamatan-Nya mencakup semua orang, sampai semua orang pilihan dipersatukan dalam Kota Suci, yang akan diterangi kecemerlangan Allah, dimana bangsa-bangsa akan berada dalam cahaya-Nya. Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan, apa itu dosa, apa asal mula dan tujuan penderitaan, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah kematian; akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju? a. Sejak zaman purba sampai ke zaman ini dalam berbagai bangsa terdapat sejenis tanggapan tentang kekuasaan gaib, yang hadir dalam perjalanan ikhwal dan kejadian hidup manusia. Bahkan kadang-kadang terdapat pengakuan akan Yang Mahatinggi atau juga Bapa. Tanggapan dan pengakuan ini meresapkan ke dalam hidup mereka perasaan keagamaan yang mendalam. Agama-agama yang berhubungan dengan kemajuan kebudayaan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan pengertian yang lebih rumit dan dengan bahasa yang lebih diolah. Begitu dalam Hinduisme , manusia meneliti misteri ilahi lalu mengungkapkan dengan perbendaharaan mitos yang kaya luar biasa dan dengan usaha filsafatnya yang tajam. Mereka mencari bentuk-bentuk hidup matiraga atau meditasi yang mendalam, atau pula dengan berpaling kepada Allah dengan cinta kasih dan pengharapan. b. Berbagai bentuk Buddhisme mengakui bahwa secara mendasar dunia yang fana ini tidak memadai. Maka diajarkan jalan dengannya -dalam semangat pengabdian dan harapan-manusia dapat mencapai tahap pembebasan, sempurna atau dapat menggapai pencerahan tertinggi dengan usaha-usaha sendiri atau dengan bantuan dari atas. Begitu pula agama-agama lain yang terdapat di seluruh dunia, berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia dengan berbagai cara sambil menganjurkan jalan, yakni ajaran dan peratuan hidup serta ibadat suci. Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini. Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup, peraturan dan ajaran itu, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkannya, toh tidak jarang memantulkan cahaya Kebenaran, yang menerangi semua manusia. Oleh sebab itu mereka menghargai kehidupan moral dan menyembah Allah terutama dalam sembahyang, sedekah dan puasa.Mengingat bahwa dalam peredaran jaman telah timbul pertikaian dan permusuhan yang tidak sedikit antara orang Kristen dan Islam, maka Konsili mengajak semua pihak untuk melupakan luka-luka yang sudah, dan mengusahakan dengan jujur saling pengertian dan melindungi lagi memajukan bersama-sama keadilan, sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang. Bapak Paus Johanes Paulus II daalam surat tugas untuk RP Julianus Sunarka SJ menjadi uskup Keuskupan Purwokerto, menekankan kebijaksanaan pastoral yang harus diikuti RP Julianus Sunarka SJ adalah: mengusahakan agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada RP Julianus Sunarka SJ teristimewa kaum mudanya dan mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat ditunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati. Dan gerak kerasulan inilah yang hendaknya secara tebal mewarnai pastoral Keuskupan Purwokerto. Dan menjadi opsi dari siapa saja yang terlibat pada penggembalaan di Keuskupan Purwokerto. C. Kekuatan Inti Keuskupan Purwokerto dalam Visi Penegakan Kerajaan Allah Menurut angka statistik penduduk 2009 yang ada di wilayah Keuskupan Purwokerto terlihat bahwa jumlah umat katolik kurang lebih 73.728 orang adalah 0,45% dari seluruh penduduk 17.309.100 orang. Secara jumlah, apa artinya angka 0,45 %? Begitu riilkah bahwa Keuskupan Purwokerto menggulirkan visi Kerajaan Allah. Kenyataan yang berada diluar jangkaunkah untuk perwujudan visi itu. Tergantung dari kelola penggembalaannya. Dengan menempuh sistem manajemen pastoral mono-energi sudah pasti tidak mungkin. Manajemen pastoral sel tidak mustahil. Maka kinerja untuk pastoral di Keuskupan Purwokerto mencoba menciptakan koinonia yang membentuk warganya untuk bergerak dimana pun untuk mewartakan kabar gembira dengan empan wapan, empan waktu dan empan orang. Pantas diteliti di Keuskupan ini ada tenaga ketatanegaraan atau kemasyarakatan berapa dari tingkat desa sampai tingkat pusat, tenaga pendidik dan tenaga kesehatan dokter serta ahli hukum, pedagang dan petani berapa. Mereka itulah yang mempunyai kemudahan menyusup kemana-mana. Demikian pula tenaga imam, bruder, suster, seminaris. Mereka itulah yang seharusnya kita usahakan untuk menjadi inti-inti sel kinerja tenaga-tenaga kunci dalam penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimanakah seharusnya mereka perlu dikader. Inilah yang menjadi masalah pastoral kita para fungsionaris pastoral? D. Tantangan dan Peluang untuk Mewujudkan Visi menuju ke Misi Umat Katolik Keuskupan Purwokerto bersama dengan saudara-saudara berkeyakinan lain tidak lepas dari tantangan-tangan, namun sekaligus tantangan-tantangan itu menunjuk pada peluang untuk mengambil langkah secara tepat sesuai dengan kekuatan yang dimilki. Tantangan bagi umat Katolik Keuskupan Purwokerto yang mencakup eks Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Kedu sebelah barat antara lain: Tantangan merebaknya kekuatan sekularisasi kehidupan. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa agama, meski tidak anti agama. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa peduli akan Allah, meski tidak anti Allah. Penekanan karier, keluarga inti, profesionalisme, minat dan hobi-hobi serta nasionalisme tertutup akan menjadi pesaing kehidupan beragama. Dengan situasi seperti itu struktur kehidupan jemaat beriman yang kyaisentris, klerusentris apalagi pemerintahsentris dengan gaya yang rituaslistis mempunyai kemungkinan besar menjauhkan umat beriman dari Gereja dan Jemaat Agung yang mempunyai kandungan perutusan mewartakan nilai-nilai luhur universal. Gaya hidup terlalu sekuler akan membawa hidup orang begitu timpang. Ada peluang di situ untuk mewartakan nilai-nilai imani akan Allah yang transenden dan imanen. Tantangan berikut adalah masih adanya kemiskinan. Kita ditantang terus untuk mewujudkan kesetiakawanan dengan kaum miskin. Terwujudnya kesetiakawanan ini adalah menjadi ukuran kita hidup bermasyarakat. Patut diingat bahwa tantangan ini berada dalam arus yang jelas-jelas meningalkan kaum miskin. Globalisasi telah berhasil menawarkan budaya “glamour”, foya-foya, pemborosan, budaya mall supermarket, tv dsb, narkotika yang dapat memukau dan memonopoli fantasi manusia. Peluangnya adalah bagaimana kita dapat mewujudkan kesetiakawanan dalam alam yang anti kemiskinan. Tidak dapat kita sangkal adanya tantangan yang berkaitan dengan konteks sosial perutusan kita. Masyarakat kita berada dalam situasi rentan dengan kekerasan akibat adu domba dan konflik. Bukan rahasia lagi bahwa rekayasa dan adu domba dapat diagendakan oleh kelompok kepentingan dan kekuasaan. Sementara konflik lebih melekat pada masyarakat kita sebagai akibat dari adanya perbedaan agama, ras, suku, daerah, golongan, dan kelas. Di sini kita dituntut tidak terpancing dalam menajamkan konflik tersebut. Kita ditantang untuk menghadapinya sebagai situasi objektif masyarakat masa kini. Kita dituntut untuk menghadapinya sebagai peluang dalam menggalang kerukunan dan dialog. Dalam konteks sosial lebih-lebih dalam konteks pelaksanaan undang-undang otonomi, perutusan kita saat ini dituntut memberi perhatian lebih khusus kepada situasi kehidupan kenegaraan. Kehidupan kenegaraan yang dirasa berkembang semakin kompleks kini sedang dilanda berbagai krisis. Krisis kelola negara, krisis moneter yang langsung dibayangi oleh krisis kepercayaan. Diduga kuat bahwa krisis kepercayaan ini mempunyai sebab yang berkaitan dengan kemerosotan moralitas umum yang tidak terkendali. Ini nampak dalam tumbuh suburnya praktek korupsi, manipulasi dan korupsi, rekayasa terselubung dan berbagai penyelewengan dalam tubuh aparat kepemerintahan. Pembenahan mendasar memerlukan dukungan masyarakat mengingat praktik-praktik kotor tersebut terkait pula dengan sikap kondusif masyarakat akibat melemahnya mekanisme kontrol masyarakat: semangat apatisme, semangat aji mumpung sebagian masyarakat dll. Masalah lingkungan hidup Menurut para ahli, kerusakan hidup alami sudah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan umat manusia. Hampir tidak dapat disangkal lagi oleh para ahli bahwa “suvival” umat manusia sedang dipertaruhkan. Umat manusia dirasa tidak dapat bertahan sampai 200 tahun lagi, kalau pola perekonomian kita tidak memperhatikan kelestarian lingkungan ini terus berkelanjutan. Di Indonesia kita telah berhadapan dengan ancaman serius seperti apa yang dapat kita saksikan dalam pengrusakan dan pembakaran hutan, bencara kekeringan rutin yang tidak ditangani secara serius. Kita ditantang untuk ikut mengusahakan bagaimana orang dapat merubah sikapnya terhadap alam. Kita perlu mengembangkan sikap mencintai pelestarian alam, sikap yang lahir dari spiritualitas penciptaan dan pemeliharannya. Masalah “bias gender”. Dominasi kaum pria atas kaum perempuan nampak dalam setiap segi kehidupan. Berbagi ketidakadilan menimpa kum perempuan dalam masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, agama bahkan berbahasa. Dapat diambil sebagai contoh konkrit antara lain dalam diskriminasi untuk jabatan kepemerintahan, beban pekerjaan, masalah gaji, tindak kekerasan, turisme seks. Terhadap masalah ini Gereja telah menanggapinya secra tegas menentang diskriminasi terhadap perpemuan. Cita-cita kesetaraan antara pria dan perempuan supaya disiarkan menjadi kenyataan. Gereja bersama-sama umat berkeyakinan lain memperjuangkan transformasi sosial dalam masalah “gender”. Inilah peluang bagi kita untuk mewartakan martabat luhur manusia. Umat katolik meski berjumlah sedikit diajak untuk menaruh perhatian terhadap tantangan dan peluang tersebut di atas. Sesuai dengan kekuatan yang ada, umat katolik diajak bekerja sama dengn umat berkeyakinan lain untuk memasuki peluang- peluang yang ada sebagai perwujudan Gereja Kerajaan Allah, selaran dengan perutusan Sang Guru Sejati Tuhan Yesus Kristus. Misi Umum (Kiprah Mewujudkan Visi) Misi adalah gambaran menyeluruh ‘global’ agenda yang harus dirumuskan untuk menjadi proses langkah dalam terwujudnya visi. Ada dua kerangka kerja besar. yaitu bina ke dalam dan bina ke luar. Sebagai langkah kerja bina ke dalam, Keuskupan perlu menanamkan dan mengembangkan iman kristiani. Pembinaan ke dalam berjalan dengan geraknya umat sendiri, yang menyangkut umat non fungsional, kategis, prodiakon, pastor, uskup. Semuanya itu berada dalam dampingan keintian panitia-panitia kerja keuskupan paroki, stasi. Juga badan-badan kerasulan. Dengan demikian panitya dan badan-badan menggulirkan refleksi yang berwawasan lebih luas, sehingga isi iman katolik, yang menyangkut pengetahuan, peresapan kejiwaan dan penataan laku dalam waktu dan ruang dimantapkan. Segi-segi yang dirasa penting dalam kehidupan umat menyangkut kerygma, koinoia, leiturgia dan diakonia. Ini perlu diperhatikan oleh panitia kaderisasi pimpinan umat entah imam entah awam dalam katekese, kitab suci, liturgi. pendalaman spiritualitas, kepemudaan, kelompok-kelompok rohani, panitia keuangan. Dengan mantapnya isian gerakan bina ke dalam diharapkan umat mengalami rahmat Tuhan begitu melimpah. Dan umat dalam koinonianya terdorong mengalirkan luapan itu bagi orang lain di luar jemaatnya sendiri. Dan kelanjutannya dalam bina gerak keluar adalah gerakan yang bersangkutan dengan panitia , pendidikan, sosial ekonomi, kesehatan, komunikasi sosial, kedamaian dan keadilan, hubungan antar kepercayaan dan keyakinan . Gerak keluar umat katolik bersama dengan jemaat lain ialah kinerja menjalin hubungan Gereja dengan jemaat lain. Jemaat lain itu terdiri dari berbagai golongan. Masing masing golongan mempunyai perwujudan pengalaman iman secara tersendiri. Ada kelompok yang mudah untuk hidup bersama dalam pencukupan materi. Ada golongan yang mudah bersama untuk olah kejiwaan. Dan yang lain hanya mudah bersama dalam pendalaman pemikiran filsafat; serta lain lagi mudah bersama dalam masalah rohani, ketuhanan, kesusilaan. Maka butir gagasan operasional sebagai berikut perlu menjadi perhatian untuk mendapatkan waktu dan ruang. Untuk menukik pada kekhususan itu diperlukan keawaspadaan dan kepekaan dari para pelaku penggembalaan. Demikian pula kemampuan untuk menilai sejauh mana kebersamaan itu sudah dapat ditingkatkan ke tataran kebersamaan yang lain. Ulasan selintas ini mempunyai enam kerangka gerak misi dalam usaha mewujudkan visi Gereja Kerajaan Allah. 1. Memperhatikan pendalaman iman umat katolik 2. Mengembangkan Komunitas Basis Gerejani & Kemanusiaan di kota dan desa 3. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani 4. Memberdayakan kelompok miskin,tersingkir 5. Melakukan dialog antar umat beriman 6. Mengembangkan Komunitas Basis Kemanusiaan Strategi (Langkah yang diutamakan dari misi ) untuk Periode 2001-2016 Strategi adalah pengutamaan langkah kinerja. Pengutamaan langkah diambil dengan perhitungan adanya kekuatan pengaruh dan hasil ganda dari langkah tersebut; dalam arti berdaya menelusup ke berbagai segi. Orang menembak, sekali lepas tembakan mengena berbagai sasaran, berbagai hasil tercapai. Sekali mengayuh, dayung dua tiga pulau terlampaui.   Secara singkat dapat dikatakan bahwa strategi Keuskupan untuk lima tahun (2001-2005) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut: Memberikan perhatian pada pendidikan calon imam dan tokoh awam. Mengusahakan bentuk bentuk kerjasama umat katolik dengan umat lain. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani. Mengusahakan bantuan tenaga imam dari Keuskupan Tetangga. Meningkatkan pelayanan Komisi Komisi Pastoral Keuskupan. Mewujudkan berdirinya paroki paroki pedesaan. Mengembangkan komunitas Basis Gerejani yang sudah ada. Mengembangkan komunitas Basis Kemanusiaan yang sudah ada. Meningkatkan mutu dialog antar umat beriman dalam Forum Persaudaraan antar Umat Beriman. Mengusahakan dana untuk pengguliran prioritas karya. Strategi Keuskupan Purwokerto untuk lima tahun (2016 -2011) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut: Mengkader Orang Muda Katolik menjadi garam masyarakat. Mengembangkan pendidikan nilai dalam hidup berkeluarga. Mengentaskan umat dari formalisme agama. Mengentaskan masyrakat akar rumput dari kemiskinan. Mempopulerkan pertanian organik/lestari Strategi Keuskupan Purwokerto lima tahun (2012-1016) bergerak dalam bidang kerasulan berikut: Membina kedalaman iman umat dengan mencermati dokumen Konsili Vatikan II. Menggarap Pemberdayaan Paguyuban Paguyuban territorial, kategorial, profesional. Meningkatkan mutu Lembaga Pendidikan Katolik, menukiknya pada kerasulan persekolahan Dengan semboyan “NON MEA SED TUA VOLUNTAS FIAT”, penulis naskah ini mengimani dengan harapan yang begitu besar bahwa Almarhum Paus Johanes Paulus II, “yang akan diresmikan menjadi orang kudus untuk zaman postmodern ini ”, berdoa kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan mohon restu kepada Bunda Maria gar visi, misi dan strategi Keuskupan Purwokerto sebagai Sakramen Kerajaan Allah menjadi keyataan. Purwokerto, 25 Maret 2014 Hari Raya Kabar Sukacita

Mgr Julianus Kemo Sunarka SJ Uskup Purwokerto

Pengatar Redaksi

Dalam sebuah surel tahun 2014 lalu, Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Julianus Kema Sunarka SJ menulis artikel panjang bertema “Sejarah Peziarahan Keuskupan Purwokerto 1991-2016″ yang ditujukan untuk Majalah Rohani berkaitan dengan pesta HUT ke-60 tahun majalah ini. Kami ingin membagikannya untuk para pembaca sekalian untuk semakin mengenal misi dan visi Keuskupan Purwokerto yang dipimpin Mgr. Julianus Sunarka SJ.

—————-

Bulla
Gravissimum Quo Fungimur
Yoannes Paulus Uskup
kepada
Julianus Kema Sunarka
Imam Serikat Jessus dan Ketua Lembaga “Caritas Indonesia”
Uskup Terilih Keuskupan Purwokerto
Salam dan Berkat Apostolik

Yang teramat berat di antara sekian banyak tugas-tugas yang harus kami emban sebagai Gembala Tertinggi Gereja adalah dengan segala keprihatinan yang mendalam menentukan Uskup-Uskup yang sungguh cakap bagi keuskupan-keuskupan yang sedang lowong tak bergembala. Ketika harus ditetapkan Imam Agung untuk tahta Keuskupan Purwokertoyang telah lowong dengan wafatnya uskup terdahulu Paschalis Soedita Hardjasoemarta Almarhum, Ananda, putera terkasih dengan bakat dan keutamaan Anda yang cemerlang dan terpuji, dipandang layak untuk memegang puvuk pimpinan keuskupan ini.

Oleh karena itu untuk memperhatikan saran dari Kongregasi Suci “Untuk Evangelisasi Bangsa-Bangsa” berdasarkan kekuasaan tertinggi Gereja yang ada pada kami, kami menetapkan Anda menjadi Uskup Purwokerto dengan segala hak dan kewajiban yang terkait dengan jabatan ini.

Kepada Anda kami anugerahkan perkenanan kami untuk menerima tahbisan dari tangan uskup katolik mana pun di luar kota Roma, tentu saja dengan mematuhi ketentuan-ketentuan liturgi yang berlaku. Namun sebelum itu hendaklah Anda melaksanakan terlebih dahulu baik pengakuan iman katolik yang sejati maupun sumpah setia kepada kami dan para pengganti kami di hadapan seorang uskup katolik yang sah, kemudian mengirimkan kepada kami kedua pernyataan tersebut secara tertulis sebagai kenangan abadi.

Mgr Julianus Sunarka SJ edited
Uskup Keuskupan Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net0

Selain dari pada itu hendaklah surat keputusan ini disampaikan kepada seluruh umat keuskupan maupun kepada seluruh jajaran imam-imamnya yang kami harapkan akan menerima uskupnya dengan senang hati dan akan senantiasa menjalin persekutuan dengannya.

Akhirnya, putera terkasih, usahakanlah agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada Anda teristimewa kaum mudanya dn mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat Anda tunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati.

Semoga anugerah Roh Kudus Sang Penghibur dan perlindungan Santa Perawan Maria senantiasa menyertai Anda bersama seluruh umat terkasih Gereja Indonesia di Purwokerto

Dikeluarkan di Roma, di Gereja Santo Petrus, 10 Mei Tahun Yubelium Agung 2000
Tahun pontifical kami yang ke-22
Yohanes Paulus II
Paus
—————–

SELAMA sepuluh tahun kurun waktu 1991-2001,  Keuskupan Purwokerto hidup dalam arah pengguliran visi Gereja Misioner. Gereja yang diutus Yesus Kristus untuk melaksanakan kerasulan memberikan kesaksian dan juga mewartakan kabar gembira. Jiwa haluan ini masih relevan untuk dilanjutkan. Penekanan butir baru dari jiwa itu perlu digali.

Tahun 2001 lingkungan Keuskupan Purwokerto baik secara nasional maupun lokal berada dalam situasi sosial politik, ekonomi, budaya, religius, yang di samping ada kesamaan namun, juga mengalami perkembangan cukup berarti kalau dibandingkan dengan keadaan tahun 1991. Sehubungan dengan adanya perkembangan ini dengan jiwa dan semangat missioner.

Keuskupan Purwokerto terpanggil untuk mawas diri atas keberadaannya sendiri sebagai yang diutus dan mengakui diri yang berada ditengah-tengah berbagai kelompok agama lain yang juga meyakini diri diutus menjadi saksi dan pewarta “pewahyuan Allah”. Gereja mengakui bahwa kebenaran juga terdapat dalam agama atau keyakinan bukan katolik. Maka dalam semangat misioner ini, Gereja diutus untuk hidup bersama umat lain yang beriman kepada Allah dan mengakui bersama bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Penguasa alam semesta beserta isinya.

Gereja bersama kelompok agama lain mengakui Allah yang sama, yang menghendaki manusia hidup dalam persaudaraan sejati untuk menuju kedamaian dan kesejahteraan dengan memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Selaras dengan pengakuan ini Gereja Keuskupan Purwokerto menyadari diri dalam kebersamaannya dengan jemaat lain terpanggil untuk mewujudkan tegaknya Kuasa Allah atau Kerajaan Allah. Visi Keuskupan Purwokerto, dengan kenyataan umatnya dan lingkungannya adalah Gereja menuju Kerajaan Allah.

VISI (Identitas “jatidiri” sekarang dan cita-cita): Gereja Kerajaan Allah

Keuskupan Purwokerto adalah Persekutuan umat beriman katolik yang demi Tuhan Yesus Kristus dalam kesatuannya dengan Gereja Katolik sedunia khususnya Indonesia dan dalam kerjasama dengan umat berkeyakinan lain setempat terpanggil untuk memperjuangkan dan menghayati nilai-nilai luhur kemanusiaan sambil memelopori berdirinya Kerajaan Allah.

A. Rujukan Kitab Suci tentang Kerajaan Allah

Juga di kota-kota lain aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus (Lk.4, 43) Yesus memanggil ke-12 muridNya memberikan tenaga dan kuasa untuk menguasai setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit. Yesus mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan allah (Luk 9, 2) kepadamu diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Allah (Lk.8,10) Ketahuilah Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 10,11) Dengan apa aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sampai khamir seluruhnya (Lk 13, 21).

Kerajaan Allah seperti orang menabur benih ( 4,26-29) Kerajaan Allah seperti biji sesawi (Mrk.4,30. Mat.13. Lk 13,18) Hukum Taurat dan Kitab para nabi berlaku sampai pada zaman Yohanes, dan sejak itu Kerajaan allah diberitakan dan setiap orang menggagahinya berebut memasukinya (Lk 16,16).

Atas pertanyaan orang-orang Farisi, kapan Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab kataNya: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah; juga orang tidak dapat mengatakan. lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana; sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu (Lk 17,20-21) Aku berkata kepadamu: sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil ia tidak akan masuk kedalamnya (Lk. 18,17.Mat 19.Mrk.10)) Alangkah sukarnya orang yang ber-uang masuk ke dalam Kerajaan Allah (Lk 18,24. Mat. 19. Mrk 10) Demikian juga jika kamu melihat hal-hal ini terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat (Lk 21,31)

B. Rujukan Naskah Zaman Kita: Kerajaan Allah dalam Kontemplasi

Menjadi petanyaan bagi kita Gereja itu sama dengan Kerajaan Allah, ataukah Gereja adalah sakramen Kerajaan Allah, ataukah Gereja hanyalah salah satu bagian dari Kerajaan? Jawab dari pertanyaan ini rasanya dapat kita gapai-gapai melalui dokumen zaman kita berikut:

Pada zaman kita, dimana umat manusia makin hari makin erat dipersatukan dan hubungan antara berbagai bangsa ditingkatkan, Gereja meninjau dengan lebih cermat sikapnya terhadap agama-agama bukan Kristen. Dalam tugasnya memupuk kesatuan dan cinta kasih antara manusia bahkan antara bangsa-bangsa, Gereja pertama-tama memandang apa yang sama pada manusia dan yang membawa kepada kebersamaan hidup. Karena semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menempatkan seluruh manusia di seuruh muka bumi. Semua mempunyai tujuan akhir yang satu: Allah.

PenyelenggaraanNya, bukti kebaikan-Nya dan rencana keselamatan-Nya mencakup semua orang, sampai semua orang pilihan dipersatukan dalam Kota Suci, yang akan diterangi kecemerlangan Allah, dimana bangsa-bangsa akan berada dalam cahaya-Nya.

Manusia mengharapkan dari berbagai agama jawaban terhadap rahasia yang tersembunyi sekitar keadaan hidup manusia. Sama seperti dulu, sekarang pun rahasia tersebut menggelisahkan hati manusia secara mendalam: apa makna dan tujuan hidup kita, apa itu kebaikan, apa itu dosa, apa asal mula dan tujuan penderitaan, mana kiranya jalan untuk mencapai kebahagiaan sejati, apa itu kematian, apa pengadilan dan ganjaran sesudah kematian; akhirnya apa itu misteri terakhir dan tak terungkapkan, yang menyelimuti keberadaan kita, darinya kita berasal dan kepadanya kita menuju?

a. Sejak zaman purba sampai ke zaman ini dalam berbagai bangsa terdapat sejenis tanggapan tentang kekuasaan gaib, yang hadir dalam perjalanan ikhwal dan kejadian hidup manusia. Bahkan kadang-kadang terdapat pengakuan akan Yang Mahatinggi atau juga Bapa. Tanggapan dan pengakuan ini meresapkan ke dalam hidup mereka perasaan keagamaan yang mendalam. Agama-agama yang berhubungan dengan kemajuan kebudayaan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan pengertian yang lebih rumit dan dengan bahasa yang lebih diolah. Begitu dalam Hinduisme , manusia meneliti misteri ilahi lalu mengungkapkan dengan perbendaharaan mitos yang kaya luar biasa dan dengan usaha filsafatnya yang tajam. Mereka mencari bentuk-bentuk hidup matiraga atau meditasi yang mendalam, atau pula dengan berpaling kepada Allah dengan cinta kasih dan pengharapan.

Mgr. Julianus Sunarka SJ di Paroki Pemalang1.jpgb. Berbagai bentuk Buddhisme mengakui bahwa secara mendasar dunia yang fana ini tidak memadai. Maka diajarkan jalan dengannya -dalam semangat pengabdian dan harapan-manusia dapat mencapai tahap pembebasan, sempurna atau dapat menggapai pencerahan tertinggi dengan usaha-usaha sendiri atau dengan bantuan dari atas. Begitu pula agama-agama lain yang terdapat di seluruh dunia, berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia dengan berbagai cara sambil menganjurkan jalan, yakni ajaran dan peratuan hidup serta ibadat suci.

Gereja Katolik tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama ini. Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup, peraturan dan ajaran itu, yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkannya, toh tidak jarang memantulkan cahaya Kebenaran, yang menerangi semua manusia.

Oleh sebab itu mereka menghargai kehidupan moral dan menyembah Allah terutama dalam sembahyang, sedekah dan puasa.Mengingat bahwa dalam peredaran jaman telah timbul pertikaian dan permusuhan yang tidak sedikit antara orang Kristen dan Islam, maka Konsili mengajak semua pihak untuk melupakan luka-luka yang sudah, dan mengusahakan dengan jujur saling pengertian dan melindungi lagi memajukan bersama-sama keadilan, sosial, nilai-nilai moral serta perdamaian dan kebebasan untuk semua orang.

Bapak Paus Johanes Paulus II daalam surat tugas untuk RP Julianus Sunarka SJ menjadi uskup Keuskupan Purwokerto, menekankan kebijaksanaan pastoral yang harus diikuti RP Julianus Sunarka SJ adalah: mengusahakan agar kepada seluruh umat yang dipercayakan kepada RP Julianus Sunarka SJ teristimewa kaum mudanya dan mereka semua yang sedang mencari arti dan makna hidupnya dengan tidak menentu dapat ditunjukkan cemerlangnya cahaya Injil pengajar utama kebenaran dan kebijaksanaan serta keadilan, cinta kasih dan damai sejahtera sejati.

Dan gerak kerasulan inilah yang hendaknya secara tebal mewarnai pastoral Keuskupan Purwokerto. Dan menjadi opsi dari siapa saja yang terlibat pada penggembalaan di Keuskupan Purwokerto.
C. Kekuatan Inti Keuskupan Purwokerto dalam Visi Penegakan Kerajaan Allah

Menurut angka statistik penduduk 2009 yang ada di wilayah Keuskupan Purwokerto terlihat bahwa jumlah umat katolik kurang lebih 73.728 orang adalah 0,45% dari seluruh penduduk 17.309.100 orang. Secara jumlah, apa artinya angka 0,45 %? Begitu riilkah bahwa Keuskupan Purwokerto menggulirkan visi Kerajaan Allah. Kenyataan yang berada diluar jangkaunkah untuk perwujudan visi itu. Tergantung dari kelola penggembalaannya.

Dengan menempuh sistem manajemen pastoral mono-energi sudah pasti tidak mungkin. Manajemen pastoral sel tidak mustahil. Maka kinerja untuk pastoral di Keuskupan Purwokerto mencoba menciptakan koinonia yang membentuk warganya untuk bergerak dimana pun untuk mewartakan kabar gembira dengan empan wapan, empan waktu dan empan orang.

Pantas diteliti di Keuskupan ini ada tenaga ketatanegaraan atau kemasyarakatan berapa dari tingkat desa sampai tingkat pusat, tenaga pendidik dan tenaga kesehatan dokter serta ahli hukum, pedagang dan petani berapa. Mereka itulah yang mempunyai kemudahan menyusup kemana-mana. Demikian pula tenaga imam, bruder, suster, seminaris. Mereka itulah yang seharusnya kita usahakan untuk menjadi inti-inti sel kinerja tenaga-tenaga kunci dalam penegakan nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimanakah seharusnya mereka perlu dikader. Inilah yang menjadi masalah pastoral kita para fungsionaris pastoral?

D. Tantangan dan Peluang untuk Mewujudkan Visi menuju ke Misi

Umat Katolik Keuskupan Purwokerto bersama dengan saudara-saudara berkeyakinan lain tidak lepas dari tantangan-tangan, namun sekaligus tantangan-tantangan itu menunjuk pada peluang untuk mengambil langkah secara tepat sesuai dengan kekuatan yang dimilki. Tantangan bagi umat Katolik Keuskupan Purwokerto yang mencakup eks Karesidenan Pekalongan, Banyumas dan Kedu sebelah barat antara lain:

Mgr. Julianus Sunarka SJ di Paroki Pemalang (Ist(
  1. Tantangan merebaknya kekuatan sekularisasi kehidupan. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa agama, meski tidak anti agama. Sekularisasi adalah gaya hidup tanpa peduli akan Allah, meski tidak anti Allah. Penekanan karier, keluarga inti, profesionalisme, minat dan hobi-hobi serta nasionalisme tertutup akan menjadi pesaing kehidupan beragama. Dengan situasi seperti itu struktur kehidupan jemaat beriman yang kyaisentris, klerusentris apalagi pemerintahsentris dengan gaya yang rituaslistis mempunyai kemungkinan besar menjauhkan umat beriman dari Gereja dan Jemaat Agung yang mempunyai kandungan perutusan mewartakan nilai-nilai luhur universal. Gaya hidup terlalu sekuler akan membawa hidup orang begitu timpang. Ada peluang di situ untuk mewartakan nilai-nilai imani akan Allah yang transenden dan imanen.
  2. Tantangan berikut adalah masih adanya kemiskinan. Kita ditantang terus untuk mewujudkan kesetiakawanan dengan kaum miskin. Terwujudnya kesetiakawanan ini adalah menjadi ukuran kita hidup bermasyarakat. Patut diingat bahwa tantangan ini berada dalam arus yang jelas-jelas meningalkan kaum miskin. Globalisasi telah berhasil menawarkan budaya “glamour”, foya-foya, pemborosan, budaya mall supermarket, tv dsb, narkotika yang dapat memukau dan memonopoli fantasi manusia. Peluangnya adalah bagaimana kita dapat mewujudkan kesetiakawanan dalam alam yang anti kemiskinan.
  3. Tidak dapat kita sangkal adanya tantangan yang berkaitan dengan konteks sosial perutusan kita. Masyarakat kita berada dalam situasi rentan dengan kekerasan akibat adu domba dan konflik. Bukan rahasia lagi bahwa rekayasa dan adu domba dapat diagendakan oleh kelompok kepentingan dan kekuasaan. Sementara konflik lebih melekat pada masyarakat kita sebagai akibat dari adanya perbedaan agama, ras, suku, daerah, golongan, dan kelas. Di sini kita dituntut tidak terpancing dalam menajamkan konflik tersebut. Kita ditantang untuk menghadapinya sebagai situasi objektif masyarakat masa kini. Kita dituntut untuk menghadapinya sebagai peluang dalam menggalang kerukunan dan dialog. Dalam konteks sosial lebih-lebih dalam konteks pelaksanaan undang-undang otonomi, perutusan kita saat ini dituntut memberi perhatian lebih khusus kepada situasi kehidupan kenegaraan. Kehidupan kenegaraan yang dirasa berkembang semakin kompleks kini sedang dilanda berbagai krisis. Krisis kelola negara, krisis moneter yang langsung dibayangi oleh krisis kepercayaan. Diduga kuat bahwa krisis kepercayaan ini mempunyai sebab yang berkaitan dengan kemerosotan moralitas umum yang tidak terkendali. Ini nampak dalam tumbuh suburnya praktek korupsi, manipulasi dan korupsi, rekayasa terselubung dan berbagai penyelewengan dalam tubuh aparat kepemerintahan. Pembenahan mendasar memerlukan dukungan masyarakat mengingat praktik-praktik kotor tersebut terkait pula dengan sikap kondusif masyarakat akibat melemahnya mekanisme kontrol masyarakat: semangat apatisme, semangat aji mumpung sebagian masyarakat dll.
  4. Masalah lingkungan hidup Menurut para ahli, kerusakan hidup alami sudah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan umat manusia. Hampir tidak dapat disangkal lagi oleh para ahli bahwa “suvival” umat manusia sedang dipertaruhkan. Umat manusia dirasa tidak dapat bertahan sampai 200 tahun lagi, kalau pola perekonomian kita tidak memperhatikan kelestarian lingkungan ini terus berkelanjutan. Di Indonesia kita telah berhadapan dengan ancaman serius seperti apa yang dapat kita saksikan dalam pengrusakan dan pembakaran hutan, bencara kekeringan rutin yang tidak ditangani secara serius. Kita ditantang untuk ikut mengusahakan bagaimana orang dapat merubah sikapnya terhadap alam. Kita perlu mengembangkan sikap mencintai pelestarian alam, sikap yang lahir dari spiritualitas penciptaan dan pemeliharannya.
  5. Masalah “bias gender”. Dominasi kaum pria atas kaum perempuan nampak dalam setiap segi kehidupan. Berbagi ketidakadilan menimpa kum perempuan dalam masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, agama bahkan berbahasa. Dapat diambil sebagai contoh konkrit antara lain dalam diskriminasi untuk jabatan kepemerintahan, beban pekerjaan, masalah gaji, tindak kekerasan, turisme seks. Terhadap masalah ini Gereja telah menanggapinya secra tegas menentang diskriminasi terhadap perpemuan. Cita-cita kesetaraan antara pria dan perempuan supaya disiarkan menjadi kenyataan. Gereja bersama-sama umat berkeyakinan lain memperjuangkan transformasi sosial dalam masalah “gender”. Inilah peluang bagi kita untuk mewartakan martabat luhur manusia.

Umat katolik meski berjumlah sedikit diajak untuk menaruh perhatian terhadap tantangan dan peluang tersebut di atas. Sesuai dengan kekuatan yang ada, umat katolik diajak bekerja sama dengn umat berkeyakinan lain untuk memasuki peluang- peluang yang ada sebagai perwujudan Gereja Kerajaan Allah, selaran dengan perutusan Sang Guru Sejati Tuhan Yesus Kristus.

Misi Umum (Kiprah Mewujudkan Visi)

Misi adalah gambaran menyeluruh ‘global’ agenda yang harus dirumuskan untuk menjadi proses langkah dalam terwujudnya visi. Ada dua kerangka kerja besar. yaitu bina ke dalam dan bina ke luar.

Sebagai langkah kerja bina ke dalam, Keuskupan perlu menanamkan dan mengembangkan iman kristiani. Pembinaan ke dalam berjalan dengan geraknya umat sendiri, yang menyangkut umat non fungsional, kategis, prodiakon, pastor, uskup. Semuanya itu berada dalam dampingan keintian panitia-panitia kerja keuskupan paroki, stasi. Juga badan-badan kerasulan. Dengan demikian panitya dan badan-badan menggulirkan refleksi yang berwawasan lebih luas, sehingga isi iman katolik, yang menyangkut pengetahuan, peresapan kejiwaan dan penataan laku dalam waktu dan ruang dimantapkan. Segi-segi yang dirasa penting dalam kehidupan umat menyangkut kerygma, koinoia, leiturgia dan diakonia. Ini perlu diperhatikan oleh panitia kaderisasi pimpinan umat entah imam entah awam dalam katekese, kitab suci, liturgi. pendalaman spiritualitas, kepemudaan, kelompok-kelompok rohani, panitia keuangan.

Mgr Julianus Kemo Sunarka SJ Uskup Purwokerto (Ist)

Dengan mantapnya isian gerakan bina ke dalam diharapkan umat mengalami rahmat Tuhan begitu melimpah. Dan umat dalam koinonianya terdorong mengalirkan luapan itu bagi orang lain di luar jemaatnya sendiri. Dan kelanjutannya dalam bina gerak keluar adalah gerakan yang bersangkutan dengan panitia , pendidikan, sosial ekonomi, kesehatan, komunikasi sosial, kedamaian dan keadilan, hubungan antar kepercayaan dan keyakinan . Gerak keluar umat katolik bersama dengan jemaat lain ialah kinerja menjalin hubungan Gereja dengan jemaat lain. Jemaat lain itu terdiri dari berbagai golongan. Masing masing golongan mempunyai perwujudan pengalaman iman secara tersendiri.

Ada kelompok yang mudah untuk hidup bersama dalam pencukupan materi. Ada golongan yang mudah bersama untuk olah kejiwaan. Dan yang lain hanya mudah bersama dalam pendalaman pemikiran filsafat; serta lain lagi mudah bersama dalam masalah rohani, ketuhanan, kesusilaan.

Maka butir gagasan operasional sebagai berikut perlu menjadi perhatian untuk mendapatkan waktu dan ruang. Untuk menukik pada kekhususan itu diperlukan keawaspadaan dan kepekaan dari para pelaku penggembalaan. Demikian pula kemampuan untuk menilai sejauh mana kebersamaan itu sudah dapat ditingkatkan ke tataran kebersamaan yang lain. Ulasan selintas ini mempunyai enam kerangka gerak misi dalam usaha mewujudkan visi Gereja Kerajaan Allah.

1. Memperhatikan pendalaman iman umat katolik
2. Mengembangkan Komunitas Basis Gerejani & Kemanusiaan di kota dan desa
3. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani
4. Memberdayakan kelompok miskin,tersingkir
5. Melakukan dialog antar umat beriman
6. Mengembangkan Komunitas Basis Kemanusiaan

Strategi (Langkah yang diutamakan dari misi ) untuk Periode 2001-2016

Strategi adalah pengutamaan langkah kinerja. Pengutamaan langkah diambil dengan perhitungan adanya kekuatan pengaruh dan hasil ganda dari langkah tersebut; dalam arti berdaya menelusup ke berbagai segi. Orang menembak, sekali lepas tembakan mengena berbagai sasaran, berbagai hasil tercapai. Sekali mengayuh, dayung dua tiga pulau terlampaui.

 

Secara singkat dapat dikatakan bahwa strategi Keuskupan untuk lima tahun (2001-2005) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut:

  1. Memberikan perhatian pada pendidikan calon imam dan tokoh awam.
  2. Mengusahakan bentuk bentuk kerjasama umat katolik dengan umat lain.
  3. Menyelenggarakan pendidikan kaum muda yang manusiawi dan kristiani.
  4. Mengusahakan bantuan tenaga imam dari Keuskupan Tetangga.
  5. Meningkatkan pelayanan Komisi Komisi Pastoral Keuskupan.
  6. Mewujudkan berdirinya paroki paroki pedesaan.
  7. Mengembangkan komunitas Basis Gerejani yang sudah ada.
  8. Mengembangkan komunitas Basis Kemanusiaan yang sudah ada.
  9. Meningkatkan mutu dialog antar umat beriman dalam Forum Persaudaraan antar Umat Beriman.
  10. Mengusahakan dana untuk pengguliran prioritas karya.

Strategi Keuskupan Purwokerto untuk lima tahun (2016 -2011) bergerak dalam bidang-bidang kerasulan sebagai berikut:

  1. Mengkader Orang Muda Katolik menjadi garam masyarakat.
  2. Mengembangkan pendidikan nilai dalam hidup berkeluarga.
  3. Mengentaskan umat dari formalisme agama.
  4. Mengentaskan masyrakat akar rumput dari kemiskinan.
  5. Mempopulerkan pertanian organik/lestari

Strategi Keuskupan Purwokerto lima tahun (2012-1016) bergerak dalam bidang kerasulan berikut:

  1. Membina kedalaman iman umat dengan mencermati dokumen Konsili Vatikan II.
  2. Menggarap Pemberdayaan Paguyuban Paguyuban territorial, kategorial, profesional.
  3. Meningkatkan mutu Lembaga Pendidikan Katolik, menukiknya pada kerasulan persekolahan

Dengan semboyan “NON MEA SED TUA VOLUNTAS FIAT”, penulis naskah ini mengimani dengan harapan yang begitu besar bahwa Almarhum Paus Johanes Paulus II, “yang akan diresmikan menjadi orang kudus untuk zaman postmodern ini ”, berdoa kepada Allah Tritunggal Mahakudus dan mohon restu kepada Bunda Maria gar visi, misi dan strategi Keuskupan Purwokerto sebagai Sakramen Kerajaan Allah menjadi keyataan.

Purwokerto, 25 Maret 2014
Hari Raya Kabar Sukacita

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply