Perselisihan Itu Biasa (1) : Cepat Mendengar

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

bertengkar, peselisihan, cepat mendengar

Perselisihan/pertengkaran dalam rumah tangga? Itu biasa.. kita semua memiliki kepribadian yang berbeda. Pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan berbeda, pendapat tentang sesuatu hal bisa berbeda, dan seterusnya, sehingga pada saat-saat tertentu bisa saja terjadi “gesekan-gesekan” kecil akibat berbagai perbedaan tersebut. Sayangnya, seringkali gesekan kecil itu bisa berkembang menjadi besar. Bagaikan manusia purbakala yang menggesek-gesekkan kayu sehingga menimbulkan api kecil, namun api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar ketika api kecil itu mulai menyambar benda-benda yang mudah terbakar. Demikian pula dalam rumah tangga, antara suami dan istri, ayah/ibu dengan anak, antar saudara dan sebagainya. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai menyambar kemana-mana sehingga eskalasinya pun menjadi tak terkendali. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari, sudah jauh dari pokok masalah, dan seperti api besar bisa membakar habis rumah bahkan kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.

Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yang akan disusul oleh prinsip kedua dan ketiga besok dan lusa.

Pertama, kita diminta cepat untuk mendengar. Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu wajar, namun kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar. Dengarkan dulu alasan-alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan. Seringkali perselisihan memuncak karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar, sehingga ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Berikan suatu ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik, sehingga kita mampu melihat sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri. Lihatlah bagaimana tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan Maria menurut Yesus adalah “memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar..” (Lukas 8:18).

Dalam mendengar apa kata Tuhan pun demikian. Seperti yang telah saya tulis dalam renungan-renungan kemarin, seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan “daftar permintaan” kita di setiap doa, atau karena kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Dengarlah baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7)

Ada kalanya kita harus berbicara, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik, yang mampu mendengar dengan cepat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang akan merusak diri kita sendiri dan menyakiti orang lain.

Cepatlah mendengar sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan emosi belaka

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply