Pertemuan Mitra Misereor, Mengobarkan Semangat dan Asa Indonesia Baru

Misereor5SELAMA dua setengah hari, 49 orang datang mewakili 42 mitra Misereor. Ini adalah nama untuk menyebut lembaga di Jerman yang selama ini selalu mendukung banyak lembaga non profit yang programnya didukung oleh Misereor dalam bentuk sumber daya dana atau lainnya. Di Rumah Khalwat, Tegal Jaya, Denpasar, Bali, ke-49 mitra Misereor itu berkumpul. Misereor termasuk salah […]

Misereor5

SELAMA dua setengah hari, 49 orang datang mewakili 42 mitra Misereor. Ini adalah nama untuk menyebut lembaga di Jerman yang selama ini selalu mendukung banyak lembaga non profit yang programnya didukung oleh Misereor dalam bentuk sumber daya dana atau lainnya. Di Rumah Khalwat, Tegal Jaya, Denpasar, Bali, ke-49 mitra Misereor itu berkumpul.

Misereor termasuk salah satu lembaga non profit tertua di dunia, berasal dari Jerman, dengan dukungan Gereja Katolik Jerman dan pemerintah Jerman. Selama ini, Misereor telah membantu banyak program-program yang sesuai dengan misinya mengentaskan kemiskinan di dunia.

Walau mengelola dana bantuan Gereja Katolik Jerman, Misereor sama sekali tidak eksklusif apalagi rasis. Bantuan diberikan tanpa memandang soal agama, ras, atau status-status lain yang suka disematkan sebagian orang kepada sesamanya sebagai pembeda dan pengucilan antar mereka.

Mitra Misereor yang berkumpul jelas membawa aroma kebhinnekaan dengan hangat; senyum sapa dan diskusi terjalin tanpa cela dan tanpa kesinisan tak perlu. Semangat untuk Indonesia baru seakan bisa disentuh dalam aula pertemuan. Ketika dalam satu sesi ditanyakan apakah para mitra yakin akan pergerakan bangsa ke arah Indonesia yang lebih baik, tanpa ragu semua bergerak ke arah yang positif.

Menuju Indonesia lebih baik
Lembaga-lembaga nirlaba yang sehari-harinya banyak berkutat dengan masyarakat terpinggirkan ini toh punya impian yang jelas dan terutama semangat untuk mewujudkan Indonesia hebat. Beberapa lembaga berhubungan dengan pengembangan petani di pedalaman seperti Yakines, Ayo Indonesia di Indonesia timur.

Ada juga lembaga yang advokasi soal lingkungan hidup seperti Walhi Indonesia, Sawit Watch, atau JPIC SVD di Ruteng yang gigih melawan tambang-tambang yang beroperasi tanpa peduli tentang kelestarian alam dan kesejahteraan penduduk lokal. Selain lembaga-lembaga kecil yang berpusat jauh, hadir juga lembaga besar dari ibukota seperti ELSAM, APTIK, PAPKI, KONTRAS, PERDHAKI, dan Karina Indonesia KWI.

Latar belakang beragam ini membuat diskusi menjadi hidup tapi juga tak akan tuntas. “Ini memang bukan penutup; ini adalah permulaan untuk kerjasama selanjutnya. Mari para mitra bertandem menggunakan sumber daya unggulan masing-masing dan berkarya bersama demi efektifitas dan pencapaian akhir kita,” demikian harapan Ulrich Dornberg, Country  Manager for Indonesia yang khusus datang menghadiri pertemuan mitra ini dengan rekannya Jutta Zobel, bagian finansial.

Misereor4

Ulrich Donberg bersama para mitra Misereor di Indonesia: Beginilah suasana pertemuan Misereor –lembaga non profit Jerman– bersama para mtra kerjanya dari seluruh Indonesia di Rumah Khalwat Tegal Jaya, Denpasar, Bali, akhir September 2014 lalu.  Tampak dalam gambar Ulrich Donberg dalam sebuah diskusi bersama para mitra kerjanya di Indonesia. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Ulrich yang telah belasan tahun bekerja di Misereor senang sekali melihat pertemuan ini membawa dampak sampingan seperti mempertemukan mitra yang berpotensi berjejaring dalam suatu karya tertentu. Misalnya, Romo Surjadi SJ, Direktur Karina Indonesia KWI asyik berdiskusi tentang fenomena human trafficking dengan Ibu Dian dari Mitra Wacana Yogyakarta.

Harapan sejenis diutarakan beberapa mitra kepada Sesawi.Net. Para mitra ini ada yang sudah bekerjasama dengan Misereor sejak tahun 1974, rentang waktu yang begitu lama dan relasi tetap tersambung sampai sekarang, tapi ada juga yang baru hitungan bulan mengenal Misereor. Perbedaan pengalaman seperti ini tentunya menarik disharingkan, mitra lama diharapkan bisa membantu mitra baru guna lebih memahami visi dan misi Misereor, demikian harapan panitia penyelenggara seperti dikemukakan oleh Frank Wiesemann sebagai Advisors for Partner Dialogue and Organisational Strengthening di Yayasan SATUNAMA yang membantu menjadi hub bagi kerjasama antarmitra.

Misereor3

Saling kenal untuk saling bekerjasama: Suasana pertemuan Misereor bersama para mitra kerjanya dari seluruh Indonesia dari berbagai lintas kelompok dan agama. Acara semacam ini menjadi penting karena terjadilah dialog dan komunikasi antara lembaga donor dan lembaga penerima di satu pihak; juga antar lembaga non profit Indonesia yang mendapat bantuan dari Misereor. (Royani Lim/Sesawi.Net)

 

Misereor5

Mendengarkan Misereor: Amatlah perlu bilamana para mitra kerja Misereor di Indonesia mendengarkan langsung visi dan misi Misereor dari country manager-nya di Indonesia: Herr Ulrich Donberg. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Jadwal acara yang padat dengan presentasi dan diskusi-diskusi diikuti dengan semangat tinggi oleh para peserta. Setiap coffee break diisi dengan mitra-mitra yang seru berdiskusi dalam topik-topik tertentu. Perkenalan dan pemahaman lebih jauh antar mitra tampaknya terwujud dengan mudah. Maka ketika Frank Wiesemann mengajak melakukan metode diskusi open space yang mirip dengan coffee break tercatat, dengan cepat para peserta membentuk jaringan diskusi topik-topik yang dipilihnya.

“Bagus sekali, kami jadi tahu ada aneka mitra dengan beragam latar belakang pelayanan, selain kemiskinan juga keadilan dan perdamaian dunia,” demikian tanggapan Romo Yohanes Damianus OMI ketika ditanya kesannya setelah mengikuti pertemuan mitra Misereor tersebut. Romo Damianus hadir mewakili Yayasan Sosial Bina Sejahtera di Cilacap yang dipelopori oleh Romo Carolus OMI yang karyanya banyak membantu kesejahteraan masyarakat Cilacap sejak 1973.

Foto kredit: Suasana pertemuan Misereor dengan lembaga mitranya dari seluruh Indonesia (Royani Lim/Sesawi.Net)

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply