Periode Vikariat Apostolik Semarang: Seminari Menengah St. Petrus Canisius in Diaspora (4)

SELAMA Jepang berkuasa di Indonesia, sekolah-sekolah diganti dengan sekolah model Jepang. Para seminaris yang akhirnya pulang ke rumah masing-masing juga mengalami pendidikan model Jepang. Pendidikan seminari kala itu dilaksanakan di pasturan paroki-paroki. Mereka terlibat dalam setiap dinamika yang terjadi di paroki tersebut. Pendampingan para seminaris ini diserahkan kepada para pastor paroki yang berkarya di paroki-paroki […]

SELAMA Jepang berkuasa di Indonesia, sekolah-sekolah diganti dengan sekolah model Jepang. Para seminaris yang akhirnya pulang ke rumah masing-masing juga mengalami pendidikan model Jepang. Pendidikan seminari kala itu dilaksanakan di pasturan paroki-paroki. Mereka terlibat dalam setiap dinamika yang terjadi di paroki tersebut.

Pendampingan para seminaris ini diserahkan kepada para pastor paroki yang berkarya di paroki-paroki tersebut. Seminari dalam diaspora ini berakhir setahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada tahun kemerdekaan Indonesia itu, gedung Seminari Mertoyudan ditempati oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Pada bulan Agustus 1946 sebanyak 49 seminaris disatukan kembali di kompleks Sekolah Guru Ambarawa berkat usaha Romo A. Djajasepoetra, SJ. Mereka diasuh oleh Romo C. Soetapanitra, SJ. Meski Indonesia telah merdeka, namun Belanda masih tetap melancarkan serangan-serangan militer  untuk merebut kembali Indonesia sebagai jajahan Belanda.

Pada bulan September 1947, di Ambarawa terjadi Agresi Militer I  Belanda (Clash I), sementara pada bulan Juli 1947 para seminaris pulang ke rumah masing-masing untuk liburan.

Mereka tidak mungkin kembali ke Ambarawa karena perang.

Para guru dan alat-alat sekolah masih di Ambarawa. Oleh karena itu, sebagian seminaris (kelas Poesis dan Rhetorica) dipindahkan ke Ganjuran di bawah bimbingan Romo J. Darmoyuwono Pr (kelak menjadi Uskup Agung Semarang Justinus Kardinal Darmojuwono Pr) pada bulan September 1947, sementara lainnya (kelas Grammatica dan Syntaxis) dipindahkan ke Muntilan di bawah bimbingan Pater van der Putten SJ pada bulan Oktober 1947.

Pada periode diaspora ini, Seminari St. Petrus Canisius dipimpin oleh Pater Presiden Pater D. Wammes SJ. Mereka disatukan kembali ke Muntilan pada tanggal 21 Juli 1948 di bawah bimbingan Pater van der Putten SJ dan Romo Sandjaja Pr dengan bantuan pihak Bruder C.I.C (sekarang menjadi FIC). Sejak tanggal 17 Juni 1946 hingga 18 Desember 1948, gedung Seminari Mertoyudan digunakan untuk tempat pendidikan Kepolisian Republik Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta terjadi Agresi Militer Belanda II (Clash II). Sehari setelahnya, tanggal 20 Desember 1948, gedung Bruderan FIC dan Seminari di Muntilan hendak dibumihanguskan oleh pasukan Hisbullah dan rakyat agar tidak diduduki oleh Belanda. Namun rater rektor saat itu, Pater van der Putten SJ berhasil mempertahankan gedung seminari dengan berusaha memperoleh surat resmi dari Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa seminari tidak boleh dibakar.

Meski demikian, keberhasilan Pater van der Putten SJ bisa mempertahankan Seminari agar tidak dibakar ini diwarnai dengan peristiwa menyedihkan ketika Romo Sandjaja dan Frater Bouwens SJ dibunuh oleh Laskar Hisbullah pada hari itu juga. Oleh karena keadaan yang begitu kacau, para seminaris dan staf formator pun mengungsi.

Para romo dan murid kelas II-VI mengungsi ke desa Dukun, sementara murid kelas I diungsikan di keluarga-keluarga katolik di Muntilan. Ketika pulang dari pengungsian tanggal 28 Desember 1948, gedung Seminari Muntilan telah rusak parah dan perabotannya pun dijarah. Pada awal tahun 1949, Pater van der Putten SJ memindahkan Seminari ke Jalan Code, Yogyakarta.

Seminari berpindah kembali ke Yogyakarta selama tiga tahun (1949-1952). Ketika keadaan berangsur-angsur pulih kembali, pada bulan Agustus 1952, Vikariat Apostolik Semarang menyelesaikan pembangunan kembali Seminari Mertoyudan yang telah dibumihanguskan selama masa Perang Revolusi Kemerdekaan.

Pada tanggal 8 Desember 1952, Mgr. Albertus Soegijapranata memberkati gedung Seminari Mertoyudan yang telah selesai dibangun kembali. Lima tahun kemudian, dibangun kembali gedung tambahan untuk seminaris Medan Pratama dan Medan Utama.

Sejak tahun 1952 inilah, Seminari Yogyakarta berpindah ke Seminari Mertoyudan kembali.

Photo credit: Buku Kenangan 100 Tahun Seminari Mertoyudan

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply