Periode Vikariat Apostolik Semarang: Seminari Menengah St. Petrus Canisius di Mertoyudan (3)

TANGGAL 13 Januari 1941 merupakan hari pertama dimulainya pendidikan Seminari Menengah St. Petrus Canisius di Mertoyudan, setelah sebelumnya mengambil lokasi di Yogyakarta.

Pada tahun itu, suasana Indonesia mencekam karena terlibat dalam Perang Asia Timur Raya akibat ekspansi Jepang. Pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang mendarat di Pulau Jawa. Perang mulai melanda Indonesia.

Selang sepekan kedatangannya di Pulau Jawa, Jepang berhasil menaklukkan tentara Hindia Belanda.  Asia Raya berada di bawah kekuasaan Jepang.

Kemenangan Jepang atas Hindia Belanda ini berdampak pula bagi Seminari Menengah Mertoyudan. Semua sekolah yang menggunakan bahasa Belanda ditutup.

Puncak dari kepedihan akibat perang ini adalah ketika Seminari Mertoyudan dinyatakan ditutup pada tanggal 5 April 1942, tepat saat Hari Raya Paska.

Selanjutnya, gedung Seminari Mertoyudan diduduki Jepang dan digunakan untuk Sekolah Pertanian Nogako. Dengan demikian, para seminaris terpaksa pulang ke rumah masing-masing. Meski demikian, pendidikan calon imam tetap berlangsung dengan mengambil tempat di pasturan paroki seminaris masing-masing seperti: Boro, Yogyakarta, Ganjuran, Muntilan, Girisonta, Ungaran, Semarang, dan Solo.

Di tempat-tempat itu, pendidikan seminari dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi. Keadaan ini berlangsung hingga tahun 1945 ketika Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Saat-saat itulah pendidikan seminari sering disebut sebagai pendidikan seminari dalam diaspora (in diaspora).

(Bersambung)

Photo credit: Buku Kenangan Pesta 100 Tahun Seminari Mertoyudan

Artikel terkait:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply