Perpecahan (1)

Ayat bacaan: Yohanes 17:20-21=======================”Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku…

Ayat bacaan: Yohanes 17:20-21
=======================
“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Pada masa penjajahan dulu, salah satu strategi kolonial agar bisa menguasai kita adalah melakukan taktik yang dikenal dengan divide et impera. Divide and conquer. Pecah-pecah, dan kuasai. Hasutan dilancarkan pada dua atau lebih pihak agar mereka saling curiga, dan itu membuat munculnya faksi-faksi sendiri yang tentu saja jauh lebih lemah dibandingkan apabila semua bersatu. Cara ini terbukti efektif, dan menurut pendapat teman saya dampaknya masih membekas dalam sifat kita sampai saat ini. Entah itu merupakan kebiasaan yang diwariskan turun temurun, entah dunia yang semakin lama semakin individualis, perpecahan memang seolah menjadi sebuah kebiasaan di kalangan bangsa ini. Betapa mudahnya jurang perbedaan itu muncul dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak provokator maupun orang yang terjebak oleh kebodohan sendiri untuk membuat bangsa ini terus terpuruk dan sulit sekali untuk maju. Bahkan sebagian berani membawa-bawa Tuhan sebagai legalitas untuk membasmi orang yang tidak sepaham dengan mereka. Sudah begitu, kalangan pemerintah sendiri justru ikut pula terpecah-pecah. Sebagian mengutuk tindakan seperti itu, sebagian lagi malah pro terhadap mereka. Lucunya, di kalangan anak-anak Tuhan pun roh perpecahan ini ikut-ikutan terjadi. Dan seringkali perpecahan justru tidak harus lewat provokator, tetapi terjadi begitu saja dengan sendirinya. Bukannya bersatu, tapi malah pecahan yang muncul semakin banyak. Apalagi kalau ditambah provokasi, makin parah pula mereka membelah diri.

Memperbesar jurang perbedaan lebih mudah daripada mencari kesamaan. Ini sudah menjadi hal yang lumrah di jaman sekarang. Perpecahan di tubuh gereja bahkan adapula yang sampai menyebabkan permusuhan antar gereja bukan lagi hal yang aneh terjadi hari-hari ini. Tidak jarang kita mendengar orang berkata bahwa gerejanya paling benar dan menganggap gereja lainnya buruk, bahkan belum apa-apa sudah berani menuduh sesat. Saling mengejek, merendahkan, memojokkan, menganggap hanya dirinya yang benar sedangkan yang lainnya salah.

Itu jelas hal yang menyedihkan. Bagaimana kita mau menjadi berkat jika di antara kita saja sudah saling menyalahkan? Bagaimana kita bisa bermimpi untuk hidup di dunia yang penuh sukacita dan kedamaian kalau diantara kita saja masih gontok-gontokan tak karuan?  Bukannya mencari titik persamaan tapi malah semakin sibuk menggali jurang perbedaan. Bukannya semakin dekat, tapi malah semakin jauh. Dimana letak kasih jika itu yang terjadi? Jangan mimpi dulu untuk bisa menjadi saluran berkat dan cerminan kasih Kristus jika kepada saudara seiman saja kita tidak mampu mengaplikasikannya. Berbagai alasan yang kita ciptakan sendiri menjadi lahan bermain asyik bagi iblis untuk mengobok-obok kita, dan ironisnya kita justru mengijinkannya.

Apa yang dirindukan Yesus sangatlah berbanding terbalik dengan tendensi kita. Dia jelas merindukan kesatuan di antara semua gereja Tuhan di atas permukaan bumi ini. Sudah jelas bahwa setiap gereja yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat merupakan bagian dari tubuh Kristus. Maka dimanapun kita berjemaat, kita pun seharusnya merupakan anggota dari tubuh Kristus. Jika Yesus saja mengasihi semua anggota tubuhNya sendiri, siapakah kita yang malah berani saling menyalahkan dan menjatuhkan?

Itu terlihat dari doa dari Yesus untuk murid-muridNya. “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:20-21). Ada beberapa bagian penting dari petikan doa Yesus ini yang bisa kita ambil. Pertama, kita bisa melihat bahwa Yesus tidak hanya berdoa bagi murid-muridNya, tapi juga kepada semua orang yang percaya kepadaNya. Kemudian Yesus juga mendoakan agar semua kita yang percaya kepadaNya bisa bersatu. Sama seperti Bapa di dalam Yesus, dan Yesus di dalam Bapa, demikian pula kita semua di dalam Bapa dan di dalam Yesus. Itu merupakan bentuk kesatuan yang utuh.

Dan Yesus pun menyatakan bahwa hanya dengan kesatuan seperti inilah kita bisa membuat perbedaan nyata bagi dunia, dimana dunia pada akhirnya bisa melihat dan percaya kepada Kristus. Tidak akan ada yang percaya kepadaNya jika kita sebagai umatNya di muka bumi ini justru menunjukkan kelakuan yang buruk. Jika kita sendiri pecah dan saling benci, sementara kita mengajarkan soal kasih, siapa yang bakal mau mendengar? Bukannya menjadi berkat, kita malah menjadi batu sandungan. Bukannya memuliakan Tuhan, tapi kita malah menjelekkan namanya.

Berbicara mengenai kesatuan ini kita bisa meneladani cara hidup gereja mula-mula. Kebersatuan mereka ternyata bukan saja kuat tapi juga begitu indah. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” (Kisah Para Rasul 2:42). Dalam kebersatuan dan ketaatan pun mereka kemudian diberkati Tuhan dengan hadirnya banyak mukjizat dan tanda. (ay 43). Selanjutnya dikatakan bahwa mereka menyaksikan kemuliaan Tuhan turun atas mereka, semuanya terus bersatu, bahkan kepunyaan mereka masing-masing pun menjadi milik bersama. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,” (ay 44). Dan lihatlah bahwa dengan kebersatuan yang mereka tunjukkan, dunia bisa melihat dan percaya. Maka Tuhan pun menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. (ay 47).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply