Perumpamaan

Ayat bacaan: Matius 13:34
==================
“Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka”

Jika anda bertanya kepada anak-anak sekolah, kebanyakan tidak suka dengan fisika, matematika atau kimia. Apa yang salah terhadap mata pelajaran ini? Tentu bukan mata pelajarannya yang salah, tetapi menurut saya karena biasanya murid hanya diarahkan untuk menghafal rumus tanpa diberitahu kegunaannya. Seperti itulah saya ingat ketika saya masih sekolah dulu, saya berusaha sendiri untuk mencari cara agar bisa menyukai mata pelajaran-mata pelajaran yang terbilang sulit itu. Apa yang saya perbuat? Misalnya, saya mencoba untuk menjatuhkan kapur dari lantai dua, yang sudah saya ukur dulu tingginya dengan memakai tali meteran. Kapur saya timbang, lalu kecepatan teman saya berjalan di bawah pun dihitung kira-kiranya. Jadi saya tahu kapan harus melepas kapur agar tepat mengenai kepalanya. Dalam pelajaran kimia saya membaca berbagai novel Agatha Christie sehingga tahu beberapa campuran zat kimia yang menghasilkan racun. Dengan melakukan hal-hal ini, saya menjadi tertarik akan pelajaran-pelajaran itu dan tidak lagi gampang lupa. Setelah saya menjadi pengajar, saya memastikan akan selalu menerangkan apa fungsi, tujuan atau aplikasi dari segala sesuatu yang mereka pelajari. Semua itu pun saya sertai contoh-contoh agar mudah dipahami karena memakai ilustrasi dari apa yang mereka lihat atau alami sehari-hari. Pada suatu kali saya harus menerangkan kepada seseorang akan pentingnya menyampaikan dengan kata-kata yang benar, saya pun memilih untuk memberi ilustrasi mudah ketimbang menimbun mereka dengan berbagai ayat. Itu akan jauh lebih efektif terlebih bagi mereka yang belum mengenal betul pesan-pesan Tuhan untuk sebuah kehidupan berkelimpahan menuju keselamatan yang kekal. Itu juga sebabnya saya selalu mengawali renungan dengan sebuah ilustrasi yang saya percaya bisa mengantar anda lebih jauh dalam memahami firman yang disampaikan.

Dalam sisi ilmu pengetahuan, teori itu penting. Dalam meningkatkan iman, mengetahui bunyi Firman Tuhan itu penting. Tetapi aplikasi nyatanya dalam kehidupan itu pun tidak kalah pentingnya. Agar kita mudah memahami, seharusnya ada bentuk-bentuk pengajaran yang disertai contoh-contoh, seperti lewat perumpamaan misalnya. Itulah tepatnya yang dilakukan Yesus dalam masa pelayananNya di muka bumi ini. Perhatikan cara pengajaran Yesus. Dia tidak cuma mau menyampaikan isi hati Tuhan kepada kita secara “teoritis” saja, tetapi Yesus suka menyertakan berbagai perumpamaan yang jauh lebih aplikatif dan mengena, lebih mudah dicerna atau dipahami. Jadi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan, teguran dan larangan saja, tetapi ada contoh yang memudahkan kita untuk mengerti terutama untuk hal-hal yang berbeda dengan apa yang dipercaya dunia. 

Lihat betapa banyaknya perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Dia menyampaikan suara Tuhan bagi manusia. Mari kita ambil beberapa contoh. Lewat cerita tentang seorang ibu dan hakim yang lalim dalam Lukas 18:1-8 Yesus mengajarkan kita untuk terus berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kisah orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18:9-14 mengajarkan kita untuk tidak merasa diri paling benar, paling suci dan memandang rendah orang lain atau merasa berhak menghakimi, juga mengajarkan bagaimana bentuk pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita di masa lalu. Lantas dalam Injil Lukas pasal 15 kita bisa menemukan seperti apa besarnya kerinduan dan kasih Tuhan kepada orang-orang terhilang lewat tiga perumpamaan: tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Ketiganya dengan jelas merefleksikan sikap hati Tuhan kepada orang-orang yang hilang untuk kembali kepada jalanNya. Pengampunan tak terbatas diberikan sebagai anugerah atas dasar kasihNya yang begitu besar kepada kita. Ketiganya akan sangat membantu kita untuk mengerti sikap hati Bapa terhadap anak-anakNya. Ada banyak lagi tentunya perumpamaan-perumpamaan yang semuanya sangat bermanfaat seperti perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), perumpamaan orang kaya yang bodoh (12:13-21), perumpamaan tentang hamba yang menantikan kepulangan majikan atau tuannya  (12:35-48), gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Matius 25:1-13), tentang talenta (Matius 25:14-30) dan lain-lain. Isi hati Tuhan, kebenaran Kerajaan Surga, semuanya tergambar jelas lewat perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan dengan cara yang begitu mudah untuk dimengerti.

Dalam Injil Matius ada sebuah ayat yang dengan jelas menggambarkan metode pengajaran Kristus kepada manusia. “Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka” (Matius 13:34). Yesus bertindak sebagai Guru yang Agung, yang dengan luar biasa mengajarkan lewat metode pengajaran yang disertai dengan contoh langsung yang sangat mudah dicerna. Maka tidaklah mengherankan apabila Nikodemus, orang Farisi pemimpin agama saat itu menggambarkan Yesus sebagai Rabi, guru yang diutus Allah seperti yang bisa kita baca pada Yohanes 3:2. Yesus bukan tipe guru yang bertindak otoriter dan memaksa orang menghafal atau menyampaikan searah. Dia mengambil cara mengajar dengan bercerita dalam beragam perumpamaan, often with the style of a story teller. Dengan begitu kemampuan pikir kita akan lebih mudah mengetahui isi hati Tuhan, perintahNya, kehendakNya, teguranNya dan laranganNya. Kita akan lebih mudah pula menerapkannya dalam kehidupan kita karena kita mengerti sehingga bisa membawa kita kepada sebuah frame hidup yang  tepat seperti yang diinginkan Tuhan bagi kita semua.

Sebuah keteladanan hidup yang lahir dari pemahaman Firman Tuhan akan sangat berguna untuk menyatakan hati Tuhan kepada orang lain. Kita diminta menjadi saksi-saksi Kristus, baik di lingkungan tempat tinggal kita, kota, bangsa, bahkan seluruh dunia. (Kisah Para Rasul 1:8). Orang akan bisa melihat langsung bagaimana bedanya berjalan bersama Tuhan lewat cara kita hidup, Ketahuilah bahwa hidup kita pun dengan demikian akan menjadi sebuah “perumpamaan” sendiri yang akan mampu memberkati orang-orang di sekitar kita. Tuhan tidak ingin kita berhenti hanya pada tahu teori, tetapi secara praktek pun harus kita tunjukkan.

Perumpamaan lewat contoh sederhana bisa membawa kita ke dalam pemahaman lebih baik akan Firman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: