Pertarungan Si Baik vs. Si Jahat

the_good_and_the_bad-wallpaper-1440x1080

KETIKA memberi materi psikologi komunikasi suami istri pada Persiapan Kursus Perkawinan bulan lalu di gereja, saya terkesima dengan sharing salah satu peserta kursus yang mengatakan bahwa ia berniat akan selalu menciptakan suasana pacaran dalam hidup rumah tangga mereka. Tak peduli usia perkawinan 2 tahun, 7 tahun, 25 tahun atau 50 tahun. Luar biasa spiritnya.

Saya teringat perjalanan 12s tahun membina rumah tangga. Waktu itu saya umur saya sudah menginjak 31 tahun, tetapi saya belum mempunyai calon pasangan hidup. Dalam doa saya minta agar Tuhan sendiri yang mengirimkan laki-laki pilihan Tuhan sendiri. Ternyata dalam suatu kesempatan yang tak disangka-sangka, saya berjumpa dengan mantan teman SD yang sudah 20 tahun lamanya tidak pernah bertemu. Singkat kata, kami lalu menikah.

Singkat cerita pula kami lalu berjalan bersama dalam suka duka, dalam untung dan malang dalam sehat dan sakit.

Masa manis madu pacaran sudah berlalu dan kami disibukkan dengan pelbagai urusan mulai dari soal anak, rumah, pekerjaan sampai pada pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Itulah sebabnya di samping ada rekreasi keluarga, kadang masing-masing dari kami masih menyempatkan diri untuk mempunyai “Me Time” entah memancing di sebuah pulau yang sunyi jauh dari keramaian atau mengadakan trip dengan teman ke tempat yang belum pernah dikunjungi.

Saya memberi kebebasan kepada suami untuk menikmati waktu dan hobinya sendiri demikian juga sebaliknya. Lama kelamaan kami dapat menerima satu sama lain dan saling memahami.

Tidak gampang memang proses itu. Tidak seindah yang dibayangkan. Benturan, gesekan, salah paham, perselisihan, beda prinsip, ketidakpercayaan, keputusasaan dan godaan silih berganti menghantam bahtera rumah tangga kami yang sedang berlayar di laut luas. Dan yang saya amati adalah peran malaikat dan setan sama besarnya dalam perjalanan hidup rumah tangga kami. Sudah ribuan kali saya alami pertolongan dan perlindungan malaikat-malaikat Allah dalam masa-masa sulit kami.

Tetapi setan juga tak henti-hentinya berusaha menghancurkan.

Kini saya makin kenal dengan cara setan melakukan niat jahatnya. Si iblis ini tidak pernah putus asa dan ia sabar. Ia tahu persis di mana titik kelemahan manusia dan dengan segala macam cara, iblis menerkam jiwa manusia tepat di titik lemahnya. Entah lemah dalam pengendalian diri, lemah dalam mengelola keuangan, lemah dalam pengampunan, ataupun dalam kelemahan lain: egois, mau menang sendiri, merasa paling benar, kesombongan.

Sekali setan berhasil memperdaya, ia pun akan kembali lagi dengan tipu muslihat lain yang nampak suci dan mulia. Saya sendiri tidak tahu persis apa kelemahan pasangan saya, karena meski sudah berjalan bersama cukup lama, kami juga masih dalam proses penyatuan dan pengenalan pribadi sampai maut nanti memisahkan.

Akan tetapi yang jelas saya makin kenal kelemahan diri sendiri dimana saat kelemahan itu muncul saya harus segera waspada agar hidup tidak diperdaya si Iblis. Kadang diri sendiri pun membela diri dengan rasionalisasi seolah-olah yang saya perbuat itu sah dan benar. Kalau jujur dan berani mengakui, kadang saya malu karena ternyata apa yang saya sangka baik ternyata adalah perbuatan iblis. Luar biasa pintar dan liciknya setan sehingga kadang saya berani melawan diri sendiri demi membela kepentingannya.
Darimana tahu perbuatan itu dari malaikat atau dari iblis?

Pastor yang saya tanyai menjawab perbuatan itu diketahui dari buah-buah rohnya. Apabila buah-buah roh yang dirasakan adalah kedamaian, kebahagiaan, penerimaan, pengampunan dan ketenangan lahir batin maka itulah buah-buah dari roh baik. Akan tetapi jika yang dirasakan adalah kekacauan, kegelisahan, ketakutan, kemarahan, dendam dan kesedihan maka itulah buah-buah dari si jahat.

Saat Kursus Persiapan Perkawinan berakhir saya menyalami peserta yang tadi ingin menciptakan masa pacaran sampai umur 50 tahun perkawinan. Saya kagum dengan semangatnya dan saya berdoa untuknya agar saat mengarungi bahtera rumahtangga nanti ia cukup sadar dan kuat menghadapi pertarungan melawan si Jahat.

Pada peringatan St. Perawan Maria menampakkan diri kepada tiga gembala di Fatima, Portugal.

Photo credit: Pertarungan si baik vs si jahat (Wall Papers)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: