Persekutuan

Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25
========================
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

persekutuan

Semenjak aktif dalam persekutuan keluarga, saya memasuki sebuah fase baru kehidupan yang lebih menyenangkan. Memang menyenangkan bisa berkumpul dengan beberapa keluarga lain yang saat ini dekatnya sudah terasa seperti saudara sendiri. Kita saling menguatkan, saling menasihati, dan bersama-sama berdoa dan memuliakan Tuhan lewat pujian/penyembahan dalam tiap pertemuan seminggu sekali. Saya bersyukur mendapatkan sebuah persekutuan yang serasi, dan kami semua sama-sama bertumbuh. Saya menyadari betul bahwa sebagai manusia, kita harus menyadari bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan sendirian. No man is an island. Kita harus hidup berinteraksi dan saling bantu, sebagai sosok mahluk sosial di bumi ini. Seorang teman persekutuan pernah mengalami masalah dengan pekerjaannya, namun dengan kuatnya persaudaraan dalam persekutuan, ia tidak sampai jatuh, malah kini sudah bangkit lagi.

Ada kalanya kita kuat, disaat kuat adalah baik jika kita menguatkan saudara-saudara kita yang tengah ditimpa masalah. Sebaliknya ada saat dimana kita sedang lemah, di saat itu saudara-saudara kita yang tengah dalam keadaan baik mendukung kita. That’s how it works. Kita saling mengingatkan, saling menasehati, saling mendukung, saling support. Sebagai manusia kita bisa mengalami “ups and downs”, dan itu wajar. Di saat-saat “down” itu kita membutuhkan saudara-saudara seiman yang bisa menguatkan, mengingatkan bahwa kita jangan sampai jatuh. Ada orang-orang yang peduli, tidak sekedar simpati namun juga ber-empati. Ini hal yang sangat penting agar iman kita tidak ikut-ikutan jatuh ketika diri kita menjadi lemah ditimpa setumpuk masalah hidup. Penulis Ibrani mengingatkan hal tersebut. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:24-25). Kita harus terus menjaga komitmen, keseriusan dan semangat kita untuk terus hadir bersekutu dengan saudara-saudara seiman. Ingatlah bahwa kita tidak lagi boleh menyia-nyiakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Saling mengingatkan agar jangan sampai terpeleset dan terjerumus dalam kesesatan ketika kita tengah lemah berarti kita menjadi seorang pelayan Kristus yang baik. (1 Timotius 4:6).

Kita bisa belajar dari cara hidup jemaat yang pertama yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Demikian petikannya: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” (ay 46-47). Lihatlah bagaimana Tuhan memberkati persekutuan jemaat pertama yang bersama-sama memuji Tuhan dengan gembira dan dengan tekun saling menasihati. Jauh sebelumnya, Pengkotbah pun mengingatkan kita bahwa berdua itu lebih baik dari sendirian. Ketika yang satu terjatuh, yang lain mengangkatnya. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Pengkotbah juga mengingatkan lewat sebuah ayat yang mengingatkan pada pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” “Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”(ay 12). Dan di atas segalanya, ingatlah bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Matius 18:20).

Begitu pentingnya makna sebuah persekutuan, yang akan saling menguatkan. Kita manusia yang tidak akan bisa 100% hidup tanpa masalah. Ada kalanya kita terjatuh, di saat itulah saudara-saudara kita akan mengangkat kita. Ada kalanya saudara kita yang jatuh, giliran kita untuk menopangnya. Ada banyak hal yang mungkin bisa menghalangi kita untuk hadir dalam persekutuan. Mungkin pekerjaan, keluarga, kesehatan, atau suasana hati, atau malah malas. Agar bisa terus tumbuh dan terus kuat, dan agar kita tetap bisa hidup sesuai kehendak Tuhan, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menghindari pertemuan-pertemuan ibadah, termasuk di dalamnya persekutuan bersama saudara-saudara seiman. Keep walking on strong together in Jesus!

Betapa indah memiliki saudara-saudara yang saling peduli, saling menasehati dan saling membangun

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply