Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Persatuan

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 2:44-45
============================
“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.”

persatuanSeberapa jauh kita bisa meminimalkan perbedaan dan mengedepankan kebersamaan? Ini sebuah pertanyaan yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan. Pada kenyataannya orang cenderung lebih memilih untuk memperbesar jurang perbedaan ketimbang mencari kesamaan, dan seringkali perbedaan inilah yang menghambat kita untuk bisa berbuat banyak untuk orang lain. Ketika Kekristenan berisikan kasih sebagai inti dasarnya, apa yang dipertontonkan oleh kebanyakan orang percaya masih jauh dari substansi Kekristenan itu. Manusia cenderung bertambah egois, hanya mementingkan diri sendiri dan baru mau bergerak apabila hal itu menguntungkan buatnya, dan kondisi seperti itu ironisnya masih diadopsi oleh sebagian orang percaya. Perbedaan masih sering menjadi hambatan bagi gereja-gereja untuk bersatu dalam menyatakan kasih Kristus di dunia ini. Pada akhirnya gereja seringkali terbentur pada sekat-sekat tembok, dan sulit sekali menjangkau dunia di luar sana. Dunia menjadi semakin egois, menjadi semakin dingin dan tidak lagi bersahabat, disana seharusnya kita bisa berperan nyata, tetapi yang terjadi malah banyak diantara kita yang ikut hanyut di dalam arus dunia yang semakin hari semakin menunjukkan individualismenya. The world is a lonely planet, begitu kata sebagian orang, dan itu semakin terasa dengan menipisnya kepedulian dan kasih, juga kebersamaan atau persatuan di antara kita.

Persatuan di antara anak-anak Tuhan sudah menjadi perhatian penting Yesus sejak semula. Lihatlah bunyi salah satu doa Yesus berikut: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21). Dan lihatlah bahwa doa ini ditujukan bukan hanya untuk murid-muridNya pada masa itu saja, tetapi menjangkau semua orang percaya secara luas (ay 20). Tapi sejauh mana anak-anak Tuhan mau mengindahkan kerinduan Yesus ini? Bukannya bersatu, justru perpecahan yang lebih sering terjadi. Bagaimana gereja bisa berfungsi maksimal apabila di antara anggotanya saja masih sulit diajak akur? Dan dengan demikian, seperti kata Yesus dalam doaNya di atas, bagaimana mungkin dunia bisa percaya jika kita tidak bersatu dan bersama-sama menyampaikan kasih Tuhan secara nyata kepada mereka?

Apa yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula sungguh luar biasa dan seharusnya bisa menjadi teladan yang sungguh baik bagi kita. Kita bisa melihat bagaimana cara hidup mereka dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Disana dikatakan: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (ay 44-45). Tetap bersatu, saling tolong dan tidak mementingkan diri sendiri, bahkan luar biasanya mereka rela menganggap apa yang mereka miliki sebagai milik bersama. Bandingkan dengan apa yang kita lihat hari ini, bukankah sangat kontras? Tidaklah heran jika jemaat mula-mula itu menjadi role model atau teladan bagi banyak orang. Ayat 47 menggambarkan hal itu. “..dan mereka disukai semua orang.” Tidak saja semua orang, Tuhan pun berkenan pada mereka dengan menambahkan jumlah orang untuk diselamatkan setiap hari.

Sebuah tatanan hidup Kekristenan seharusnya mengangkat persatuan dan kebersamaan lebih dari hal lain, apalagi hal-hal untuk kepentingan diri sendiri atau golongan. Jika Yesus saja menyatakan secara khusus dalam doaNya, tentulah ini merupakan hal yang sangat penting. Tanpa persatuan niscaya kita sulit untuk menjalankan apa yang menjadi tugas kita seperti seruan Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira ke seluruh dunia. Siapa yang mau percaya jika kita sendiri tidak menunjukkan sikap yang baik di tengah-tengah dunia yang memang sudah penuh dengan hal-hal buruk? Firman Tuhan sendiri jelas mengatakan bahwa biar bagaimanapun “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:10-11). Dengan persatuan kita akan bisa memenuhi hukum Kristus, seperti yang dikatakan: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2). Adalah penting bagi kita untuk menyikapi dunia yang semakin jahat dengan lebih mengedepankan persamaan dalam persatuan. Tidak saja itu berguna bagi kita agar tidak menjadi lemah akibat tekanan dari berbagai sisi kehidupan, tetapi itu pula yang akan memungkinkan kita menjalani tugas dan peran kita secara maksimal. Hanya dengan itulah dunia akan bisa melihat Yesus secara benar dan kemudian percaya kepadaNya. Tanggungjawab penting ada di tangan kita, dan tanpa persatuan di antara orang percaya kita tidak akan pernah bisa melangkah lebih jauh. Marilah kita belajar untuk mengikis perbedaan dan mengedepankan kebersamaan serta menjalankan peran kita secara maksimal dalam persatuan.

Hanya dengan bersatu dan bersinergi satu sama lain kita bisa membawa dunia untuk bisa mengenal Kristus dengan benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

0saves
If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.
Category: Renungan Pagi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*