Perjamuan Ekaristi: Mengenangkan Kasih Allah


HARI-HARI ini kita sebagai umat Katolik “dilimpahi” kesempatan merayakan Ekaristi hari raya sejak Minggu Palma sampai Minggu Paskah. Ekaristi adalah pengenangan kasih Allah. Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup beriman kita.  Dalam doa Rosario pada Peristiwa Terang ke-5, kita merenungkan bahwa Tuhan Yesus menetapkan Ekaristi (Mrk 14:22-24).


Sekedar sharing kecil, saya ingat pengalaman seusai Ekaristi Tahbisan Imam Jesuit di Kotabaru,  Juli 2015. “Rama Johngun, doakan saya yaaa… “. Kalimat itu dikatakan Mgr. Johannes Pujasumarta ketika saya menemui beliau di salah satu ruang di kompleks Kolsani (Kolese Santo Ignatius). Saya menemui beliau untuk memohon izin bahwa tanggal 7-18 November 2015 saya akan mendampingi rombongan peziarah ke Yerusalem.


Beliau pun mengizinkan. Dan saya pun merasa gembira dan lega karena diizinkan Bapa Uskup mendampingi ziarah. Dan saya mengatakan, “Inggih, Monsinyur. Saya akan  doakan Monsinyur di Yerusalem.” Waktu itu Bapa Uskup sedang proses pengobatan karena sakit yang diderita.


Permintaan Bapa Uskup untuk mendoakannya di Yerusalem pun saya tepati dan lakukan. Tetapi sungguh di luar dugaan saya. Doa yang saya ucapkan sangat berbeda dengan apa yang sudah saya siapkan dari tanah air (=Paroki Banyumanik). Pada waktu itu saya ingin mendoakan agar Mgr. Puja diberi kebijaksanaan, kekuatan, kesehatan dan kesembuhan dari sakit. Tetapi kemudian apa yang terjadi?


Tanggal 10 November 2015, rombongan peziarah kami sampai di Gunung Sinai, tempat Nabi Musa menerima 10 Perintah Allah. Sekitar jam 22.00-an kami turun dan sampai tempat penginapan yang ada fasilitas internet (wifi).  Betapa kagetnya saya dan para peziarah yang lain saat membuka HP (perbedaan waktu Indonesia dengan Sinai sekitar 5 jam, di mana waktu di Indonesia lebih awal 5 jam). Saat saya membuka milist para rama UNIO KAS, ada berita mengejutkan bahwa Mgr. Pujasumarta dipanggil Tuhan (seda) jam 23.35 WIB. Saya merasa sangat sedih.


Air Mata Tak Terbendung


Pada pagi harinya sebelum meninggalkan lereng Gunung Sinai untuk menuju atau memasuki kota suci Yerusalem, kami merayakan misa secara khusus untuk mendoakan arwah Mgr. Pujasumarta agar damai abadi di surga. Dan dalam homili saya memberi kesempatan kepada para peziarah untuk memyampaikan sharing kesan dan kesaksian tentang sosok Mgr. Pujasumarta.


Pada tanggal 11 November 2015 petang kami baru bisa memasuki kota suci Yerusalem karena sangat ketat pemeriksaan dari pihak keamanan saat masuk negara Israel. Sebelum masuk ke hotel, kami berziarah ke Tembok Ratapan, tempat bagian suci dari Bait Allah Yerusalem yang masih tersisa sampai saat ini dari reruntuhan.


Di situlah saya meratap dan menangis cukup lama atas wafatnya Bapa Uskup yang mentahbiskan saya. Saya menepati janji untuk mendoakan Mgr. Pujasumarta di Yerusalem.


Di Yerusalem itulah saya mendoakan kedamaian arwah seorang gembala umat yang menyapa saya dengan panggilan, Rama John Gun. Intensi doa berubah. Bukan memohonkan kebijaksanaan, kekuatan, kesehatan dan kesembuhan dari sakit. Tetapi saya memohonkan pengampunan dosa dan kedamaian abadi untuk arwah beliau kepada Allah, Sang Sumber dan Tujuan akhir peziarahan hidup manusia. Air mata tak bisa dibendung.


Pada hari Jumat, tanggal 13 November 2015 di Kapel Seminari Tinggi Kentungan diadakan misa requiem untuk Mgr. Pujasumarta yang dipimpin oleh Mgr. Ignatius Suharyo, seorang gembala favorit saya. Pada hari dan tanggal yang sama kami berziarah ke Bukit Zion. Salah satu yang kami kunjungi adalah Ruang Cenacelum (Senakel:  ruang loteng atas), yaitu Ruang Perjamuan Terakhir Yesus dengan para murid-Nya waktu itu. Di situ kisah teks Perjamuan Malam Terakhir (Lukas 22:7-20) dibacakan, lalu saya memimpin doa bersama.


Secara spontan saya mendoakan dan mengenang Mgr. Pujasumarta. Beliau-lah yang sangat berperanan besar merintis adanya Kongres Ekaristi di Keuskupan Agung Semarang tahun 2008.


Di ruang atas (cenacelum) inilah Tuhan Yesus dulu menetapkan Ekaristi, agar tindakan-Nya dikenangkan oleh para murid-Nya dan Gereja sepanjang zaman. Lakukanlah ini untuk Mengenangkan Daku (Luk 22:19). Mgr. Pujasumarta sangat cinta Ekaristi dan Adorasi Ekaristi. Beliau mempunyai passion yang sangat besar akan perjamuan Ekaristi. Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup imamatnya.


Saat menjadi Vikjen KAS, beliau menggagas bersama Mgr. Suharyo dan tim DKP adanya Kongres Ekaristi Keuskupan. Kembali air mataku tak terbendung saat mendoakan beliau di Ruang Atas Yerusalem itu. Dan beberapa peziarah pun ikut menangis selama doa di Ruang Perjamuan Malam Terakhir itu.


Pada akhir sharing ini, saya ingin mengungkapkan bahwa sekarang bukan lagi Mgr. Pujasumarta yang meminta doa, “Rama John Gun, doakan saya yaaa….”, tetapi perkenankan permintaan itu saya balik, “Mgr. John Puja, doakanlah saya dari surga yaaa….”


Bapa Uskup Johannes Pujasumarta, doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini, agar mencintai dan rindu ber-Ekaristi.  Semoga kami, para imam, bisa meneruskan semangat penggembalaan Bapa Uskup yang gemati, ngrengkuh, dan nresnani umat dengan tulus hati sampai mati, taat sampai akhir hayat, sampai akhir hidup kami dengan ketaatan seperti mayat, seperti ungkapan “obedientia sicut cadaver.”


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Yohanes Gunawan Pr

Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang); tengah studi Teologi Spiritual dengan Spesialisasi Formatio Panggilan di Universitas Kepausan Gregoriana Roma; suka menulis dan mencintai Kerahiman Ilahi.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply